8 hours ago
3 mins read

Dialektika Pendewasaan Gerakan: Menagih Maturity of Movement di Tengah Anatomi Autocratic Legalism

Ilustrasi (Foto: Istimewa/ Total Politik)

JAKARTA – Bila kita membaca Cacah Catatan atas buku Mereka Hilang Tak Kembali: Sejarah Kekerasan Orde Baru 1966-1998 (2025), ada satu fakta sejarah yang terdedah secara benderang: mesin kekerasan tidak pernah bekerja di ruang hampa.Dari pembantaian 1965, Tragedi Malari 1974, pembantaian Tanjung Priok, penenggelaman desa di Kedung Ombo, hingga pengerahan aparat di desa-desa PSN seperti Wadas, negara selalu bertransformasi menyempurnakan alat pemukulnya.

Buku Mereka Hilang Tak Kembali: Sejarah Kekerasan Orde Baru 1966-1998 (Foto: Istimewa)

Namun, perhatikan pergeserannya hari ini. Jika rezim militeris Orde Baru menggunakan kekerasan fisik yang telanjang (naked coercion), rezim hari ini bekerja lewat apa yang disebut pakar hukum tata negara Duncan Stephenson sebagai autocratic legalism-pemaksaan kehendak kekuasaan yang dibungkus rapi melalui lembaran undang-undang, formalitas hukum, dan teknokrasi buatan.

Jebakan Infantilisme dan Epistemologi Kekerasan

Di tengah transformasi negara yang kian canggih ini, di mana posisi gerakan mahasiswa dan organisasi pemuda?

Harus diakui secara jujur: sebagian besar elemen pergerakan masih mengidap infantile movement syndrome (gerakan yang kekanak-kanakan). Riuh secara mekanis, tetapi steril secara strategis. Ketika negara menerbitkan regulasi yang memuluskan perampasan ruang hidup atau memperluas ketimpangan agraria-sebagaimana dicatat oleh Konsorsium Pembaruan Agraria (KPA) yang masih merekam ratusan letusan konflik agraria melingkupi ratusan ribu hektar lahan di Indonesia-gerakan mahasiswa kerap meresponsnya dengan pola seragam: konsolidasi emosional, aksi jalanan tanpa policy brief yang presisi, lalu ditutup dengan permohonan maaf atau statement di media sosial. Ini adalah romantisme Neverland. Organisasi bertambah umur, tetapi gagap bertumbuh dewasa.

Menyigi Anatomi Kekuasaan Modern: Mengapa Amarah Saja Tidak Cukup?

Kematangan gerakan (maturity of movement) tidak dimulai dari seberapa keras kita memekikkan slogan di depan Istana Negara, melainkan dari ketajaman anatomi kita atas cara kerja kekuasaan status quo. Di abad ke-21, kekuasaan tidak lagi bekerja sekadar lewat tongkat komando. Ia bekerja lewat aliansi teknokrat, oligarki ekstraktif, dan aparatus keamanan.

1. Fetisisme Legitimasi dan Panggung Kooptasi

        Negara hari ini sangat lihai merangkul arena kritis untuk dijadikan stempel legitimasi. Mengundang figur elite bermasalah dalam panggung-panggung akademis atau diskusi Pancasila-sebagaimana blunder BEM KM UGM saat memberi panggung legitimasi Gubernur Jateng di tengah sengketa Wadas-adalah bukti betapa mudahnya gerakan mahasiswa dijebak dalam dialektika semu. Pemuda yang matang paham: kehadiran elite dalam panggung pergerakan sering kali bukan bentuk kompromi dialogis, melainkan injeksi legitimasi gratis bagi penguasa.

        2. Kekerasan Epistemik dan Narasi Teknokrasi

        Penggusuran atas nama Proyek Strategis Nasional (PSN) atau proyek pembangunan skala masif selalu dibungkus dengan bahasa teknokratis: pertumbuhan ekonomi, ketahanan energi, dan pemerataan. Ketika masyarakat adat atau petani menolak, mereka dicap “anti-pembangunan.” Ini adalah epistemic violence—pemusnahan cara pandang lokal atas ruang hidup. Gerakan mahasiswa tidak bisa melawan narasi teknokrasi ini hanya dengan jargon moral; ia harus dilawan dengan keunggulan riset tandingan (counter-research) dan analisis ekonomi-politik yang presisi.

