BELGRADE – Mantan Presiden Serbia Aleksandar Vucic resmi tersingkirkan dari jabatan karena gerakan anak muda. Negara di Semenanjung Balkan itu kini memasuki era politik baru.
Vucic mengakui kekalahan dalam pemilihan umum sela, Minggu (25/10/2026). Kekalahan ini menuntaskan kekuasaan Vucic sebagai perdana menteri dan presiden sejak 2014. Pemilu ini berlangsung dua tahun selepas mahasiswa menggelar unjuk rasa antipemerintah sejak akhir 2024.
Lembaga survei dan komisi pemilihan memperkirakan, jumlah pemilih mendekati 70 persen, tertinggi sejak pecahnya Yugoslavia pada 1992. Antrean panjang mengular dari tempat pemungutan suara di kota-kota di seluruh negeri pada pagi hari.
Bahkan, Vucic menunggu hampir dua jam untuk memberikan suara di Belgrade. ”Berdasarkan sampel bertingkat, jelas bahwa kami telah kalah dalam pemilihan ini. Gerakan Daftar Mahasiswa (Students’ List) telah menang,” kata Vucic yang mencalonkan diri sebagai PM.

Vucic mengatakan, hasil sementara menunjukkan mahasiswa akan memiliki antara 135 hingga 140 dari 250 kursi parlemen. Dengan demikian, mahasiswa akan mendapat mayoritas mutlak. Sementara itu, Partai Progresif Serbia (SNS) pimpinan Vucic hanya akan meraih 105 kursi.
Juni lalu, Vucic mengundurkan diri sebagai presiden. Seharusnya, masa jabatannya baru berakhir pertengah 2027. Sebagai sosok kuat dalam politik Serbia, banyak orang sempat yakin dia akan bertahan ketika mencalonkan diri ulang sebagai PM.

Pengumuman Vucic disambut hangat di Belgrade. Puluhan ribu orang memadati jalan-jalan utama kota sambil menari. Mahasiswa meneriakkan ”kemenangan” atau ”dia sudah selesai”. Sementara mobil-mobil membunyikan klakson.
”Serbia tersayang, malam ini suara rakyat didengar. Malam ini kita merayakan kemenangan, besok kita membangun masa depan,” kata Radomir Sajcic, profesor di Universitas Belgrade yang berbicara atas nama para mahasiswa di markas mereka.
Para pemimpin dan pejabat Eropa mengucapkan selamat kepada Daftar Mahasiswa. Pemberi selamat termasuk Presiden Komisi Eropa Ursula von der Leyen, Komisioner Uni Eropa untuk Perluasan Marta Kos, dan Perdana Menteri Hungaria Peter Magyar. ”Kami siap bekerja sama untuk memajukan masa depan Serbia di Uni Eropa,” tulis von der Leyen di X.
Otoriter Tua Tumbang oleh Demokrasi Anak Muda
Kekalahan Vucic menandai pergeseran politik yang signifikan di negara berpenduduk sekitar 6 juta jiwa itu. Serbia akan berada di kepemimpinan orang baru yang mayoritas berasal dari kaum muda.
”Rakyat telah menang! Rakyat mengalahkan seorang diktator! Rakyat akan memimpin Serbia!” kata Nebojsa Cosic, salah satu orang dari gerakan itu sambil melambaikan bendera di jalan.

Vucic mulai terkenal pada tahun 1990-an sebagai sekutu Presiden Serbia Slobodan Milosevic yang ultranasionalis. Ia menjadi menteri informasi pada 1998.
Setelah protes yang menggulingkan penguasa Yugoslavia tahun 2000, Vucic menjadi tokoh senior di Partai Radikal Serbia (SRS) dari sayap kanan. Vucic kemudian menjadi pendukung para pemimpin politik dan militer Serbia Bosnia, yakni Radovan Karadzic dan Ratko Mladic. Kedua orang itu dihukum seumur hidup karena genosida dan kejahatan lain selama perang Bosnia.
Vucic selanjutnya mengalami perubahan citra yang dramatis pada 2008. Dia ikut mendirikan SNS yang konservatif dan pro-Eropa. Partai ini memenangi pemilihan parlemen pada 2012 mulai mendominasi politik Serbia sampai sebelum pemilu 2026.
Vucic menjabat sebagai wakil PM, menteri pertahanan, dan PM sebelum menjadi presiden pada 2017. Namun, ia tidak pernah menghapus citranya sebagai nasionalis dan sekutu sayap kanan.
Pamor Vucic di negara itu anjlok menyusul kematian 16 orang akibat runtuhnya atap stasiun kereta api di Kota Novi Sad pada November 2024. Anak muda Serbia lantas menggelar gelombang unjuk rasa.
Bagi mereka, insiden tersebut adalah dampak dari korupsi dan otoritarianisme. Apalagi, para lawan politik melihat Vucic menjadi semakin otoriter serta terjerat di antara Kremlin dan Brussels.
Vucic dan SNS berulang kali membantah tuduhan korupsi serta penindasan terhadap pengunjuk rasa. Dia menuduh para mahasiswa adalah antek asing yang mendapat dana dari agen asing di Kroasia dan Montenegro. Tuduhan ini dibantah para mahasiswa.

Perkembangan politik terbaru di Serbia turut menawarkan preseden baru bagi gerakan anak muda lainnya yang sedang berlangsung di seluruh Eropa. Pelajar, mahasiswa, dan orang muda di Perancis, Italia, Yunani, Spanyol, dan negara lainnya selama beberapa pekan terakhir unjuk rasa. Mereka menuntut pemerintah memperbaiki sistem pendidikan, biaya hidup, dan krisis perumahan.
Sumber:
Annabel Grossman, “Tears of joy on the streets of Belgrade as student-led movement ends 12 years of Vucic rule in Serbia“, The Independent, 26 Oktober 2026. https://www.independent.co.uk/news/world/europe/belgrade-serbia-elections-end-vucic-b3073277.html
Jana Simovic & Anna Lubowicka, “After Vucic defeat, Serbia waits to learn how student-backed leaders will govern“, Reuters, 26 Oktober 2026. https://www.reuters.com/world/after-vucic-defeat-serbia-waits-see-how-student-backed-leaders-will-govern-2026-10-26/
Mina Pejakovic, “Serbian student movement eyes power after resounding snap poll victory”, AFP, 26 Oktober 2026. https://www.yahoo.com/news/politics/articles/serbia-votes-ruling-party-facing-063533674.html?fr=sycsrp_catchall
