15 hours ago
7 mins read

Pupuk dan Benalu: Dua US$1 Juta

Ilustrasi (Foto: Laksamana Sukardi)

Angkanya Sama. Masa Depannya Berbeda.

JAKARTA – Pada akhir Bagian I saya meninggalkan sebuah pertanyaan. Bayangkan dua tokoh alegoris: Pupuk dan Benalu. Setelah sepuluh tahun, keduanya sama-sama mempunyai kekayaan US$1 juta. Dalam rekening bank, nilainya sama.

Tetapi: Apakah US$1 juta Pupuk dan US$1 juta Benalu mempunyai arti yang sama bagi perekonomian?

Untuk menjawabnya, kita harus melihat bagaimana keduanya memperoleh uang tersebut. Karena uang tidak hanya mempunyai jumlah. Uang juga mempunyai jejak. Dan dari jejak itulah kita dapat melihat masa depan seperti apa yang sedang dibangun.

Perjalanan Pupuk

Sepuluh tahun sebelumnya, Pupuk memulai sebuah usaha kecil. Ia menyewa tempat, membeli beberapa mesin, mempekerjakan lima orang, lalu mencari pelanggan.

Tahun pertama buruk. Produknya terlalu mahal. Kualitasnya biasa. Pesaing menjual barang yang lebih baik. Beberapa pelanggan pergi.

Pupuk mempunyai dua pilihan. Mencari jalan pintas. Atau memperbaiki dirinya. Ia memilih menjadi lebih baik.  Ia mengganti mesin, mempelajari teknologi baru, melatih pekerjanya, memperbaiki produk, menekan biaya, dan mendengarkan keluhan pelanggan.

Lalu mencoba lagi.

Sedikit demi sedikit usahanya berkembang. Lima pekerja menjadi dua puluh. Dua puluh menjadi lima puluh. Pemasok lokal mulai memperoleh pesanan. Pekerja memperoleh keterampilan baru. Bank mulai mempercayainya. Perusahaan membayar pajak lebih besar. Sebagian keuntungan tidak dibawa pulang. Ditanamkan kembali.

Mesin baru dibeli. Pekerja kembali dilatih. Produktivitas meningkat. Produknya semakin mampu bersaing dengan barang impor. Kemudian sebagian mulai diekspor. Devisa yang sebelumnya keluar dapat dihemat. Devisa baru mulai masuk. Setelah sepuluh tahun, Pupuk berhasil mengumpulkan kekayaan: US$1 juta.

Tetapi jangan hanya melihat US$1 jutanya.

Lihatlah apa yang tertinggal di belakangnya. Ada perusahaan yang sebelumnya tidak ada. Ada pekerjaan baru. Ada pekerja yang lebih terampil. Ada pemasok yang berkembang. Ada mesin. Ada teknologi. Ada pelanggan. Ada pajak. Ada kemampuan ekspor. Dan ada sebuah organisasi yang sekarang mampu menghasilkan lebih banyak daripada sepuluh tahun sebelumnya.

 US$1 juta Pupuk bukan sekadar uang. Ia adalah hasil dari sebuah proses yang sekaligus membangun kemampuan. Pupuk menjadi kaya.

Tetapi dalam proses menjadi kaya, orang lain ikut menjadi lebih produktif. Itulah ekonomi produktif.

Sekarang Kita Ikuti Benalu

Benalu tidak mempunyai pabrik. Ia tidak menciptakan produk. Tidak mengembangkan teknologi. Tidak mempunyai laboratorium.

Tetapi Benalu mempunyai aset yang sangat berharga dalam ekosistem yang salah: akses.
Ia tahu siapa yang harus ditelepon. Siapa yang mempunyai kewenangan. Pintu mana yang harus diketuk.

Tetapi akses saja belum cukup menjelaskan kekuatan Benalu. Akses menjadi sangat bernilai ketika bertemu dengan kolusi. Ada kepentingan bisnis. Ada pejabat yang mempunyai kewenangan. Ada Benalu yang menghubungkan. Dan ada rente yang dapat diciptakan dan dibagi bersama.

Suatu pagi Benalu datang menemui seorang pejabat. Ia membawa pesan dari seseorang yang kita sebut saja: Big Boss.

“Barang ini yang kita pakai.” Pejabat itu mengerti.

Barang tersebut akan diimpor. Kualitasnya sebenarnya biasa-biasa saja. Harganya mahal. Produsen dalam negeri mungkin mampu menghasilkan barang serupa dengan harga dan kualitas yang kompetitif.

