MADINAH – Bagi Maya Puspitasari, perjalanan menuju Tanah Suci tidak dimulai ketika ia melihat Ka’bah. Perjalanan itu justru dimulai ketika sebuah kesempatan datang melalui pekerjaannya sebagai jurnalis.
Sampai hari ini, keberangkatannya ke Arab Saudi masih terasa seperti mimpi. Ketika diminta mengenang momen yang paling berkesan selama bertugas sebagai petugas haji, jurnalis TV One yang tergabung dalam Media Center Haji (MCH) 2026 itu tidak langsung bercerita tentang Makkah ataupun Madinah. Ia justru memilih kembali ke titik ketika semuanya bermula.
Saat itu, kantornya menawarkan kesempatan untuk meliput penyelenggaraan ibadah haji tahun ini. Kesempatan tersebut tidak otomatis membawanya berangkat ke Tanah Suci. Masih ada serangkaian tes yang harus dijalani, disusul pendidikan dan pelatihan yang berlangsung hampir satu bulan penuh.
Di tengah seluruh proses itu, Maya mengaku berkali-kali bertanya kepada dirinya sendiri apakah menerima penugasan tersebut merupakan keputusan yang tepat.
Pertanyaan itu muncul bukan karena ia tidak menyukai pekerjaannya. Bukan pula karena ia merasa tidak mampu menjalankan tugas di Arab Saudi. Keraguan itu lahir karena ia memahami betul konsekuensi yang harus diterima setelah penugasan itu datang.
Selama hampir dua bulan, ia harus meninggalkan keluarganya. Sebagai seorang istri sekaligus ibu, keputusan itu terasa berat. Ia memikirkan rumah yang sehari-hari ia tinggalkan hanya untuk bekerja dan kembali pada sore atau malam hari.
Ia memikirkan anak yang untuk sementara tidak lagi bisa ia dampingi. Ia juga memikirkan berbagai tanggung jawab yang selama ini melekat dalam kesehariannya sebagai seorang ibu dan istri.
“Saya harus meninggalkan keluarga selama hampir dua bulan. Sebagai seorang istri dan ibu, tentu ada rasa berat. Saya memikirkan rumah, anak, dan berbagai hal yang menjadi tanggung jawab saya. Semuanya akan saya kesampingkan sejenak selama bertugas di tanah suci,” tuturnya.
Menepis keraguan
Pergulatan itu tidak ia simpan sendiri. Ia membicarakannya dengan suaminya. Dari percakapan itulah Maya justru mendapatkan keyakinan yang kemudian mengubah seluruh cara pandangnya terhadap penugasan tersebut.
Mereka sampai pada kesimpulan yang sama bahwa kesempatan datang ke Tanah Suci bukanlah kesempatan yang dimiliki semua orang. Suaminya mengingatkan bahwa panggilan berhaji pada hakikatnya adalah panggilan langsung dari Allah.
“Allah yang memilih tamu-Nya,” kata anggota MCH yang bertugas di Daerah Kerja (Daker) Makkah ini.
Kalimat sederhana itu terus terngiang di kepalanya. Ia kemudian mengingat begitu banyak orang yang sehat dan memiliki kemampuan secara finansial, tetapi belum memperoleh kesempatan datang ke Tanah Suci. Ia juga teringat pada orang-orang yang sangat merindukan perjalanan itu, tetapi waktunya memang belum tiba.
Di situlah Maya merasa dirinya justru memperoleh begitu banyak kemudahan. Ia diberi kesempatan mengikuti seleksi, mengikuti pendidikan, dan menjalankan tugas di Tanah Suci. Kesadaran itu membuatnya kembali bertanya kepada dirinya sendiri.
“Lalu mengapa saya masih ragu?”
Pertanyaan itulah yang akhirnya mengakhiri seluruh keraguannya. Karena itulah, momen yang paling berkesan baginya bukan ketika liputan selesai ataupun ketika seluruh rangkaian tugas berakhir.
Momen itu justru hadir ketika untuk pertama kalinya ia menginjakkan kaki di Tanah Suci sebagai petugas haji. “Rasanya campur aduk antara haru dan syukur.”
Ia merasa sedang memulai sebuah perjalanan besar yang telah Allah siapkan jauh sebelum dirinya menyadarinya.
