Ujian diri
Ada pelajaran lain yang juga ia rasakan selama menjalankan ibadah haji. Sebelum datang ke Tanah Suci, Maya tentu sudah sering mendengar bahwa ibadah haji membutuhkan kesiapan fisik.
Namun baru setelah menjalaninya sendiri ia memahami mengapa begitu banyak orang mengatakan bahwa haji adalah ibadah yang menguji seluruh diri manusia.
“Ibadah haji mengajarkan bahwa perjalanan menuju Allah bukan hanya perjalanan spiritual, tetapi juga perjalanan fisik,” katanya.
Selama berada di Tanah Suci, ia merasakan sendiri bagaimana jemaah harus berjalan kaki dalam jarak yang jauh, menghadapi cuaca yang sangat panas, berdesakan dengan jutaan manusia, menahan rasa lelah, bahkan berkali-kali harus mengalahkan ego sendiri. Semua itu menjadi bagian dari perjalanan yang harus dijalani.
“Saya jadi memahami mengapa orang-orang mengatakan bahwa haji adalah ibadah yang menguji seluruh diri kita. Bukan hanya hati, tetapi juga tubuh, kesabaran, dan keikhlasan.”
Kalimat itu lahir dari pengalaman yang ia jalani sendiri selama bertugas.
Perjalanan tersebut juga membuat Maya merasa lebih mudah menitikkan air mata. Ia tidak sedang berbicara tentang satu peristiwa tertentu. Air mata itu justru datang dalam banyak kesempatan.
“Selama di Tanah Suci, saya mudah sekali menitikkan air mata,” katanya. “Mengingat dosa-dosa, saya menangis. “Pun saat mengingat begitu banyak kebaikan Allah dalam hidup saya.”
Baginya, perjalanan ke Tanah Suci menghadirkan ruang untuk melihat kembali perjalanan hidup yang telah ia jalani selama ini.
Ia merasa Allah sedang memberikan kesempatan yang mungkin belum tentu datang untuk kedua kalinya.
“Saya merasa Allah sedang memberikan kesempatan untuk memperbaiki diri, memperbaiki hubungan dengan-Nya, memperbaiki ibadah saya, dan juga memperbaiki hubungan dengan sesama manusia.”
Kesempatan itulah yang ingin ia manfaatkan sebaik mungkin selama berada di Tanah Suci.
Di tengah tugasnya sebagai petugas haji, Maya juga menemukan pelajaran lain yang tidak kalah penting. Ia belajar bahwa melayani jemaah dengan tulus juga merupakan bagian dari ibadah.
“Sebagai petugas haji, saya belajar bahwa melayani jemaah dengan tulus juga merupakan bentuk ibadah,” tuturnya.
Menurut Maya, tidak semua orang memiliki kesempatan untuk selalu berada di shaf terdepan ketika salat atau berlama-lama beribadah di masjid. Akan tetapi, ketika seorang petugas membantu jemaah yang kebingungan, menenangkan mereka yang sedang cemas, atau memudahkan urusan mereka, di situlah ia belajar memahami makna hablum minannas (hubungan dengan sesama manusia).
“Bahwa mencintai Allah juga harus tercermin dalam cara kita memperlakukan manusia.”
Kalimat itu menjadi salah satu pelajaran yang paling ia rasakan selama bertugas. Sebab baginya, perjalanan spiritual tidak pernah berdiri sendiri. Hubungan manusia dengan Allah juga tercermin dari bagaimana seseorang memperlakukan manusia lainnya.
Berharap akhir yang baik
Di pengujung masa tugasnya di Tanah Suci, ada satu doa yang semakin sering hadir dalam renungan Maya. Doa itu sebenarnya bukan doa baru.
Ia mengatakan bahwa doa tersebut sudah lama ia panjatkan. Namun setelah menjalani perjalanan haji, doa itu terasa memiliki makna yang berbeda.
“Perjalanan ini juga membuat saya banyak merenungkan doa yang selama ini sering saya panjatkan, semoga Allah memberikan akhir kehidupan yang khusnul khatimah,” ujarnya.
Maya mengaku tidak pernah tahu apakah kesempatan datang ke Tanah Suci merupakan jawaban atas doa itu. Namun perjalanan ini membuatnya merasa sedang diingatkan tentang sesuatu yang sangat mendasar.
“Saya tentu tidak tahu apakah perjalanan ini adalah jawaban dari doa itu. Tetapi saya merasa Allah sedang mengingatkan saya, bahwa jika benar saya menginginkan akhir yang baik, maka yang harus saya benahi bukan hanya akhir hidup saya, melainkan cara saya menjalani hidup sejak hari ini,” ujarnya.
Bagi Maya, perjalanan haji bukan hanya mengajarkannya tentang rangkaian ibadah yang dijalankan di Makkah dan Madinah. Perjalanan itu juga mengajaknya melihat kembali apa yang selama ini dikejar dalam kehidupan.
Di hadapan Ka’bah, ia merasa seperti diingatkan kembali pada kenyataan yang sering terlupakan. “Bahwa dunia ini bukan tujuan, melainkan tempat singgah.”
Kalimat itu menjadi penutup dari seluruh perenungan yang ia bawa selama berada di Tanah Suci. Ia menyadari bahwa jabatan, pekerjaan, penghargaan, bahkan berbagai hal yang selama ini dikejar dengan sungguh-sungguh pada akhirnya akan ditinggalkan.
“Yang benar-benar akan menemani kita hanyalah amal.”
Kesadaran itu tidak membuat Maya berhenti mencintai pekerjaannya ataupun mengurangi tanggung jawabnya sebagai seorang istri dan ibu. Justru sebaliknya, ia merasa perjalanan ini mengajarkannya untuk menjalani semua peran itu dengan kesadaran yang berbeda.
Baginya, bekerja tetap penting. Menjalankan tanggung jawab terhadap keluarga juga tetap penting. Namun semua itu pada akhirnya harus bermuara pada satu tujuan yang sama, yaitu menjadi amal yang bernilai di hadapan Allah.
Karena itulah, ketika ditanya apa yang ingin ia bawa pulang dari perjalanan ini, Maya tidak berbicara tentang pengalaman meliput penyelenggaraan haji ataupun kesempatan berada di Tanah Suci.
Ia ingin membawa perubahan dalam cara memandang hidup. Perubahan yang membuatnya lebih berhati-hati dalam menentukan prioritas. Perubahan yang membuatnya terus memperbaiki hubungan dengan Allah sekaligus hubungan dengan sesama manusia. Perubahan yang mengingatkannya bahwa kehidupan di dunia hanyalah persinggahan.
Di akhir perbincangan, Maya menutup kisahnya dengan doa yang sederhana, tetapi merangkum seluruh harapannya selama berada di Tanah Suci.
“Semoga Allah menerima amal ibadah kita. Shalat kita, sujud kita, rukuk kita, puasa dan haji kita.”
Ia lalu mengakhiri kalimat itu dengan lirih. “Amin, ya Rabbal Alamin.”*