Tetapi mereka tidak mempunyai sesuatu yang dimiliki Benalu: jaringan.

Spesifikasi disusun. Dokumen lengkap. Rapat dilakukan. Proses administratif berjalan. Dari luar semuanya terlihat normal. Tetapi dalam cerita kita, keputusan substantif telah dibuat. Barang impor dibeli. Benalu memperoleh bagian. Pihak-pihak dalam jaringan memperoleh bagiannya masing-masing.

Setelah transaksi semacam itu berlangsung berulang kali, Benalu pun mengumpulkan: US$1 juta.

Angkanya sama dengan Pupuk. Jejaknya tidak. Harga Sebenarnya dari US$1 Juta Benalu

Barang tadi dibeli dari luar negeri. Devisa keluar. Produsen domestik kehilangan pasar. Sebuah perusahaan lokal yang sebelumnya mempertimbangkan memperluas pabrik menghitung ulang rencananya.

Untuk apa membeli mesin? Untuk apa merekrut insinyur? Untuk apa mengembangkan produk? Kalau yang menentukan kemenangan bukan kualitas dan harga, tetapi siapa yang mempunyai akses?

Investasi dibatalkan. Mesin tidak jadi dibeli. Insinyur tidak direkrut. Pekerja baru tidak dibutuhkan. Pemasok lokal kehilangan calon pesanan. Teknologi yang seharusnya dikembangkan tidak pernah lahir. Tidak ada berita mengenai semua itu.

Karena: pekerjaan yang tidak pernah tercipta tidak masuk statistik PHK.
Konsumen pun membayar. Mereka memperoleh barang berkualitas biasa dengan harga lebih mahal. Negara atau perusahaan membayar lebih besar daripada yang seharusnya. Selisih itulah yang menyediakan ruang bagi rente. Benalu memperoleh US$1 juta.

Tetapi ekonomi dapat kehilangan jauh lebih besar daripada US$1 juta untuk membuat kekayaan itu tercipta.

Yang Tidak Masuk Koper Barang Bukti

Kalau Benalu tertangkap, penyidik mungkin menemukan uang. Rekening. Rumah. Mobil. Emas. Semua dapat dihitung.

Tetapi bagaimana kita menghitung sebuah pabrik yang tidak pernah dibangun? Pekerjaan yang tidak pernah tercipta?Teknologi yang tidak pernah dikembangkan? Perusahaan yang seharusnya menjadi besar tetapi menyerah karena kompetisi tidak lagi adil?

Itulah biaya peluang (opportunity cost) dari korupsi. Korupsi tidak hanya mengambil kekayaan yang sudah ada. Korupsi mengambil sebagian kekayaan yang seharusnya dapat kita ciptakan.

Pupuk Menciptakan. Benalu Mengekstraksi.

Sekarang perbedaannya menjadi lebih jelas. Pupuk memperoleh kekayaan dengan memperbaiki produk. Benalu memperolehnya dengan mengatur akses. Pupuk harus mengalahkan pesaing. Benalu membutuhkan jaringan yang dapat mengondisikan keputusan.

Pupuk menurunkan biaya. Benalu menambahkan biaya.Pupuk menciptakan pekerjaan. Benalu memperoleh rente dari transaksi yang tidak harus menciptakan pekerjaan domestik. Pupuk membangun kemampuan produksi. Benalu dapat membuat pembangunan kapasitas produksi menjadi tidak menarik. Pupuk membantu menghemat atau menghasilkan devisa.

Benalu, dalam contoh kita, mendorong devisa keluar melalui impor yang tidak lahir dari kompetisi yang sehat.

Pupuk membuat perusahaan lain berpikir: “Kita harus menjadi lebih baik.”
Benalu membuat mereka berpikir: “Kita harus mengenal orang yang tepat.”

Yang satu menciptakan nilai. Yang lain mengekstraksi nilai.
Yang satu memperbesar kolam. Yang lain mengambil dari kolam.

Dua Lingkaran yang Berlawanan

Tetapi pengaruh keduanya tidak berhenti pada US$1 juta. Keuntungan Pupuk ditanamkan kembali. Produktivitas meningkat. Teknologi berkembang. Kemampuan produksi bertambah.

Terbentuk lingkaran: Produktivitas → keuntungan → investasi → teknologi → produktivitas yang lebih tinggi.

Benalu juga menciptakan lingkaran. Rente menghasilkan kekayaan. Kekayaan memperkuat jaringan. Jaringan memperbesar akses.

