TEL AVIV – Hasil pemilu Israel, Rabu (28/10/2026), memperlihatkan kubu petahana Perdana Menteri Benjamin Netanyahu kalah tipis. Kubu oposisi yang dipimpin mantan Kepala Staf Militer Israel (Tzahal) Gadi Eisenkot mengklaim kemenangan. Kemungkinan terjadi kebuntuan dalam pembentukan pemerintahan baru Israel.
Hasil hitung cepat dari pemungutan suara yang digelar pada Selasa (27/10/2026) sejauh ini memperlihatkan kubu Eisenkot meraih 53 kursi, sementara kubu Netanyahu mendapat 50 kursi. Dalam kebuntuan pembentukan pemerintahan baru, Netanyahu dimungkinkan menjadi pelaksana tugas PM Israel.
”Rakyat Israel menolak Netanyahu kembali berkuasa sebagai perdana menteri. Dia sudah menerima mosi tidak percaya rakyat dari hasil pemilu ini. Ini hari dia pensiun,” kata pendukung Eisenkot yang bergembira di jalanan Tel Aviv, Israel.

Tingkat partisipasi publik kali ini mencapai 77,7 persen, tertingi dalam sejarah Israel 20 tahun terakhir. Jumlah ini lebih tinggi 7 persen daripada pemilu pada 2022.
Televisi pemerintah, Kan 11 dan Channel 13, menayangkan hitung cepat dengan keunggulan Eisenkot. Sementara Channel 12 memperlihatkan perolehan Eisenkot sedikit di atas Partai Likud pimpinan Netanyahu.
Partai ekstrem kanan pimpinan Menteri Keamanan Nasional Itamar Ben-Gvir dan Menteri Keuangan Bezalel Smotrich diproyeksikan meraih total 13 kursi dalam blok koalisi Netanyahu.
Partai-partai Arab di luar dua kubu dapat menjadi penentu pembentukan pemerintahan baru. Akan tetapi, Eisenkot yang memimpin Partai Yashar (Partai Lurus) dalam perkembangan terakhir masih menyatakan menolak berkoalisi dengan kubu politik Arab.
Kubu partai Arab yang meraih belasan kursi memungkinkan Eisenkot membentuk pemerintahan mayoritas dengan menguasai sekurangnya 61 dari total 120 kursi parlemen Israel (Knesset).
Namun, Netanyahu malah berjanji membentuk pemerintahan baru. Ia menyatakan tidak ada seorang pemimpin pun boleh memerintah Israel dengan dukungan dari kubu Arab Israel. ”Kita harus membentuk pemerintahan sayap kanan yang kuat,” ujar Netanyahu di hadapan para pendukungnya yang bersorak-sorai.
Pemimpin oposisi, Yair Lapid, dalam keterangan tertulis menyatakan agar rakyat tidak ragu bahwa Netanyahu sudah kalah. ”Ini kekalahan total dan masyarakat sudah mengusir dia,” katanya.
Penghitungan akhir perolehan suara baru bisa diketahui beberapa hari ke depan. Sistem politik Israel memungkinkan partai-partai kecil menjadi faktor penentu dalam kemenangan suatu kubu politik dan pembentukan pemerintah.
Direktur Institut Demokrasi Israel Yohanan Plesner mengatakan, hasil hitung cepat memperlihatkan kekalahan telak kubu Netanyahu. Akan tetapi, dia mengingatkan Eisenkot pun tidak menang mutlak dan penghitungan suara masih berlangsung.
Ini adalah pemilu pertama Israel pascaserangan Hamas ke Israel pada 7 Oktober 2023.
Eisenkot (66) kehilangan seorang anak dan dua keponakan dalam Perang Gaza. Ia tampil sebagai penantang utama Netanyahu dalam pemilu kali ini. Dia menegaskan posisinya yang antinegara Palestina dan Hamas sambil memperlihatkan corak politik tengah moderat.

Eisenkot terjun ke dunia politik empat tahun lalu dan bergabung dalam Kabinet Perang Netanyahu sesudah serangan Hamas pada 2023. Dia berhenti sesudah delapan bulan dan mengkritisi langkah Netanyahu yang membuat Israel makin terjerumus dalam perang tak berkesudahan dan terlibat dalam kejahatan perang.
Eisenkot menilai, langkah Israel di Gaza adalah kekeliruan. Sesudah menewaskan 74.000 lebih orang, yang didominasi anak dan perempuan, Hamas masih berkuasa di Gaza.
Di markas koalisi gabungan, yang merupakan kubu politik Arab, para tokoh Arab menyambut gembira kekalahan Netanyahu. Warga Palestina Israel turut bergembira di jalanan.
”Kami menolak pendudukan dan rasisme. Kami akan tetap berada di tanah ini,” kata Faten Gattas, kandidat dari Koalisi Gabungan, dalam pidato di markas mereka di Kota Nazareth.
Dukungan pemilih Arab kali ini diharapkan menjadi faktor penentu dalam koalisi pembentukan pemerintahan baru.
Sumber:
Iwan Santosa, Netanyahu Kalah Tipis, Pemerintahan Baru Sulit Dibentuk, Kompas.id, 28 Oktober 2026. https://www.kompas.id/artikel/netanyahu-kalah-tipis-pemerintah-baru-sulit-dibentuk?open_from=Section_Terpopuler
