MAKKAH – Ka’bah berdiri tegak begitu dekat. Di tengah ribuan orang yang terus bergerak mengelilinginya, Aria Dhanu Prihantomo justru berhenti. Bukan karena lelah, bukan pula karena kehilangan arah. Ada satu nama yang tiba-tiba memenuhi kepalanya: ayah.
Lelaki yang sejak lama ingin menyaksikan putranya menunaikan ibadah haji itu telah berpulang pada Desember tahun lalu. Tidak ada lagi pelukan sebelum berangkat. Tidak ada pesan terakhir di bandara. Tidak ada kabar yang bisa ia kirim sambil berkata, “Pak, akhirnya saya sampai.”
Di depan Ka’bah, kerinduan itu datang tanpa bisa ditahan. Ia menangis. “Saya sempat membayangkan almarhum Bapak melihat perjalanan haji saya. Tapi beliau sudah tidak ada,” kenangnya.
Tangisan itu kemudian berulang. Hampir setiap kali ia memandang Ka’bah. Juga ketika ia berdoa di Raudah.
Selama hampir dua dekade menjadi reporter LPP TVRI, Aria terbiasa bercerita tentang kehidupan orang lain. Kamera selalu diarahkan kepada narasumber, sementara dirinya berada di balik layar. Namun Tanah Suci membuat keadaan berbalik. Untuk pertama kalinya, ia dipaksa melihat dirinya sendiri.
Sebelum berangkat, ia mengaku bukan pribadi yang sempurna. Kesibukan pekerjaan membuat ibadah sering kali tidak konsisten. Shalat yang bolong-bolong, kekhusyukan yang mudah hilang, hingga kebiasaan bekerja tanpa mengenal waktu menjadikannya seorang workaholic.
Kesibukan itu juga perlahan menciptakan jarak dengan keluarga. “Saya merasa masih jauh dari nilai-nilai agama,” ujarnya jujur.
Barangkali karena itulah, ketika kejenuhan hidup datang, hanya ada satu tempat yang terus memenuhi pikirannya: Tanah Suci.
Terbiasa mandiri
Perjalanan hidup Aria memang tidak pernah benar-benar mudah. Ayahnya seorang pegawai negeri yang kerap dipindahkan dari satu kota ke kota lain. Saat masih Sekolah Menengah Pertama (SMP), Aria memilih tinggal di Jakarta dan belajar mandiri, sementara kedua orang tuanya kembali menjalankan tugas di daerah.
Sejak Sekolah Menengah Atas (SMA) hingga kuliah, ia terbiasa mengurus hidupnya sendiri. Kemandirian itu terus menemaninya ketika diterima bekerja di TVRI.
Sebagai pegawai baru, ia pernah dipandang sebelah mata. Namun waktu menjadi jawaban. Selama 19 tahun, ia terus membuktikan bahwa kepercayaan hanya bisa dibangun melalui kerja yang tidak berhenti.
Semangat itulah yang akhirnya membawanya ikut bertugas meliput penyelenggaraan ibadah haji. Meski demikian, ada pengorbanan yang tetap harus dibayar.
Selama hampir dua bulan, ia harus meninggalkan keluarga di rumah. Tidak ada makan malam bersama. Tidak ada akhir pekan bersama anak dan istri. Semua diganti dengan ribuan langkah di bawah matahari Arab Saudi demi memastikan cerita para tamu Allah sampai ke masyarakat Indonesia.
Ujian fisik
Sebelum berangkat, Aria mengira tantangan terbesar haji adalah persoalan ibadah. Sesampainya di Tanah Suci, ia justru menemukan kenyataan yang berbeda. Haji ternyata adalah ujian fisik.
Berjalan berkilometer setiap hari, berpindah dari satu lokasi ke lokasi lain, melayani jemaah, sekaligus menjalankan tugas jurnalistik membuat stamina menjadi modal utama. Beruntung, pelatihan yang ia jalani sebelum keberangkatan menjadi bekal yang sangat berarti.
Tetapi ada pelajaran lain yang jauh lebih membekas dibanding persoalan fisik. Pelajaran itu datang bukan dari buku, bukan pula dari ruang kelas. Melainkan dari para jemaah lansia.
Ia berkali-kali melihat orang-orang yang tubuhnya renta tetap berjalan tanpa banyak mengeluh. Wajah mereka lelah, tetapi semangat ibadahnya seolah tidak pernah habis. Pemandangan sederhana itu menjadi pengingat bahwa keikhlasan sering kali bekerja lebih kuat daripada tenaga.
Di Tanah Suci, Aria menemukan makna yang selama ini hanya ia dengar dalam berbagai manasik. Ia mulai memahami bahwa keberhasilan haji bukan hanya soal selesainya seluruh rangkaian ibadah.
Perubahan diri
Ada satu keberhasilan lain yang lebih sulit. Menjadi pribadi yang berubah. Baginya, haji adalah perjalanan spiritual untuk memperbaiki diri. Semua aktivitas, semua pelayanan, bahkan semua langkah yang dilakukan di Tanah Haram pada akhirnya bermuara pada satu kata: ikhlas.
“Semua hal harus dilandasi dengan keikhlasan,” kata jurnalis yang bertugas sebagai anggota Media Center Haji (MCH) 2026 Daerah Kerja (Daker) Makkah ini.
Kalimat yang terdengar sederhana. Namun bagi seseorang yang bertahun-tahun hidup dalam ritme pekerjaan yang nyaris tanpa jeda, memahami keikhlasan ternyata membutuhkan perjalanan ribuan kilometer.
Di akhir percakapan, Aria Dhanu Prihantomo mencoba merangkum seluruh perjalanan itu dalam satu kalimat. Bukan tentang profesinya. Bukan pula tentang liputan yang berhasil ia kerjakan. Melainkan tentang alasan mengapa ia merasa benar-benar dipanggil datang ke Tanah Suci.
“Saya datang ke Tanah Suci untuk memenuhi undangan perubahan menuju pribadi yang lebih baik.”
Mungkin memang itulah arti sebuah panggilan. Bukan sekadar tiba di depan Ka’bah. Tetapi pulang sebagai orang yang berbeda.*
