MAKKAH — Hari Setiawan berhenti sejenak ketika memasuki Masjidil Haram. Bukan karena itu kali pertama ia melihat Ka’bah. Justru sebaliknya. Setahun sebelumnya, pada musim haji 2025, ia pernah berdiri di tempat yang sama sebagai seorang jemaah.
Kini ia kembali. Bukan membawa identitas sebagai jemaah, melainkan mengenakan seragam Petugas Penyelenggara Ibadah Haji (PPIH) Indonesia.
Perjalanan yang hanya berjarak satu musim haji itu menjadi momen yang paling membekas baginya selama bertugas sebagai anggota Media Center Haji (MCH) Daerah Kerja Makkah.
“Bukan karena pertama melihat Ka’bah. Tetapi tidak menyangka Allah begitu cepat memanggil dan mengundang saya kembali setelah tahun kemarin saya hadir sebagai jemaah haji. Tahun ini datang kembali dalam rangka menjadi petugas haji Indonesia,” tuturnya.
Di hadapan Ka’bah, Hari merasa kembali diingatkan tentang satu hal yang sejak lama diyakininya. Bahwa tidak ada seorang pun yang dapat datang ke Tanah Suci semata-mata karena keinginannya sendiri.
“Kalau Allah berkehendak menghadirkan seseorang menjadi tamu-Nya, itu bisa terjadi. Sebaliknya, kalau Allah belum berkehendak, sekuat apa pun ikhtiar kita tentu tidak akan terjadi,” ujarnya.
Keyakinan itu kembali menguat sepanjang menjalankan tugas di Arab Saudi. Bukan hanya ketika pertama kali memasuki Masjidil Haram. Tetapi juga ketika berada di Arafah.
Di Padang Arafah, Hari mengaku menghabiskan banyak waktu untuk berdoa. Ia mendoakan istri, anak-anak, kedua orang tuanya, bahkan keturunan yang saat itu belum dimilikinya.
Setiap orang yang menitipkan doa kepadanya pun ikut disebut satu per satu dalam munajatnya.
“Yang saya pahami, sebaik-baik doa adalah doa pada hari Arafah. Hari itu saya berada di Padang Arafah. Maka di situlah saya sebanyak-banyaknya berdoa.”
Begitu pula setiap selesai melaksanakan tawaf. Sebelum melanjutkan sa’i, Hari memilih berhenti lebih lama untuk berdoa. Momen-momen itu membuatnya berkali-kali merenungkan kembali perjalanan yang membawanya kembali ke Tanah Suci hanya dalam selang satu tahun.
Padahal, jika mengingat kembali beberapa bulan sebelumnya, ia bahkan tidak pernah benar-benar merencanakan menjadi petugas haji. Keinginannya justru mengarah ke jalan yang berbeda.
Sebelum berangkat ke Arab Saudi, Hari sebenarnya tidak pernah memasukkan diri sebagai calon petugas haji. Rencananya saat itu justru mengikuti sertifikasi pembimbing ibadah haji di Universitas Islam Negeri (UIN) Sunan Ampel Surabaya. Jadwalnya hampir bersamaan dengan proses seleksi petugas haji. Karena itu, ia sama sekali tidak terpikir untuk mendaftar.
Keinginan itu baru muncul setelah rangkaian webinar tentang seleksi petugas haji yang diselenggarakannya berakhir. Sebagai jurnalis Kabarbaitullah.com, Hari memang cukup lama mengikuti isu penyelenggaraan haji. Medianya bahkan menggelar bimbingan manasik haji secara daring yang diikuti puluhan calon jemaah dari berbagai daerah, disusul webinar khusus mengenai seleksi petugas haji.
Ironisnya, orang yang menjadi narasumber tentang seleksi petugas itu justru belum berniat mengikutinya.
“Justru baru mendapatkan hidayah untuk mengikuti seleksi itu setelah webinar ketiga tentang seleksi petugas haji yang saya gelar. Baru terpikir, kenapa enggak saya coba?”
