MADINAH – Ada orang yang dipanggil menjadi tamu Allah sebagai jemaah. Ada pula yang dipanggil untuk melayani mereka. Bagi Finy Auliany, panggilan itu tidak datang pada percobaan pertama. Tidak pula pada percobaan kedua. Baru pada kesempatan ketiga, ia dinyatakan lolos sebagai Petugas Penyelenggara Ibadah Haji (PPIH) bidang Media Center Haji (MCH) dan ditempatkan di Daerah Kerja Madinah.
Perjalanan menuju amanah itu, menurut jurnalis MU TV tersebut, bukan hanya diisi dengan belajar menghadapi seleksi. Ia juga merasa harus mempersiapkan diri dengan memperbaiki hubungan kepada Allah SWT.
“Ini adalah kali ketiganya aku mencoba untuk jadi petugas haji dan alhamdulillah berhasil. Sebelumnya sudah pernah coba juga, tapi memang belum rezekinya. Selain berusaha untuk belajar, juga berusaha mendekatkan diri kepada Allah SWT,” tuturnya.
Kesempatan itu akhirnya datang pada musim haji 1447 H/2026 M. Finy dipercaya bergabung dengan MCH Daker Madinah yang bertugas meliput sekaligus menyampaikan berbagai informasi penyelenggaraan ibadah haji kepada masyarakat di Indonesia.
Bersama timnya, ia mengikuti hampir seluruh dinamika operasional haji. Mulai dari kedatangan jemaah di Madinah dan Makkah, kesiapan katering, transportasi, akomodasi, layanan lansia dan penyandang disabilitas, bimbingan ibadah, hingga operasional pada fase puncak haji di Arafah, Muzdalifah, dan Mina (Armuzna).
Namun, pengalaman yang paling membekas justru bukan ketika menyaksikan besarnya operasional haji. Yang paling diingatnya adalah perjumpaan-perjumpaan sederhana dengan para jemaah. Dari sanalah ia merasa belajar tentang arti sebuah amanah dan bagaimana kebaikan sering kali hadir melalui hal-hal yang tampak kecil.
Amanah yang diperjuangkan
Ketika pertama kali menerima kabar dirinya lolos sebagai petugas haji, yang terlintas di benak Finy bukanlah kebanggaan karena berhasil melewati seleksi. Ia justru langsung teringat besarnya tanggung jawab yang akan diemban.
Menurutnya, para jemaah telah menunggu bertahun-tahun untuk bisa berangkat ke Tanah Suci. Ada yang menabung selama belasan tahun. Ada pula yang saat mendaftar masih sehat, tetapi ketika tiba giliran berangkat kondisi fisiknya sudah jauh berbeda.
Karena itulah, ia memandang menjadi petugas haji bukan sekadar penugasan, melainkan amanah untuk melayani tamu Allah yang telah menunggu begitu lama.
“Ini benar-benar amanah yang merupakan harapan dari jemaah yang sudah menabung dalam waktu yang tidak sebentar. Jadi benar-benar amanah yang sangat mulia dan harus dijalankan dengan sebaik-baiknya,” ujarnya.
Perasaan itu pula yang membuatnya tidak menyerah ketika dua kali gagal dalam seleksi petugas haji. Ia memilih terus mencoba sambil membenahi diri. Menurutnya, panggilan menjadi petugas haji juga merupakan kehendak Allah, sehingga ikhtiar tidak cukup hanya dengan belajar menghadapi tes.
Finy mengaku mulai lebih sungguh-sungguh memperbaiki ibadah, memperbanyak shalat malam, shalat sunah, sedekah, dan berusaha meninggalkan hal-hal yang tidak disukai Allah. Baginya, semua itu merupakan ikhtiar agar dirinya pantas menerima amanah tersebut.
“Aku merasa ini tugas yang mulia. Jadi enggak ada salahnya terus memperbaiki diri, menjaga diri dari hal-hal yang Allah enggak suka, dan melakukan apa yang Allah sukai.”
Ikhtiar itu, menurutnya, berbuah pada kesempatan yang akhirnya datang pada percobaan ketiga. Bukan hanya lolos seleksi tertulis dan seluruh tahapan yang harus dilalui, tetapi juga benar-benar diberi jalan untuk berangkat ke Tanah Suci sebagai petugas haji.
Dari pertanyaan sederhana
Selama bertugas di Madinah, Finy bertemu dengan banyak jemaah yang datang membawa cerita masing-masing. Ada yang membutuhkan informasi, ada yang kebingungan mencari arah, ada pula yang sekadar membutuhkan teman untuk memastikan mereka bisa menjalankan ibadah dengan tenang.
Di antara berbagai pengalaman itu, ada satu peristiwa yang paling membekas dalam ingatannya. Peristiwa itu tidak diawali oleh kejadian besar, melainkan oleh sebuah pertanyaan yang menurutnya sangat sederhana.
Saat itu ia sedang membantu seorang jemaah perempuan yang akan menuju Raudhah di Masjid Nabawi. Di sela-sela pendampingan, Finy bertanya, “Ibu sudah makan belum?”
Jawaban yang diterimanya di luar dugaan. Jemaah tersebut mengaku belum makan sejak sore. Saat itu waktu sudah menunjukkan sekitar pukul delapan malam. Demi mengikuti rangkaian ibadah di Masjid Nabawi dan menunggu jadwal masuk ke Raudhah, ia melewatkan makan malam.
Mendengar jawaban itu, Finy meminta sang jemaah menunggu sejenak. Ia kemudian mencari supermarket terdekat untuk membeli roti dan susu.
“Saya bilang, ‘Baik Bu, tunggu sebentar di sini ya. Saya mau belikan sesuatu dulu buat Ibu’.”
Setelah kembali, makanan itu langsung diberikan kepada sang jemaah. Respons yang diterimanya justru membuat pengalaman tersebut terus diingat hingga sekarang.
Kalimat yang mungkin terdengar biasa dalam kehidupan sehari-hari ternyata mampu membuat seseorang merasa diperhatikan di tengah perjalanan ibadahnya.
“Cuma dari kata-kata perhatian yang sebenarnya sederhana, ‘Ibu sudah makan belum?’, ternyata itu berarti banget buat ibunya,” ungkapnya.
Peristiwa tersebut bukan satu-satunya pengalaman yang dialaminya selama bertugas. Dalam berbagai kesempatan, Finy juga mendampingi jemaah lansia yang membutuhkan bantuan menuju Raudhah, membantu mendorong kursi roda, mengantar jemaah ke toilet, hingga membantu jemaah yang terpisah dari rombongannya.
Setiap kali melihat jemaah lansia yang berjalan sendirian atau tampak kebingungan, pikirannya selalu tertuju kepada kedua orang tuanya.
“Kalau melihat jemaah lansia, rasanya seperti melihat orang tua sendiri,” ujarnya.