Di dalam hati, Maya memanjatkan sebuah doa. Ia berharap perjalanan tersebut tidak hanya membawanya sampai ke Makkah dan Madinah, tetapi juga membawa perubahan dalam dirinya.
Ia ingin pulang sebagai pribadi yang lebih baik. Sebagai seorang anak, sebagai seorang istri, seorang ibu, dan sebagai manusia. Doa itulah yang terus menyertainya selama menjalankan tugas di Arab Saudi.
Thawaf yang menenangkan
Meski bukan kali pertama berada di hadapan Ka’bah, Maya mengatakan bahwa perasaan yang muncul tidak pernah berubah. Setiap kali pandangannya tertuju ke Baitullah, selalu ada satu perasaan yang datang lebih dulu. Ia merasa dirinya begitu kecil.
Perasaan itu membuat banyak hal yang selama ini dianggap penting mendadak kehilangan maknanya. Berbagai pencapaian yang kadang tanpa disadari membuat seseorang merasa bangga terhadap dirinya sendiri, tiba-tiba tidak lagi terasa sebesar yang selama ini dibayangkan.
Di hadapan Ka’bah, menurut Maya, semua manusia benar-benar berdiri dalam posisi yang sama. “Di sini, semua manusia setara. Tidak ada yang lebih tinggi, tidak ada yang lebih istimewa.”
Dari seluruh rangkaian ibadah yang ia jalani, thawaf menjadi pengalaman yang paling membekas. Ia menyebut thawaf sebagai momen yang “memaksa” dirinya berhenti sejenak dari hiruk-pikuk kehidupan dunia.
Baginya, hanya saat thawaf keramaian justru terasa paling menenangkan. Berada di tengah lautan manusia yang mengelilingi Ka’bah membuatnya merasa paling dekat dengan Allah.
Ketika melihat orang-orang berjalan mengelilingi Baitullah, Maya melihat satu kesamaan yang dimiliki oleh mereka semua. Mereka datang dengan harapan yang sama.
“Semoga Allah mengampuni dosa-dosaku dan menerima amal ibadahku.”
Kalimat itu, menurut Maya, seperti menjadi doa yang dipanjatkan bersama oleh jutaan orang yang sedang mengelilingi Ka’bah.
Hari-hari yang dijalani di Tanah Suci perlahan membawa Maya pada banyak perenungan yang sebelumnya mungkin tidak pernah ia bayangkan.
Dalam kesehariannya di Indonesia, ia terbiasa menjalani dua peran sekaligus. Di satu sisi, ia bekerja sebagai produser di salah satu televisi berita nasional. Di sisi lain, ketika pekerjaan selesai, ia kembali ke rumah sebagai seorang istri dan ibu. Dua peran itu berjalan berdampingan dan sama-sama menuntut perhatian.
Selama ini, semua itu terasa penting. Target pekerjaan harus diselesaikan. Tanggung jawab terhadap keluarga juga tidak boleh diabaikan. Rutinitas itu berjalan terus dari hari ke hari hingga akhirnya perjalanan ke Tanah Suci membuatnya melihat semuanya dari sudut pandang yang berbeda.
“Kalau ada satu hal yang benar-benar berubah setelah perjalanan ini, mungkin adalah cara saya memandang hidup,” ujarnya.
Ia mengaku selama ini sering disibukkan dengan target pekerjaan, tanggung jawab sebagai ibu, istri, dan berbagai urusan dunia yang seolah tidak pernah ada habisnya. Semua itu terasa penting. Namun berada di Tanah Suci membuatnya berkali-kali mengajukan pertanyaan yang sama kepada dirinya sendiri.
“Apakah yang saya lakukan ini benar-benar penting di hadapan Allah?”
Pertanyaan itu sederhana. Namun justru pertanyaan itulah yang, menurut Maya, mengubah banyak hal dalam hidupnya. Ia menjadi lebih berhati-hati dalam menentukan prioritas. Ia mulai menyadari bahwa tidak semua hal yang terlihat besar di mata manusia akan bernilai besar di sisi Allah.
“Saya mulai menyadari bahwa tidak semua hal yang terlihat besar di mata manusia akan bernilai besar di sisi Allah,” katanya.
Kesadaran itu tidak membuatnya memandang rendah pekerjaan ataupun tanggung jawab yang selama ini dijalani. Sebaliknya, ia merasa perjalanan di Tanah Suci mengajarkannya untuk melihat semuanya dengan ukuran yang berbeda.