Keputusan itu tidak lahir dari keinginan mencari pengalaman baru. Hari mengaku hanya membawa satu niat ketika akhirnya mendaftarkan diri: syukur.
Ia merasa telah mendapatkan nikmat yang begitu besar ketika Allah memanggilnya berhaji pada 2025. Menurutnya, nikmat itu tidak cukup hanya dikenang, tetapi harus diwujudkan dalam bentuk lain.
“Saya ingin menjadi petugas haji dalam rangka bersyukur atas nikmat yang telah Allah anugerahkan kepada kami karena telah mengundang kami berhaji di usia muda dengan kondisi yang baik.”
Cara bersyukur yang dipilihnya sederhana: melayani tamu-tamu Allah. Sejak awal itulah doa yang terus dipanjatkannya.
“Ya Rabb, saya ingin menjadi petugas haji dalam rangka bersyukur. Salah satu cara kami bersyukur kepada-Mu adalah kami ingin melayani tamu-tamu-Mu,” ucapnya.
Baginya, menjadi petugas bukanlah tujuan akhir. Jika Allah berkenan menerima niat itu, ia percaya jalan akan dibukakan. “Barang siapa bersyukur kepada Allah, maka Allah akan menambah nikmatnya.”
Doa itu kemudian dijawab dengan cara yang tidak pernah ia duga. Ia dinyatakan lolos sebagai anggota Media Center Haji Daerah Kerja Makkah dan kembali menginjakkan kaki di Tanah Suci, hanya berselang satu musim haji sejak keberangkatannya sebagai jemaah.
Namun sesampainya di Makkah, Hari segera menyadari bahwa datang sebagai petugas berarti menjalani perjalanan yang sama sekali berbeda.
Ketika berhaji sebagai jemaah pada 2025, pikirannya hampir sepenuhnya tertuju pada ibadah. Turun dari bus, ia bisa langsung menuju Masjidil Haram, mencari tempat terbaik untuk beribadah, lalu memanfaatkan setiap waktu untuk tawaf, sa’i, ataupun shalat.
Semua berubah ketika ia mengenakan seragam petugas. Begitu turun dari bus, matanya tidak lagi lebih dulu mencari Ka’bah. Yang ia cari justru jemaah yang mungkin membutuhkan bantuan.
“Begitu turun dari bus di kawasan terminal Syib Amir, saya harus menyapa berbagai sudut. Adakah jemaah yang membutuhkan bantuan? Dan sering kali, sebelum sempat menawarkan bantuan, permintaan itu sudah datang bergantian seperti tiada henti.”
Dari situ Hari memahami mengapa kehadiran petugas begitu berarti bagi jemaah. Menurutnya, jemaah merasa lebih tenang ketika melihat petugas berseragam berada di sekitar mereka.
Saat itulah ia merasakan bahwa doa yang dipanjatkannya sebelum berangkat perlahan menemukan jawabannya. Ia tidak hanya kembali menjadi tamu Allah. Ia kembali untuk melayani tamu-tamu Allah.
Hari mengaku, menjadi petugas haji mengubah cara pandangnya terhadap ibadah. Saat datang sebagai jemaah pada musim haji sebelumnya, ia bisa sepenuhnya memusatkan perhatian pada rangkaian ibadah. Hampir seluruh waktunya digunakan untuk berdoa, tawaf, sa’i, dan memperbanyak amalan.
Sebaliknya, ketika kembali sebagai petugas, sebagian besar waktunya justru dihabiskan untuk memastikan jemaah memperoleh pelayanan yang dibutuhkan. Perubahan peran itu, menurutnya, menghadirkan pelajaran yang tidak pernah ia rasakan sebelumnya.
“Perjalanan haji, baik sebagai jemaah maupun sekarang sebagai petugas, bagi saya adalah bagian dari madrasah iman. Bagaimana Allah mendidik kita untuk menjadi pribadi yang lebih baik,” katanya.

