Wukuf di tengah penugasan
Pada fase ini, Bagus mendapat amanah sebagai Satgas Arafah. Sehari sebelum wukuf, ia bersama petugas lain sudah berada di Arafah untuk memastikan seluruh kebutuhan jemaah tersedia. Pekerjaan dimulai dengan menghitung kapasitas tenda, memastikan jumlah kasur mencukupi, hingga berkoordinasi dengan syarikah agar proses kedatangan jemaah berjalan lancar.
Ketika bus-bus yang membawa jemaah mulai berdatangan, pekerjaan berikutnya langsung dimulai. Ada jemaah yang harus dipapah. Ada yang harus digendong saat turun dari bus. Ada pula yang harus segera dibawa menggunakan kursi roda menuju tenda.
Seluruh rangkaian pelayanan itu dilakukan sebelum para jemaah menjalani wukuf. Setelah waktu Zuhur tiba, Bagus akhirnya dapat mengikuti wukuf bersama para jemaah. Ia duduk di musala kecil di dalam tenda, mendengarkan khutbah, berdzikir, lalu membuka lembar demi lembar doa yang telah disiapkannya jauh hari sebelumnya.
Doa-doa itu dibacanya berulang kali. “Hingga pada satu titik, suara saya mulai bergetar. Air mata jatuh tanpa bisa dihentikan. Saat itu saya merasa begitu kecil di hadapan Allah SWT.”
Di Padang Arafah, ia mengingat begitu banyak dosa yang pernah dilakukan, juga berbagai kekurangan yang selama ini diabaikannya. Bagi Bagus, pengalaman itu menjadi bagian dari perjalanan hajinya pada 2026.
Perjalanan tersebut bukan kali pertama membawanya ke Tanah Suci. Pada 2022, ia pernah menunaikan ibadah umrah setelah memenangkan lomba karya tulis jurnalistik. Empat tahun kemudian, Allah kembali mempertemukannya dengan Makkah.
Kali ini, ia datang sebagai petugas haji. Ketika kembali berada di Masjidil Haram, tangannya kembali menyentuh Ka’bah.
“Saya memohon ampun atas seluruh dosa yang pernah saya lakukan, baik yang saya sadari maupun yang tidak saya sadari.”
Ia tidak berhasil mencium Hajar Aswad karena padatnya jemaah di area thawaf. Setelah menyelesaikan thawaf, ia melaksanakan sa’i antara Bukit Safa dan Marwah. Saat menjalani sa’i, Bagus teringat perjuangan Siti Hajar yang berlari mencari air untuk Nabi Ismail AS.
“Tujuh kali beliau berlari. Tujuh kali beliau berikhtiar. Hingga akhirnya Allah menghadirkan mukjizat air zamzam.”
Pulang membawa amanah
Musim haji 2026 menjadi perjalanan yang membawa Bagus menjalankan penugasan di beberapa titik pelayanan, mulai dari Bandara Madinah hingga fase Armuzna.
Di setiap penugasan, ia bertemu dengan jemaah yang datang membawa kebutuhan yang berbeda-beda.
Ada yang memerlukan bantuan saat baru tiba di Tanah Suci. Ada yang membutuhkan pertolongan ketika menjalani puncak ibadah haji. Ada pula yang meminta bantuan ketika bersiap kembali ke Indonesia. Seluruh pengalaman itu menjadi bagian dari perjalanan yang dijalaninya sebagai petugas haji.
Ketika masa penugasan berakhir, ia pulang tidak hanya dengan pengalaman meliput penyelenggaraan ibadah haji, tetapi juga pengalaman melayani para jemaah.
Pengalaman itu kembali mengingatkannya pada seorang jemaah perempuan yang ditemuinya di Bandara Prince Mohammad bin Abdul Aziz, Madinah, menjelang kepulangan ke Indonesia.
“Tolong bantu ibu ya, Nak. Ibu sendirian berangkat hajinya.”
Permintaan itu sederhana. Bagus membantu membongkar barang bawaan jemaah tersebut, lalu menyusunnya kembali agar sesuai dengan ketentuan berat bagasi penerbangan.
Setelah semuanya selesai, jemaah itu mengucapkan terima kasih. “Terima kasih ya, Nak. Semoga sehat selalu.”
Bagi Bagus Supriadi, momen itu menjadi salah satu kenangan yang paling berharga selama bertugas pada musim haji 2026.
Menjadi petugas haji merupakan impian yang telah lama disimpannya hingga akhirnya terwujud pada tahun ini. Kesempatan itu membawanya menyambut kedatangan jemaah di Bandara Madinah, menjalankan tugas pada fase Armuzna, kembali menginjakkan kaki di Tanah Suci sebagai petugas, sekaligus melayani para jemaah Indonesia dalam berbagai kesempatan.
Di akhir penugasannya, ada satu harapan yang tetap dipegangnya. “Motivasi terbesar saya bukanlah penilaian manusia. Saya hanya berharap ridha Allah SWT.”*
