Kebaikan yang menemukan jalan
Pengalaman membantu jemaah membuat Finy menyadari bahwa kebaikan tidak pernah berjalan sendirian. Selama bertugas di Tanah Suci, ia justru berkali-kali merasakan pertolongan datang dari orang lain, bahkan dari orang-orang yang sebelumnya tidak dikenalnya.
Di tengah padatnya operasional haji, rasa lelah tentu datang. Namun, menurut Finy, ada satu hal yang selalu membuat semangatnya kembali tumbuh.
“Yang bikin hati hangat itu banyak sekali kebaikan Allah yang saya dapatkan di sini, juga banyak sekali kebaikan orang lain yang sampai ke kita. Jadi ngerasa kita juga harus meneruskan kebaikan itu ke orang lain,” kata dia.
Pengalaman itu muncul dalam berbagai bentuk. Ada jemaah yang menawarkan makanan tanpa diminta. Ada pula orang yang mempersilakannya bergeser agar memperoleh tempat shalat yang lebih baik. Bukan hanya dari jemaah Indonesia.
Menurut Finy, perhatian serupa juga datang dari jemaah negara lain. Baginya, hal itu menunjukkan bahwa semangat saling membantu tidak mengenal asal negara ataupun bahasa.
Pengalaman lain yang terus diingatnya terjadi saat fase puncak haji. Ketika itu ia dan beberapa petugas bersiap bergerak dari Muzdalifah menuju Mina untuk memantau perjalanan jemaah.
Informasi yang mereka terima saat itu menyebutkan petugas kemungkinan harus melanjutkan perjalanan dengan berjalan kaki sambil membawa perlengkapan masing-masing.
Finy mengaku tetap berangkat bersama rekan-rekannya karena niat utama mereka adalah memastikan proses ibadah jemaah berjalan dengan baik. Namun setelah seluruh tugas peliputan selesai, situasinya berubah. Mereka justru diperbolehkan naik bus bersama jemaah menuju Mina.
“Alhamdulillah, ternyata kita bisa naik bus bersama jemaah. Padahal sebelumnya kami mengira harus jalan kaki.”
Baru setelah berada di dalam bus, mereka mengetahui jarak Muzdalifah menuju Mina ternyata cukup jauh. Pengalaman itu membuat Finy merasa Allah memberikan kemudahan melalui jalan yang sebelumnya tidak pernah mereka bayangkan.
Dari pengalaman-pengalaman itulah Finy semakin percaya bahwa kebaikan tidak berhenti pada satu perbuatan. Menolong jemaah, menerima pertolongan dari orang lain, lalu kembali membantu orang lain menjadi rangkaian yang terus berulang selama berada di Tanah Suci.
Karena itu, ia memilih membawa pulang satu keyakinan yang terus menguat sepanjang menjalankan amanah sebagai petugas haji.
“Kebaikan itu adalah sebuah lingkaran yang terus berputar. Insya Allah, kebaikan yang kita lakukan kepada jemaah atau kepada siapa pun akan kembali lagi kepada kita.”
Panggilan untuk petugas
Semakin lama menjalankan tugas di Tanah Suci, Finy merasa cara pandangnya terhadap ibadah ikut berubah. Menurutnya, menjadi petugas haji bukan sekadar menjalankan pekerjaan, melainkan bagian dari panggilan Allah yang juga harus diperjuangkan.
Ia mengingat kembali perjalanan sebelum akhirnya lolos pada percobaan ketiga. Pengalaman itu membuatnya yakin bahwa kesempatan menjadi petugas haji sama seperti kesempatan berhaji, tidak semata-mata ditentukan oleh kemampuan manusia, tetapi juga oleh kehendak Allah.
“Kalau kita ingin menjadi petugas haji itu juga panggilan,” katanya.
Keyakinan itu semakin kuat setelah melewati seluruh rangkaian operasional haji. Baginya, melayani jemaah tidak selalu berarti melakukan sesuatu yang besar. Ketulusan justru diuji ketika tidak ada orang yang melihat apa yang dikerjakan.
“Kadang-kadang keikhlasan itu hanya kita sendiri yang tahu. Bahkan mungkin enggak ada siapa pun yang tahu kalau kita menolong orang.”
Karena itu, menurut Finy, membantu jemaah tidak perlu dilakukan agar mendapat pujian atau pengakuan. Selama niatnya benar karena Allah, setiap kebaikan akan tercatat, meskipun tidak diketahui siapa pun.
“Allah akan mencatat setiap detail perbuatan baik yang kita lakukan,” ia menegaskan.
Pemahaman itulah yang kemudian menjadi jawaban Finy ketika diminta menjelaskan arti melayani tamu Allah. Baginya, makna terbesar dari amanah tersebut bukan terletak pada banyaknya pekerjaan yang diselesaikan, melainkan pada ketulusan menjaga niat selama menjalankannya.
Musim haji akhirnya memberinya banyak cerita untuk dibawa pulang. Namun di antara semuanya, ada satu pelajaran yang ingin terus diingatnya setelah kembali ke Indonesia.
Menurut Finy, selama niat diluruskan karena Allah, seseorang tidak perlu khawatir apakah kebaikan yang dilakukan akan mendapat balasan dari orang yang sama. Kebaikan bisa kembali melalui jalan yang berbeda, dari orang yang berbeda, bahkan pada waktu yang tidak pernah diduga.
Di pengujung musim haji, Finy tidak membawa pulang oleh-oleh yang paling berharga dalam bentuk barang. Yang ia bawa pulang justru satu keyakinan. “Kebaikan itu adalah sebuah lingkaran yang terus berputar.”
Ketika ditanya apa yang paling ia pelajari selama menjadi petugas haji, jawabannya tetap sama. “Ketulusan dan keikhlasan, semuanya kita lakukan karena Allah.”*