Akses menciptakan rente berikutnya: Akses → kolusi → rente → kekayaan → akses yang lebih kuat.

Keduanya sama-sama dapat tumbuh. Tetapi yang mereka perbesar berbeda. Pupuk memperbesar kemampuan produktif. Benalu memperbesar kemampuan ekstraktif. Yang satu menghasilkan energi produktif (productive energy). Yang lain menghasilkan energi destruktif (destructive energy).

Di sinilah keterbatasan PDB terlihat.  PDB dapat mencatat transaksi keduanya.
Tetapi PDB tidak dengan sendirinya menjelaskan bagaimana kemampuan ekonomi berubah setelah transaksi terjadi.

Kalau meminjam bahasa fisika: besarannya dapat sama, tetapi arahnya berlawanan.

Ketika Pupuk Bertemu Benalu

Sejauh ini Pupuk dan Benalu berjalan di jalur berbeda. Tetapi suatu hari jalan mereka bertemu. Perusahaan Pupuk semakin besar. Produknya semakin baik.Harganya kompetitif.

Ia mulai mampu menggantikan barang impor yang selama ini menjadi sumber rente jaringan Benalu. Secara ekonomi, ini kabar baik. Produksi domestik meningkat. Lapangan kerja bertambah. Devisa dihemat. Teknologi berkembang. Pajak bertambah.

Tetapi bagi Benalu, keberhasilan Pupuk mempunyai arti lain. Kalau produk Pupuk digunakan, impor berkurang. Kalau impor berkurang, rente ikut berkurang.

Pupuk tidak lagi sekadar pesaing. Pupuk menjadi ancaman terhadap ekosistem rente. Benalu tidak perlu membuat produk yang lebih baik. Tidak perlu menurunkan harga. Tidak perlu berinovasi.

Dalam skenario alegoris kita, bayangkan jaringannya dapat memengaruhi izin, pengadaan, pembiayaan, bahkan penegakan hukum.

Tiba-tiba perusahaan Pupuk menghadapi masalah. Izin yang sebelumnya tidak bermasalah mulai dipersoalkan. Kontrak tertunda. Pemeriksaan datang. Bank mulai khawatir. Kemudian muncul persoalan hukum.

Dalam negara hukum, setiap dugaan pelanggaran tentu harus diperiksa berdasarkan bukti dan proses yang adil. Tetapi bayangkan apabila instrumen hukum sendiri telah masuk ke dalam jaringan kolutif.

Benalu tidak perlu mengalahkan Pupuk dalam kompetisi. Ia cukup membuat Pupuk tidak dapat bertanding. Membunuh Ayam yang Bertelur Emas. Akibatnya berantai.

Bank memperketat kredit. Pemasok meminta pembayaran lebih cepat. Pelanggan mencari alternatif. Investasi dibatalkan. Pekerja dirumahkan. Insinyur terbaik pergi. Mesin berhenti. Perusahaan yang dibangun bertahun-tahun perlahan kehilangan kemampuan hidupnya.

Akhirnya Pupuk kalah. Benalu menang.  Barang kembali diimpor. Transaksi kembali berjalan. Rente kembali dibagi. PDB bahkan masih dapat mencatat aktivitas.

Tetapi sebuah perusahaan produktif telah mati. Pekerjaan hilang. Teknologi hilang. Pengetahuan organisasi hilang. Pemasok kehilangan pasar. Pajak masa depan hilang. Devisa kembali keluar. Benalu tidak hanya mengambil telur emas. Benalu membunuh ayam yang bertelur emas.

Di sinilah ekonomi koruptif mencapai bentuk yang paling destruktif. Ia tidak lagi hanya gagal menciptakan kemampuan baru. Ia mulai menghancurkan kemampuan produktif yang sudah ada.

Antitesis Schumpeter

Ekonom Joseph Schumpeter terkenal dengan gagasan penghancuran kreatif (creative destruction). Dalam ekonomi yang dinamis, inovasi baru menggantikan teknologi, perusahaan, dan cara produksi lama yang kurang efisien. Yang kurang produktif digantikan oleh yang lebih produktif.

Ilustrasi konsep creative destruction Joseph Schumpeter (Foto: sandiegomacncheese/ Total Politik)

Dari penghancuran itu lahir kemampuan baru. Dalam ekosistem koruptif, prosesnya dapat terbalik. Yang produktif justru disingkirkan karena mengganggu rente. Yang efisien dikalahkan oleh yang mempunyai akses. Yang inovatif dikalahkan oleh yang mempunyai jaringan. Yang menciptakan nilai disingkirkan oleh yang menguasai pembagian nilai.

