ASUNCION – Krisis politik yang mengguncang Paraguay memasuki babak baru. Presiden Santiago Peña mengumumkan pengunduran dirinya setelah tekanan publik dan politik meningkat menyusul kolapsnya Ueno Bank, lembaga keuangan yang sebelumnya memiliki keterkaitan bisnis dengan dirinya.
Dalam video yang diunggahnya di akun X pribadinya pada 5 November 2026 pkl. 11.16 malam waktu setempat, Peña menyampaikan permintaan maaf kepada publik Paraguay. Ia mengakui situasi yang terjadi telah menimbulkan kegelisahan luas di tengah masyarakat, meski tetap membantah tuduhan bahwa dirinya terlibat dalam pelanggaran hukum atau penyalahgunaan jabatan.

“Saya ingin meminta maaf kepada rakyat apabila pada titik tertentu saya gagal menjalankan amanah. Tidak pernah ada niat untuk mengkhianati kepercayaan yang telah diberikan kepada saya,” kata Peña.
Meski telah menyatakan mundur, Peña menegaskan dirinya akan tetap hadir dalam proses yang dijadwalkan Senat.
“Saya akan memberikan informasi yang diminta. Warga negara berhak mengetahui kebenaran tanpa ada yang ditutupi dan tanpa siapa pun berada di atas hukum,” cuitnya.
Pengunduran diri tersebut terjadi ketika parlemen Paraguay sedang bergerak menuju proses pemakzulan. Sejumlah anggota legislatif menuduh Peña memiliki konflik kepentingan terkait krisis Ueno Bank. Sebelum menjabat sebagai presiden, ia diketahui pernah menjadi pemegang saham dalam perusahaan yang memiliki bank tersebut, meskipun telah melepas kepemilikannya pada tahun lalu.

Kontroversi itu meledak setelah Ueno Bank memasuki proses insolvensi atau krisis likuiditas yang menyebabkan seluruh operasionalnya dibekukan. Dampaknya langsung terasa di masyarakat. Jutaan nasabah mendadak tidak dapat mengakses rekening mereka, termasuk dana pensiun dan sejumlah dana publik yang disimpan di bank tersebut.
Menurut data yang disampaikan pihak Ueno Bank, lembaga itu memiliki sekitar tiga juta nasabah, setara dengan hampir 60 persen populasi warga dewasa Paraguay. Angka tersebut menjelaskan mengapa kepanikan menyebar begitu cepat dan mengapa krisis perbankan ini segera berubah menjadi krisis politik nasional.
Di jalan-jalan ibu kota Asunción, ribuan warga turun menyuarakan kemarahan. Demonstrasi yang awalnya berlangsung damai berkembang menjadi bentrokan antara massa dan aparat keamanan di sekitar gedung Kongres Paraguay. Foto-foto yang beredar memperlihatkan polisi anti huru-hara berhadapan dengan demonstran yang menuntut agar Peña segera meninggalkan jabatannya.

Namun pengunduran diri presiden ternyata belum otomatis mengakhiri krisis. Berdasarkan mekanisme konstitusional Paraguay, resignasi seorang presiden harus mendapatkan persetujuan Kongres. Dalam sidang khusus yang digelar pada Kamis, para legislator justru memilih menunda pembahasan surat pengunduran diri dan melanjutkan proses pemakzulan yang sudah berjalan.
Langkah tersebut mencerminkan besarnya tekanan politik yang kini dihadapi Peña. Bagi sebagian anggota parlemen, pengunduran diri saja dianggap belum cukup untuk menjawab berbagai pertanyaan mengenai hubungan antara kekuasaan politik dan sektor keuangan yang menjadi inti kontroversi ini.
Krisis Perbankan Bergeser Menjadi Krisis Kekuasaan
Sebelumnya, Peña menyatakan keputusan mundur diambil demi menjaga stabilitas nasional, kedamaian sosial, dan keberlangsungan institusi demokrasi Paraguay. Pernyataan itu muncul ketika tekanan pasar, kemarahan publik, dan manuver politik di parlemen semakin sulit dibendung.
Peña, yang hingga tahun lalu masih memegang kepemilikan saham di perusahaan yang berafiliasi dengan Ueno Bank, menyatakan penyesalan atas situasi yang terjadi. Namun, ia tidak mengakui adanya tanggung jawab pribadi atas krisis perbankan yang kini mengguncang Paraguay. Krisis tersebut telah mendorong negara Amerika Selatan yang selama ini dipandang stabil oleh investor asing ke dalam pusaran turbulensi politik dan keuangan.

Sementara itu, otoritas keuangan bergerak cepat untuk meredam dampak ekonomi. Bank Sentral Paraguay telah mengambil alih kendali Ueno Bank dan menunjuk pimpinan baru. Parlemen juga menyetujui mekanisme pembayaran kepada para nasabah untuk mencegah kepanikan yang lebih luas di sektor perbankan.
Di tengah serba ketidakpastian tersebut, perhatian kini tertuju pada kemungkinan suksesi kekuasaan. Wakil Presiden Pedro Alliana berada di urutan pertama dalam garis pergantian kepemimpinan, jika pengunduran diri Peña akhirnya disetujui atau proses pemakzulan berujung pada pemberhentian resmi dirinya dari jabatan presiden.
Peña memenangkan Pilpres Paraguay pada 2023 sebagai kandidat dari Partai Colorado, partai konservatif yang telah lama menjadi kekuatan dominan dalam politik Paraguay. Ia merupakan sekutu dekat Presiden AS Donald Trump di kawasan Amerika Latin. Ironisnya, kurang dari satu periode masa jabatan berjalan, pemerintahannya kini terancam berakhir bukan karena kekalahan elektoral, melainkan akibat krisis keuangan yang menjelma menjadi ujian serius bagi akuntabilitas politik dan kepercayaan publik.
Bagi Paraguay, persoalannya tidak lagi semata-mata soal jatuh bangunnya sebuah bank. Yang sedang dipertaruhkan adalah keyakinan masyarakat bahwa pejabat publik dapat dipisahkan secara tegas dari kepentingan bisnis yang berpotensi memengaruhi keputusan negara. Dan di tengah kemarahan warga yang belum mereda, jawaban atas pertanyaan itu kemungkinan akan menentukan arah politik Paraguay dalam beberapa bulan ke depan.
Sumber: BBC/ Reuters/ The Economist/ Asunciontimes.com
