WASHINGTON – Militer Amerika Serikat (AS) dilaporkan telah menyusun sejumlah opsi untuk melancarkan serangan baru terhadap Iran. Laporan media berbasis di Washington, The Hill, rencana itu membuka kemungkinan terjadinya kembali pertempuran besar dalam konflik yang kini memasuki bulan kedelapan.
Komando Pusat Amerika Serikat (US Central Command/CENTCOM), yang mengawasi pasukan AS di kawasan Timur Tengah, telah menyiapkan rencana serangan lanjutan jika mendapat persetujuan Gedung Putih, menurut laporan tersebut. Para perencana militer juga telah menyiapkan beberapa opsi untuk Menteri Pertahanan Pete Hegseth.
Laporan itu menyoroti kemungkinan serangan setelah pemilihan paruh waktu/ sela (midterm election) Amerika Serikat pada 3 November 2026. Namun, Presiden Donald Trump pada Sabtu mengisyaratkan bahwa serangan dapat dilakukan secepat “besok”, sembari tetap membuka peluang tercapainya kesepakatan besar dengan Teheran.
Bagaimana respons Iran?
Sementara itu, Presiden Iran Masoud Pezeshkian menuduh Washington menggagalkan perundingan. Meski demikian, ia mengatakan upaya untuk mencapai kesepakatan harus terus dilanjutkan. Dengan kedua pihak sama-sama memperingatkan kemungkinan serangan lanjutan, muncul pertanyaan apakah konflik tersebut akan kembali berkembang menjadi perang skala penuh.
“Kami sedang melakukan perundingan, tetapi para pengecut itu, yakni Amerika, merusak semuanya,” kata Pezeshkian dalam pernyataan yang disiarkan pada Sabtu (24/10/2026). Ia kemudian menegaskan bahwa upaya untuk mencapai kesepakatan harus tetap dilanjutkan.
Teheran menggabungkan seruan untuk melanjutkan perundingan dengan peringatan bahwa serangan baru AS akan memicu respons yang lebih luas.
Ketua parlemen Iran sekaligus kepala negosiator, Mohammad Bagher Ghalibaf, juga dipastikan tidak menghadiri Forum Parlemen BRICS ke-12 di New Delhi. Kedutaan Besar Iran di India menyebut “keadaan yang tidak terduga” sebagai alasan ketidakhadiran tersebut tanpa memberikan penjelasan lebih lanjut.
Pada Minggu (25/10/2026), Angkatan Darat Iran menyatakan telah menembak jatuh sebuah drone LUCAS buatan AS di dekat kota pelabuhan Bandar Abbas di wilayah selatan negara itu. Pernyataan tersebut dilaporkan kantor berita semi-resmi Tasnim. Kantor berita Reuters juga melaporkan, dengan mengutip pejabat keamanan Iran, bahwa Teheran telah menyusun rencana untuk menargetkan kabel komunikasi bawah laut di kawasan Teluk jika serangan AS dan Israel kembali dilanjutkan.

Insiden tersebut menyusul klaim Iran bahwa tujuh kapal tanker minyak terbakar atau mengalami kerusakan di dalam dan sekitar Selat Hormuz pada awal pekan ini. Pada Rabu, Iran juga mengumumkan perubahan doktrin militernya menuju pendekatan yang disebut lebih “ofensif”. Teheran memperingatkan bahwa negara-negara yang menampung pangkalan militer yang digunakan dalam serangan AS dapat menjadi sasaran.
“Doktrin pertahanan kami sebelumnya bersifat defensif. Dahulu, kami mengatakan bahwa jika suatu negara menyerang kami, kami akan membalas. Sekarang, kami mengatakan bahwa jika suatu negara menyerang kami, kami tidak hanya akan membalas, tetapi juga melancarkan serangan ofensif,” kata juru bicara militer Iran, Hossein Mohebi.
Peringatan itu mengindikasikan potensi meluasnya konfrontasi di kawasan, termasuk terhadap infrastruktur energi dan negara-negara yang bersekutu dengan Washington.
“Iran juga sedang menyusun daftar sasaran yang mencakup infrastruktur energi dan negara-negara yang berpihak kepada AS,” kata Norman.
“Kedua pihak tampaknya benar-benar mempersiapkan diri untuk menghadapi eskalasi berikutnya dan menunjukkan kesiapan tersebut satu sama lain.”, lanjut Norman, “Pada saat yang sama, risiko salah perhitungan dari salah satu pihak sangat tinggi, demikian pula risiko eskalasi yang berlangsung cepat.”
Oktober disebut menjadi bulan dengan serangan terhadap kapal terbanyak sejak perang dimulai pada Februari, dengan lebih dari 120 serangan dilaporkan hingga saat ini.