Ini adalah antitesis Schumpeter. Bukan penghancuran kreatif. Melainkan apa yang dapat kita sebut: penghancuran produktif (productive destruction). Yang dihancurkan justru sumber produktivitasnya.

Roller Coaster Tanpa Sabuk Pengaman

Yang membuat keadaan ini semakin berbahaya adalah ekonomi koruptif tidak selalu terlihat seperti ekonomi yang sedang runtuh. Proyek tetap berjalan. Barang tetap dibeli. Properti tetap terjual. Restoran tetap penuh. Uang tetap berputar. PDB tetap dapat tumbuh.

Dari luar semuanya terlihat hidup. Tetapi di bawah permukaan, kapasitas baru tidak cukup dibangun, kapasitas lama dapat terkikis, talenta bergerak menuju rente, dan institusi kehilangan kredibilitas.

Sekarang bayangkan ekonomi seperti itu bergerak semakin cepat. Anggaran semakin besar. Proyek semakin banyak. Konsesi semakin bernilai. Pengadaan semakin masif.

Dalam ekonomi produktif, pertumbuhan memperbesar kemampuan. Dalam ekonomi koruptif, pertumbuhan juga dapat memperbesar rente yang diperebutkan.

Di sinilah metafora roller coaster tanpa sabuk pengaman menjadi relevan.

Kereta melaju semakin cepat. Penumpang mungkin bersorak melihat angka pertumbuhan. Tetapi bagaimana relnya? Bagaimana remnya? Bagaimana pengawasannya? Dalam sebuah negara, semua itu bernama: institusi.

Jika institusinya rapuh, kompetisinya rusak, dan jaringan rente semakin kuat, kecepatan tidak selalu membawa kita lebih cepat menuju kemakmuran. Ia dapat mempercepat kerusakan.

Karena itu pertanyaan yang seharusnya kita ajukan bukan hanya: “Seberapa cepat kita melaju?” Tetapi: “Kita sedang menuju ke mana?”

Pertumbuhan yang Memakan Masa Depannya Sendiri

Sekarang kita dapat menjawab pertanyaan di awal tulisan. US$1 juta Pupuk dan US$1 juta Benalu memang mempunyai angka yang sama. Tetapi makna ekonominya berbeda.

US$1 juta Pupuk lahir bersama pekerjaan, keterampilan, teknologi, pajak, produksi, dan kemampuan menghasilkan nilai berikutnya.

US$1 juta Benalu dapat lahir bersama biaya yang lebih tinggi, rente, impor yang tidak kompetitif, investasi yang tidak terjadi, pekerjaan yang tidak tercipta, dan kompetisi yang rusak.

Yang satu memperbesar kemampuan. Yang lain dapat menggerogotinya. Dan ketika Benalu mampu menyingkirkan Pupuk, kerusakannya menjadi lebih besar lagi. Karena yang mati bukan hanya sebuah perusahaan. Yang mati adalah mesin pencipta nilai.

Bayangkan jika hal itu tidak terjadi kepada satu Pupuk. Tetapi seratus. Seribu. Puluhan ribu.
Berapa banyak pabrik yang tidak pernah lahir? Berapa banyak pekerjaan yang tidak pernah tercipta? Berapa banyak teknologi yang tidak pernah ditemukan? Berapa banyak pengusaha yang akhirnya menyerah? Dan berapa banyak anak muda yang akhirnya belajar bahwa menjadi Benalu lebih menguntungkan daripada menjadi Pupuk?

Sebuah bangsa tidak kehilangan masa depannya hanya ketika uangnya habis. Sebuah bangsa kehilangan masa depan ketika kemampuannya untuk menciptakan nilai ikut dihancurkan. Itulah bahaya pertumbuhan yang memiliki energi destruktif.

Sebuah Pertanyaan Berikutnya

Tetapi masih ada satu pertanyaan. Bagaimana kalau Benalu tidak hanya satu? Bagaimana kalau mereka menjadi jaringan, menguasai akses, dan rente terus berputar pada kelompok yang sama?

Dia lagi. Dia lagi.

Apa yang kemudian terjadi pada distribusi kekayaan? Pada kelas menengah? Pada kemiskinan? Pada kesempatan untuk naik kelas? Dan pada stabilitas sosial sebuah bangsa?