        Tiga Pilar Maturity of Movement: Transformasi Motorik Gerakan Sosial

        Sebagai entitas yang memikul deposit sejarah pergerakan, organisasi mahasiswa tidak boleh hanya menjadi spectator (penonton) atau sekadar arena makelar kader menuju panggung politik practical. Kematangan gerakan harus diejawantahkan ke dalam tiga konsolidasi motorik:

        1. Konsolidasi Epistemik (From Reactive Protest to Policy-Driven Intervention)

        Aksi massa adalah instrumen penekan, bukan produk akhir pergerakan. Struktur kepengurusan pergerakan ke depan harus memfungsikan badan risetnya sebagai Pusat Studi & Intervensi Kebijakan Publik. Setiap kali mahasiswa turun ke jalan atau menerbitkan perlawanan hukum, di tangan kiri kader harus ada Policy Brief, analisis dampak lingkungan (AMDAL) independen, serta draf tandingan undang-undang. Kita mendesak penguasa bukan hanya dengan jumlah massa, melainkan dengan supremasi argumentasi.

        2. Institusionalisasi Solidaritas Organik (Bridging Movement)

        Sejarah Kedung Ombo dan Aksi Kamisan mengajarkan bahwa kekuasaan yang terstruktur hanya bisa diimbangi oleh solidaritas rakyat yang terstruktur. Gerakan mahasiswa tidak boleh lagi berjalan secara soliter (solitary movement). Organisasi harus menjadi simpul perekat (bridging institution) yang menjembatani kekuatan akademisi, LBH, serikat buruh, konsorsium agraria, dan masyarakat adat. Kematangan diuji saat aktivis tidak hanya hadir saat kamera pers menyala, tetapi mau duduk berbulan-bulan mengorganisir dan mendampingi warga yang ruang hidupnya terancam.

        3. Autonomi Politik dan Etika Kepemimpinan (Dignified Distance)

        Kematangan organisasi (organizational maturity) menuntut penegakan dignified distancejarak kritis yang bermartabat dari kekuasaan. Organisasi tidak boleh terdegradasi menjadi alat stamping legitimasi kebijakan negara atau komoditas tawar-menawar politik elite. Kepemimpinan pergerakan yang matang ditunjukkan oleh akuntabilitas publik, transparansi arah perjuangan, dan ketiadaan kompromi di bawah meja.

        Menembus Neverland, Menagih Masa Depan

        Mengutip refleksi dari polemik penindasan Janice Avery di film Bridge to Terabithia hingga oprekan mesin Orde Baru dalam Mereka Hilang Tak Kembali: Penindas tidak berhenti hanya karena kita mengutuknya. Kekuasaan penindas berhenti ketika kita berhasil mempreteli sumber kuasanya.Dan sumber kuasa dari rezim yang otoriter-legalistik hari ini adalah pemanfaatan atas ketidaktahuan, perpecahan gerakan rakyat, dan sifat naif pemudanya.

        Tugas sejarah kepemimpinan pergerakan ke depan adalah mengakhiri masa infantilism ini. Kita tidak lagi membutuhkan retorika manis tentang “agen perubahan” yang usang. Yang kita butuhkan adalah kematangan gerakan yang terukur, keberanian akademik yang independen, dan kesetiaan organik pada rakyat.

        Sebab, jika organisasi pemuda hari ini masih memilih untuk naif di hadapan kekuasaan dan gagap membaca anatomi zaman, maka jangan salahkan sejarah jika kata “pemuda” dan “mahasiswa” kelak tidak lagi memicu harapan, melainkan hanya menyisakan tawa getir di tengah runtuhnya demokrasi.

        Raenald Arzan Sitompul. Alumni Teknik Mesin UGM, Mahasiswa Magister Manajemen Universitas Brawijaya, Wasekjen PB HMI Bidang Kelautan dan perikanan 2024-2026, dan Pengurus Pusat KAGAMA.

        Referensi:

        Aristayanu Bagus, AS Rimbawana, Deby Hermawann dan Putro Wasista, Mereka Hilang Tak Kembali: Sejarah Kekerasan Orde Baru 1966-1998, EA Books, 30 September 2025

        Komentar

        Your email address will not be published.

