Selama bertugas, Hari merasa terus belajar menata hati. Ia belajar bersabar ketika menghadapi situasi yang tidak sesuai harapan. Belajar ikhlas menerima berbagai ketentuan yang tidak bisa diubah. Dan belajar bertoleransi dengan keadaan di sekitarnya.
Menurutnya, pelajaran-pelajaran itu tidak berhenti ketika musim haji selesai. Justru semuanya dibutuhkan ketika kembali menjalani kehidupan sehari-hari.
“Di dalam haji kita harus menyediakan rasa ikhlas, sabar, dan toleran terhadap situasi yang ada di sekitar kita. Ketika pulang, ternyata itu memang amat dibutuhkan.”
Karena itu, setiap kali keluar dari kamar hotel menuju lokasi penugasan, Hari selalu mengawali langkahnya dengan niat yang sama. “Ya Allah, saya niat bertugas melayani jemaah.”
Kalimat itu terus diulangnya hampir setiap hari. Ia percaya, niat menjadi penentu bagaimana seseorang menjalankan amanah. Mungkin karena itulah, menurut Hari, membantu jemaah selalu menghadirkan kebahagiaan yang sulit dijelaskan.
Saat berjaga di sekitar Masjidil Haram, tidak jarang ada jemaah yang menghampirinya untuk bertanya arah, meminta bantuan mendorong kursi roda, atau sekadar memastikan jalur yang harus dilalui.
“Ketika kita sedang standby di sekitar haram, lantas ada jemaah yang minta bantuan, kemudian kita bisa memberikan petunjuk arah atau membantu mendorong kursi rodanya, semuanya menaikkan hormon bahagia,” ujarnya.
Perasaan itu, kata Hari, tidak pernah ia rasakan ketika datang sebagai jemaah. Ia baru benar-benar memahaminya setelah berada di balik seragam petugas.
Namun, dari seluruh pengalaman selama bertugas, ada satu peristiwa yang kemudian membuat Hari semakin yakin bahwa Allah memiliki cara sendiri dalam menjawab setiap doa.
Jawaban itu datang setahun setelah ia memanjatkannya di depan Ka’bah. Sebelum kembali ke Tanah Suci sebagai petugas, Hari pernah membawa satu doa ketika berhaji sebagai jemaah pada 2025.
Doa itu tidak berkaitan dengan pekerjaannya. Bukan pula tentang keinginan menjadi petugas haji. Ia hanya memohon agar suatu hari Allah memampukannya untuk membadalkan haji adik kandungnya yang telah meninggal dunia.
“Ya Allah, mampukan saya untuk bisa membiayai badal haji adik kandung saya yang telah meninggal,” ucapnya.
Saat itu, yang terbayang olehnya hanyalah satu jalan. Ia berharap suatu hari memiliki rezeki yang cukup untuk membiayai badal haji sang adik. Setahun kemudian, Allah justru membawanya kembali ke Tanah Suci. Bukan sebagai jemaah. Melainkan sebagai petugas haji.
Hari mengaku, sejak awal mengikuti seleksi, ia sama sekali tidak menjadikan badal haji adiknya sebagai alasan untuk lolos menjadi petugas. Ia bahkan menyiapkan diri jika sewaktu-waktu diminta membadalkan haji jemaah Indonesia yang wafat sebelum Armuzna.
“Kalau saya diterima sebagai petugas haji 2026, saya harus siap kalau sewaktu-waktu tenaga saya dibutuhkan untuk membadalkan haji jemaah yang wafat sebelum Armuzna,” ujarnya.
Komitmen itu telah ia tanamkan bahkan sebelum berangkat ke Arab Saudi. Karena itu, setiap tahapan operasional dijalaninya tanpa pernah berharap mendapat kesempatan membadalkan haji adiknya sendiri.
Hingga menjelang keberangkatan ke Arafah, penugasan tersebut tidak pernah datang. Saat itulah Hari merasa mulai memahami cara Allah menjawab doa-doanya. Bukan dengan memberikan jalan yang sejak awal ia bayangkan. Melainkan dengan cara yang sama sekali berbeda.
“Ternyata Allah mengabulkan doa saya waktu haji itu dengan cara yang paling indah,” tutur Hari.
Allah tidak sekadar memberinya rezeki untuk membayar orang lain membadalkan haji sang adik. Hari justru memperoleh kesempatan membadalkan haji adiknya dengan dirinya sendiri.
“Allah tidak sekadar memberi saya uang untuk bisa membayar seseorang membadalkan haji. Ternyata Allah mengizinkan saya langsung membadalkan haji almarhum adik saya dengan badan saya sendiri.”
Bagi Hari, pengalaman itu menjadi salah satu jawaban doa yang paling membekas selama perjalanan hajinya.
Ia berangkat dengan niat melayani tamu Allah sebagai bentuk syukur. Namun ketika musim haji berlangsung, ia justru menyaksikan sendiri bahwa Allah memiliki cara yang tidak selalu sama dengan rencana manusia dalam mengabulkan sebuah permohonan.
Musim haji 1447 H berakhir. Hari pun bersiap meninggalkan Tanah Suci setelah hampir dua bulan menjalankan tugas sebagai petugas haji. Ia datang membawa niat untuk bersyukur dengan melayani tamu-tamu Allah.
Dan ia pulang dengan keyakinan bahwa Allah selalu memiliki cara terbaik untuk menjawab doa hamba-Nya. Cara itu tidak selalu sama dengan yang dibayangkan manusia. Kadang Allah mempercepat sebuah undangan.
Kadang Allah mempertemukan seseorang kembali ke Tanah Suci dalam peran yang berbeda. Kadang pula Allah mengabulkan doa dengan jalan yang sama sekali tidak pernah terpikirkan sebelumnya.
Bagi Hari Setiawan, semua itu menjadi pengingat bahwa tidak ada nikmat yang pantas diterima begitu saja tanpa disyukuri.
Karena itulah, ketika ditanya apa yang paling mendasari keinginannya menjadi petugas haji, jawabannya tetap sama seperti doa yang terus ia panjatkan sejak awal mengikuti seleksi.
“Saya ingin menjadi petugas haji dalam rangka mensyukuri nikmat Allah.”
Komitmen itu pula yang ingin terus dibawanya pulang setelah musim haji usai. Bukan hanya melalui pekerjaannya sebagai jurnalis, tetapi juga lewat pengabdian di pondok pesantren, kegiatan dakwah, dan edukasi haji yang selama ini ia jalankan.
Sebab, baginya, kesempatan menjadi petugas haji bukanlah akhir dari perjalanan. Melainkan awal untuk terus menghadirkan manfaat bagi lebih banyak orang.*