Jawabannya ada pada bagian berikutnya.

Bersambung:
Bagian III – Ketika Benalu Menguasai Pohon
Rente, Ketimpangan, dan Mengapa Indonesia Sulit Naik Kelas.

Laksamana Sukardi. Politisi dan Ekonom.

Pengalaman Pengguna Game Penghasil Saldo DANA Lebih Cepat Adaptif Dan Efisien Dibawa Oleh Inovasi Teknologi
Pergeseran Mutu Produksi Kosmetik Terdeteksi Lebih Akurat Berkat Aliran Data Langsung
Pengalaman Pengguna Semakin Responsif Adaptif Dan Efisien Berkat Perkembangan Teknologi Modern
Momentum Tetap Terarah Dan Terkendali Dipertahankan Melalui Taktik Mode Pemburu Sic Bo Live
Keputusan Tetap Terukur Dalam Game Online Dipertahankan Melalui Pengelolaan Modal Cerdas
Kapitalisasi Pasar Dan Inovasi Kasino Online Berubah Di Tengah Disrupsi Teknologi Modern
Strategi Baru Untuk Meningkatkan Keunggulan Kompetitif Dibuka Melalui Business Model Canvas Mahjong Ways
Kualitas Sistem Mahjongways Kasino Online Dipahami Melalui Identifikasi Nilai Pembayaran Game Penghasil Saldo DANA
Perspektif Baru Dalam Menganalisis Perkembangan Mahjong Ways Dibuka Melalui Modernisasi Strategi
Kasino Menjadi Studi Sistem Informasi Bagi Mahasiswa Melalui Pelatihan Enterprise Architecture
Mahjongways Kasino Online Dijadikan Acuan Strategi Marketing dalam Lingkungan Pemerintahan
Keamanan Informasi Jadi Fondasi Utama Layanan Konsultasi Kosmetik Berbasis Teknologi
Teknologi Pemantauan Membantu Mengukur Frekuensi Pembayaran secara Lebih Objektif dan Terukur
Kajian Statistik Pola RTP Menyoroti Perkembangan Teknologi Neural Sintetis Regulatoris
Simulasi Statistik Membuka Pendekatan Baru Memahami Mahjong Game Sungai Penuh secara Terukur
Statistik Objektif Membantu Membaca Pola Mahjong Game Sungai Penuh dengan Lebih Rasional
Strategi Mahjong Game Sungai Penuh Makin Terarah melalui Pendekatan Statistik Modern
Pendekatan Data Objektif Membantu Mengkaji Mahjong Game Saldo DANA Sungai Penuh secara Lebih Terstruktur
Mahjong Game Sungai Penuh Dikaji lewat Simulasi Statistik untuk Membaca Pola Aktivitas
Aturan Mahjong Digital dari Dua Kartu Awal hingga Penentuan Rentang Nilai Game Penghasil Saldo DANA
Pendekatan Adaptif MahjongWays Kasino Online Membantu Menjaga Keseimbangan Anggaran Hiburan
Kemunculan Simbol Unik MahjongWays Kasino Online Perlu Dibaca Secara Lebih Rasional
Mahjong Ways Menarik Minat Pemain di Tengah Ketatnya Persaingan Game Digital
Pengaturan Tempo MahjongWays Kasino Online Tidak Menentukan Munculnya Kombinasi Khusus
Starlight Princess Kembali Merebut Perhatian Pemain MBG Berkat Daya Tariknya
Membaca Pola Mahjong Ways dan Tren Permainan Lewat Data Saldo DANA Terbaru
Disiplin Mental MahjongWays Kasino Online Membantu Mencegah Keputusan Finansial yang Terlalu Impulsif
Mengenal Sweet Bonanza sebagai Game Digital Online dengan Tema Manis yang Menarik
Rotasi Awal MahjongWays Kasino Online Bukan Tolok Ukur Kemurahan Sistem Permainan
Menelusuri Strategi Terbaik dalam Bermain Game Penghasil Saldo DANA Secara Lebih Mendalam
Go toTop

Jangan Lewatkan

IKLIM BISNIS MEMBURUK, PASAR GLOBAL MENJAUH

JAKARTA – The Economist edisi terbaru menerbitkan dua laporan tentang

Ketika Korupsi Menjadi Ekosistem

Ketika Makelar Lebih Berkuasa daripada Institusi: Sebuah Peringatan kepada Elite
toto slot situs togel situs togel
toto slot
slot88