        Pengalaman Pengguna Game Penghasil Saldo DANA Lebih Cepat Adaptif Dan Efisien Dibawa Oleh Inovasi Teknologi
        Pergeseran Mutu Produksi Kosmetik Terdeteksi Lebih Akurat Berkat Aliran Data Langsung
        Pengalaman Pengguna Semakin Responsif Adaptif Dan Efisien Berkat Perkembangan Teknologi Modern
        Momentum Tetap Terarah Dan Terkendali Dipertahankan Melalui Taktik Mode Pemburu Sic Bo Live
        Keputusan Tetap Terukur Dalam Game Online Dipertahankan Melalui Pengelolaan Modal Cerdas
        Kapitalisasi Pasar Dan Inovasi Kasino Online Berubah Di Tengah Disrupsi Teknologi Modern
        Strategi Baru Untuk Meningkatkan Keunggulan Kompetitif Dibuka Melalui Business Model Canvas Mahjong Ways
        Kualitas Sistem Mahjongways Kasino Online Dipahami Melalui Identifikasi Nilai Pembayaran Game Penghasil Saldo DANA
        Perspektif Baru Dalam Menganalisis Perkembangan Mahjong Ways Dibuka Melalui Modernisasi Strategi
        Kasino Menjadi Studi Sistem Informasi Bagi Mahasiswa Melalui Pelatihan Enterprise Architecture
        Mahjongways Kasino Online Dijadikan Acuan Strategi Marketing dalam Lingkungan Pemerintahan
        Keamanan Informasi Jadi Fondasi Utama Layanan Konsultasi Kosmetik Berbasis Teknologi
        Teknologi Pemantauan Membantu Mengukur Frekuensi Pembayaran secara Lebih Objektif dan Terukur
        Kajian Statistik Pola RTP Menyoroti Perkembangan Teknologi Neural Sintetis Regulatoris
        Simulasi Statistik Membuka Pendekatan Baru Memahami Mahjong Game Sungai Penuh secara Terukur
        Statistik Objektif Membantu Membaca Pola Mahjong Game Sungai Penuh dengan Lebih Rasional
        Strategi Mahjong Game Sungai Penuh Makin Terarah melalui Pendekatan Statistik Modern
        Pendekatan Data Objektif Membantu Mengkaji Mahjong Game Saldo DANA Sungai Penuh secara Lebih Terstruktur
        Mahjong Game Sungai Penuh Dikaji lewat Simulasi Statistik untuk Membaca Pola Aktivitas
        Aturan Mahjong Digital dari Dua Kartu Awal hingga Penentuan Rentang Nilai Game Penghasil Saldo DANA
        Pendekatan Adaptif MahjongWays Kasino Online Membantu Menjaga Keseimbangan Anggaran Hiburan
        Kemunculan Simbol Unik MahjongWays Kasino Online Perlu Dibaca Secara Lebih Rasional
        Mahjong Ways Menarik Minat Pemain di Tengah Ketatnya Persaingan Game Digital
        Pengaturan Tempo MahjongWays Kasino Online Tidak Menentukan Munculnya Kombinasi Khusus
        Starlight Princess Kembali Merebut Perhatian Pemain MBG Berkat Daya Tariknya
        Membaca Pola Mahjong Ways dan Tren Permainan Lewat Data Saldo DANA Terbaru
        Disiplin Mental MahjongWays Kasino Online Membantu Mencegah Keputusan Finansial yang Terlalu Impulsif
        Mengenal Sweet Bonanza sebagai Game Digital Online dengan Tema Manis yang Menarik
        Rotasi Awal MahjongWays Kasino Online Bukan Tolok Ukur Kemurahan Sistem Permainan
        Menelusuri Strategi Terbaik dalam Bermain Game Penghasil Saldo DANA Secara Lebih Mendalam
        Go toTop

        Jangan Lewatkan

        Bayang-Bayang Praetorianisme: Ketika Negara Semakin Berseragam

        JAKARTA – Di setiap negara demokrasi, hubungan antara pemerintah sipil

        Enam Bentuk Pemerintahan ala Aristoteles

        JAKARTA – Filsuf asal Yunani, Aristoteles mencetuskan ide kalau pemerintahan
        toto slot situs togel situs togel
        toto slot
        slot88