Apa saja rencana serangan AS?
Awal bulan ini, Axios melaporkan bahwa Pentagon telah menginstruksikan CENTCOM untuk menuntaskan persiapan menghadapi kemungkinan dimulainya kembali operasi tempur berskala besar. Menurut sumber-sumber yang dikutip media tersebut, kampanye militer baru dapat menyasar fasilitas energi, infrastruktur, dan instalasi nuklir Iran.
Persiapan tersebut tidak berarti perintah serangan telah dikeluarkan. Keputusan akhir tetap berada di tangan Trump, yang pernyataan publiknya masih membuka ruang bagi aksi militer maupun perundingan.
Pada Rabu, The New York Times juga melaporkan bahwa AS dan Israel telah menyusun rencana serangan bersama terhadap Iran setelah pemilihan paruh waktu. Laporan-laporan tersebut muncul bersamaan dengan peringatan Washington mengenai dugaan ancaman Iran terhadap personel Amerika di luar negeri.
Dalam memo intelijen yang dikirim pada Jumat, Direktur Intelijen Nasional Jay Clayton memberi tahu Menteri Luar Negeri Marco Rubio bahwa Iran telah “secara signifikan meningkatkan upaya untuk menargetkan personel AS”. Memo itu menyebut sejumlah rencana serangan mematikan telah mencapai “tahap lanjut” di Timur Tengah dan kawasan lainnya.
Departemen Luar Negeri AS telah memerintahkan pengurangan personel di sejumlah kedutaan di kawasan tersebut menyusul peringatan itu. Namun, memo yang informasinya dilaporkan ke publik tersebut tidak menyebutkan sasaran tertentu ataupun memastikan kapan dugaan serangan itu mungkin terjadi.
Trump menambah ketidakpastian tersebut. Dalam kampanye pada Jumat, ia mengatakan Washington “mungkin akan melakukan sedikit lagi Operasi Epic Fury”, merujuk pada nama sandi operasi militer AS-Israel terhadap Iran yang dimulai pada 28 Februari 2026.
Pada Sabtu (25/10/2026), Trump menolak mengungkapkan waktu serangan yang mungkin dilakukan, tetapi menyatakan aksi militer dapat berlangsung paling cepat pada Minggu.
Julie Norman, associate fellow di Chatham House, mengatakan kepada Al Jazeera bahwa persiapan tersebut berfungsi sebagai langkah demonstrasi kekuatan dan pencegahan dalam jangka pendek, sekaligus menjadi opsi militer nyata untuk bulan berikutnya.
“Dalam kasus Trump, saya kira ia selalu mempertahankan berbagai opsi tetap terbuka. Namun, penyusunan rencana kali ini merupakan demonstrasi kekuatan untuk mencegah lawan dalam waktu dekat, sekaligus opsi yang sangat nyata setelah pemilihan paruh waktu,” kata Norman.
Di tengah perkembangan tersebut, AS juga dilaporkan mengerahkan kelompok tempur kapal induk ketiga, USS Theodore Roosevelt, ke kawasan Timur Tengah, bersama sekitar 10.000 personel tambahan dan Satuan Ekspedisi Marinir ke-13 (13th Marine Expeditionary Unit) hingga akhir November.
Apakah serangan baru menguntungkan Trump?
Waktu pelaksanaan serangan menjadi persoalan sensitif secara politik. Trump menghadapi tekanan untuk menghindari eskalasi baru menjelang pemilihan paruh waktu AS, sementara Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu dilaporkan mendorong serangan terhadap Iran di tengah penurunan dukungan politik menjelang pemilihan pada Selasa.
Netanyahu sebelumnya mengatakan bahwa penggulingan pemerintahan Iran tetap menjadi “tujuan utama” Israel.
Mohamad Elmasry, profesor di Doha Institute for Graduate Studies, Qatar, menilai perkembangan terbaru lebih mengarah pada kemungkinan dimulainya kembali pertempuran daripada terobosan diplomatik.
“Ada banyak sinyal dan demonstrasi kekuatan yang menunjukkan bahwa kita sedang menuju putaran pertempuran berikutnya,” kata Elmasry kepada Al Jazeera.
Ia menunjuk kunjungan Hegseth ke Israel serta laporan mengenai penarikan personel AS dari sejumlah fasilitas diplomatik dan militer di kawasan.
“Semua itu mengindikasikan bahwa AS dan Israel sedang merencanakan serangan berikutnya terhadap Iran, baik dalam waktu dekat maupun sangat dekat,” ujarnya.
“Salah satu kekhawatirannya adalah bahwa putaran pertempuran berikutnya dapat menjadi lebih berbahaya dan lebih menghancurkan dibandingkan putaran sebelumnya.”

Norman menambahkan bahwa meskipun Trump mungkin mempertimbangkan serangan terhadap Iran setelah pemilihan paruh waktu, pertanyaan mendasarnya adalah apa yang dapat dicapai melalui eskalasi baru tersebut.
“Pertanyaan besar yang diajukan para penasihat militer kepada Trump adalah: apa yang akan dihasilkan oleh eskalasi berikutnya yang tidak berhasil dicapai oleh putaran-putaran sebelumnya?”
“Strategi apa yang dapat memaksa Iran kembali ke meja perundingan? Saya kira hingga kini belum ada jawaban yang jelas untuk pertanyaan itu,” kata Norman.
