JAKARTA – Bank-bank ini tidak berdosa tapi ikut masuk neraka. Bahkan bank-bank itu menjadi yang paling menderita di “Jumat Keramat” kemarin. Yakni saat indeks harga saham gabungan di Bursa Efek Indonesia (BEI) turun drastis.
Anda sudah tahu: harga saham di bursa turun drastis 11,5 persen di satu hari Jumat saja. Itu penurunan terjelek sejak terjadinya krisis moneter 1998.
Pemicunya Anda juga sudah tahu: lembaga rating terkemuka di New York, MSCI, mengeluarkan pernyataan: akan menurunkan status Bursa Efek Indonesia dari level emerging market menjadi standalone – level yang tidak akan lagi diperhatikan oleh jaringan pasar saham dunia.
Itu karena lembaga rating tersebut tidak percaya lagi pada reputasi pasar modal Indonesia. Begitu banyak pelanggaran dibiarkan saja. Terutama yang dilakukan para big fish. Seolah lembaga pengawas pasar modal, OJK, takut pada perusahaan jenis itu.
MSCI juga menengarai adanya intervensi kekuasaan yang berpengaruh pada independensi pasar modal. Misalnya: mengapa raksasa batu bara, Bayan, harus jual saham ke Haji Isam. Ada juga pemberitaan Danantara akan menjadi pemegang saham Bursa Efek Indonesia.
Sebetulnya MSCI belum memutuskan penurunan level BEI itu. Tapi para pemilik modal langsung antisipasi dengan cara cepat-cepat menjual saham mereka. Begitu banyaknya yang jual saham sampai harganya turun drastis.
Hasil penjualan saham itu mereka bawa pulang ke negara masing-masing. Maka pada satu hari Jumat kemarin terjadi out flow yang luar biasa besarnya: Rp 3,3 triliun. Secara ekonomi Indonesia terpukul sangat berat.
Keputusan MSCI itu sebenarnya baru akan diambil Juni atau Juli tahun depan. Tapi investor dari luar negeri rupanya sudah ”patah harapan”.
MSCI sebenarnya sudah mengingatkan semua itu sejak lebih lama. Bahkan pernah mengeluarkan peringatan keras tahun lalu. Saat peringatan itu diumumkan harga saham juga jatuh sangat dalam. Akhir Januari tahun ini tiga pimpinan OJK sampai ”mengundurkan diri”.
Rupanya pimpinan OJK yang baru dianggap belum banyak berbenah. Maka MSCI membuat pengumuman yang dampaknya seperti bom atom untuk pasar modal Indonesia.
Apakah giliran pimpinan OJK yang baru akan mengundurkan diri? Kita belum tahu. Tapi Jumat malam itu juga OJK mengumumkan tindakan drastis. Tiga ”ikan besar” bursa efek Indonesia dijatuhi hukumam berat: harus bayar denda yang totalnya mencapai Rp2,1 triliun. Itu karena mereka melakukan pelanggaran berat.

Dua perusahaan milik konglomerat Prajogo Pangestu dihukum bayar denda Rp500 miliar (BREN) dan Rp 100 miliar (CUAN). Satu perusahaan milik pewaris Eka Tjipta Wijaya (DSSA) didenda Rp 1,5 triliun.
BREN, CUAN, dan DSSA bukan nama perusahaan. Itu kode perusahaan di pasar modal.
DSSA adalah PT Dian Swastatika Sentosa dari grup konglomerat Sinar Mas. BREN adalah PT Barito Renewables Energy. CUAN adalah PT Petrindo Jaya Kreasi.

Apakah tindakan tegas itu akan bisa membuat MSCI mengurungkan keputusannya Juni tahun depan? Bagaimana dengan indikasi lain yang BEI dicitrakan terancam independensinya?
Yang jelas babak ”babak belur” sudah terjadi. Bank-bank besar yang tidak ikut berbuat dosa ikut menderita. Bahkan termasuk yang paling menderita.
Saham BBCA (Bank BCA) dan BBRI (Bank BRI) sama-sama turun sampai 14,8 persen. Saham Bank Mandiri dan Telkom termasuk yang turun drastis.
Mereka sebenarnya bisa dipercaya tapi terbawa ke iklim ketidakpercayaan pada keseluruhan pasar modal.
DSSA sendiri jeblok. Turun luar biasa. Tidak hanya di hari Jumat lalu melainkan sudah sejak tanggal 12 Oktober. Total penurunan selama lima hari terakhir mencapai 36,7 persen.
Kapitalisasi pasarnya sudah jauh dari puncaknya yang mencapai Rp 778 triliun. Perusahaan ini raksasa. Satu perusahaan saja bernilai Rp 778 triliun. Tapi gara-gara ‘Jumat keramat’ kemarin kekayaannya ‘tinggal’ Rp 137 triliun.
Bagaimana di pasar modal Jakarta DSSA bisa dibuat menjadi perusahaan bernilai Rp778 triliun pastilah kemampuan financial engeneeringnya kelas dewa.
”Jumat Keramat” di pasar modal Indonesia itu jatuh pada tanggal 16 Oktober 2026. Sore itu sudah banyak yang posting di medsos yang isinya ucapan Selamat Ulang Tahun ke-75 Presiden Prabowo Subianto.
Tanggal 20 Oktober besok genap pula dua tahun pemerintahan Prabowo. Tega-teganya memberikan kado ulang tahun seperti itu.

Dahlan Iskan. Pendiri Jawa Pos dan Disway.id, Mantan Menteri BUMN RI dan Pemerhati Kebijakan Publik
Sumber: Disway.di/ Catatan Dahlan Iskan. https://disway.id/catatan-harian-dahlan/974108/jumat-keramat
