JAKARTA — Ketua Umum DPP Projo, Budi Arie Setiadi, menyampaikan permohonan maaf terkait pernyataan dan analisisnya dalam sebuah pertemuan yang belakangan viral dan menimbulkan berbagai spekulasi.
Budi Arie mengatakan pernyataan tersebut merupakan pandangan pribadinya dan tidak berkaitan dengan Presiden ke-7 RI Joko Widodo.
“Sehubungan dengan viralnya, pernyataan dan analisa saya. Dalam sebuah pertemuan di Jakarta, baru-baru ini Yang menimbulkan spekulasi dan. Berbagai salah penafsiran, saya Budi Arie Setiadi, memohon maaf kepada pihak-pihak yang kurang berkenan dan nyaman dengan pernyataan saya tersebut,” kata Budi Arie, Rabu (26/8/2026).
Budi Arie kemudian menegaskan tiga hal terkait pernyataan yang telah menimbulkan spekulasi tersebut.
“Pada kesempatan ini saya ingin menyampaikan, pertama; pernyataan dan analisa tersebut merupakan pernyataan dan analisa pribadi saya. Kedua, pernyataan tersebut tidak ada hubungan dan kaitannya Pak Joko Widodo. Yang ketiga, saya siap bertanggung jawab,” ujarnya.
Budi Arie juga menyatakan siap menerima konsekuensi atas pernyataan dan analisis yang disampaikannya. “Menerima segala konsekuensi. Karena analisa dan pernyataan saya tersebut,” kata dia.
Dalam pernyataannya, Budi Arie sekaligus berupaya meluruskan spekulasi yang muncul setelah pernyataannya dalam pertemuan tersebut menjadi viral. Ia menegaskan bahwa apa yang disampaikannya tidak dapat dikaitkan dengan Joko Widodo.
Budi Arie juga menempatkan pernyataan tersebut sebagai tanggung jawab pribadinya. Ia menyatakan siap mempertanggungjawabkan sekaligus menerima segala konsekuensi dari analisis dan pernyataan yang telah disampaikannya.
Adapun pernyataan Budi Arie yang menuai kontroversi beredar melalui sebuah video berdurasi 1 menit 47 detik. Video tersebut memperlihatkan suasana pertemuan di sebuah ruangan. Dalam video itu, Budi Arie terlihat duduk di sebelah Jokowi.
Budi Arie mengenakan kemeja batik lengan panjang. Dalam kesempatan tersebut, ia menceritakan bisikannya kepada Jokowi. Budi Arie menyebut dirinya memiliki insting bahwa situasi politik yang dibicarakan saat itu bisa berlangsung lebih cepat dari 2029. “Saya punya insting bahwa ini lebih cepat dari 2029,” kata Budi Arie dalam video tersebut.
Setelah menyampaikan soal instingnya, Budi Arie kemudian melontarkan pertanyaan kepada forum. Ia mempertanyakan bagaimana jika terjadi sebuah percepatan ketika semua pihak masih sibuk membicarakan Pemilu 2029.
Pernyataan tersebut kemudian menjadi sorotan dan memunculkan berbagai spekulasi mengenai apa yang dimaksud Budi Arie dengan kemungkinan “lebih cepat dari 2029”.*
