Thawaf yang menenangkan
Meski bukan kali pertama berada di hadapan Ka’bah, Maya mengatakan bahwa perasaan yang muncul tidak pernah berubah. Setiap kali pandangannya tertuju ke Baitullah, selalu ada satu perasaan yang datang lebih dulu. Ia merasa dirinya begitu kecil.
Perasaan itu membuat banyak hal yang selama ini dianggap penting mendadak kehilangan maknanya. Berbagai pencapaian yang kadang tanpa disadari membuat seseorang merasa bangga terhadap dirinya sendiri, tiba-tiba tidak lagi terasa sebesar yang selama ini dibayangkan.
Di hadapan Ka’bah, menurut Maya, semua manusia benar-benar berdiri dalam posisi yang sama. “Di sini, semua manusia setara. Tidak ada yang lebih tinggi, tidak ada yang lebih istimewa.”
Dari seluruh rangkaian ibadah yang ia jalani, thawaf menjadi pengalaman yang paling membekas. Ia menyebut thawaf sebagai momen yang “memaksa” dirinya berhenti sejenak dari hiruk-pikuk kehidupan dunia.
Baginya, hanya saat thawaf keramaian justru terasa paling menenangkan. Berada di tengah lautan manusia yang mengelilingi Ka’bah membuatnya merasa paling dekat dengan Allah.
Ketika melihat orang-orang berjalan mengelilingi Baitullah, Maya melihat satu kesamaan yang dimiliki oleh mereka semua. Mereka datang dengan harapan yang sama.
“Semoga Allah mengampuni dosa-dosaku dan menerima amal ibadahku.”
Kalimat itu, menurut Maya, seperti menjadi doa yang dipanjatkan bersama oleh jutaan orang yang sedang mengelilingi Ka’bah.
Hari-hari yang dijalani di Tanah Suci perlahan membawa Maya pada banyak perenungan yang sebelumnya mungkin tidak pernah ia bayangkan.
Dalam kesehariannya di Indonesia, ia terbiasa menjalani dua peran sekaligus. Di satu sisi, ia bekerja sebagai produser di salah satu televisi berita nasional. Di sisi lain, ketika pekerjaan selesai, ia kembali ke rumah sebagai seorang istri dan ibu. Dua peran itu berjalan berdampingan dan sama-sama menuntut perhatian.
Selama ini, semua itu terasa penting. Target pekerjaan harus diselesaikan. Tanggung jawab terhadap keluarga juga tidak boleh diabaikan. Rutinitas itu berjalan terus dari hari ke hari hingga akhirnya perjalanan ke Tanah Suci membuatnya melihat semuanya dari sudut pandang yang berbeda.
“Kalau ada satu hal yang benar-benar berubah setelah perjalanan ini, mungkin adalah cara saya memandang hidup,” ujarnya.
Ia mengaku selama ini sering disibukkan dengan target pekerjaan, tanggung jawab sebagai ibu, istri, dan berbagai urusan dunia yang seolah tidak pernah ada habisnya. Semua itu terasa penting. Namun berada di Tanah Suci membuatnya berkali-kali mengajukan pertanyaan yang sama kepada dirinya sendiri.
“Apakah yang saya lakukan ini benar-benar penting di hadapan Allah?”
Pertanyaan itu sederhana. Namun justru pertanyaan itulah yang, menurut Maya, mengubah banyak hal dalam hidupnya. Ia menjadi lebih berhati-hati dalam menentukan prioritas. Ia mulai menyadari bahwa tidak semua hal yang terlihat besar di mata manusia akan bernilai besar di sisi Allah.
“Saya mulai menyadari bahwa tidak semua hal yang terlihat besar di mata manusia akan bernilai besar di sisi Allah,” katanya.
Kesadaran itu tidak membuatnya memandang rendah pekerjaan ataupun tanggung jawab yang selama ini dijalani. Sebaliknya, ia merasa perjalanan di Tanah Suci mengajarkannya untuk melihat semuanya dengan ukuran yang berbeda.
