TANGERANG – Menteri Haji dan Umrah (Menhaj) Moch. Irfan Yusuf menyambut kepulangan kelompok pertama Petugas Penyelenggara Ibadah Haji (PPIH) Daerah Kerja Makkah di Bandara Internasional Soekarno-Hatta, Tangerang, Selasa (23/6/2026).
Sebanyak 355 petugas tiba di Tanah Air setelah menuntaskan tugas pelayanan kepada jemaah haji Indonesia selama operasional haji di Arab Saudi.
Di hadapan para petugas, Menhaj menyampaikan apresiasi atas dedikasi dan kerja keras yang telah diberikan selama penyelenggaraan ibadah haji 1447 H/2026 M.
“Terima kasih atas seluruh performa dan upaya yang telah diberikan dalam melayani jemaah haji Indonesia. Presiden juga memberikan apresiasi kepada seluruh petugas yang telah bekerja dengan sungguh-sungguh selama penyelenggaraan ibadah haji tahun ini,” ujar Irfan.
Menhaj menjelaskan, operasional pelayanan jemaah di Makkah kini telah berakhir. Hingga saat ini, sebanyak 149.736 jemaah yang tergabung dalam 387 kelompok terbang telah kembali ke Indonesia.
Sementara itu, sekitar 29 persen jemaah atau sekitar 130 kloter masih berada di Madinah dan akan dipulangkan secara bertahap sesuai jadwal penerbangan masing-masing.
Kementerian Haji dan Umrah juga masih memantau 121 jemaah yang menjalani perawatan di Arab Saudi. Mereka baru akan dipulangkan setelah kondisi kesehatannya dinyatakan stabil dan layak terbang oleh tim medis.
Istithaah kesehatan diperketat
Dalam kesempatan tersebut, Menhaj mengungkapkan hingga saat ini tercatat 350 jemaah haji Indonesia wafat selama penyelenggaraan haji 2026. Meski lebih rendah dibanding tahun sebelumnya, angka tersebut tetap menjadi perhatian dalam evaluasi operasional haji.
“Ke depan, penerapan istithaah kesehatan akan diperketat dan standarnya harus diterapkan secara seragam di seluruh daerah,” tegasnya.
Menurut Irfan, masih terdapat perbedaan penerapan pemeriksaan dan penetapan istithaah kesehatan di sejumlah daerah. Karena itu, Kemenhaj akan memperkuat standardisasi agar seluruh calon jemaah mendapatkan pemeriksaan kesehatan dengan kualitas dan ketentuan yang sama.
Selain itu, Kemenhaj juga menyoroti meningkatnya angka kematian jemaah setelah fase puncak haji di Arafah, Muzdalifah, dan Mina (Armuzna). Salah satu faktor yang menjadi perhatian adalah tingginya aktivitas jemaah setelah menyelesaikan rangkaian ibadah wajib.
“Setelah Armuzna, kondisi fisik jemaah umumnya menurun akibat kelelahan. Aktivitas seperti city tour harus diatur lebih ketat agar tidak membahayakan kesehatan jemaah,” jelas Menhaj.
Pelatihan petugas diseragamkan
Menhaj menegaskan peningkatan kualitas layanan haji tidak akan dilakukan dengan menambah jumlah petugas, melainkan melalui penguatan kompetensi dan kapasitas sumber daya manusia yang ada.
Salah satu langkah yang akan dilakukan adalah menyeragamkan durasi pendidikan dan pelatihan bagi petugas kloter maupun nonkloter. Selama ini, petugas nonkloter menjalani pelatihan sekitar satu bulan, sedangkan petugas kloter hanya mengikuti pelatihan selama tujuh hingga sepuluh hari.
“Ke depan, seluruh petugas akan mengikuti pendidikan dan pelatihan dengan durasi yang sama, yaitu sekitar satu bulan. Kami ingin seluruh petugas memiliki kesiapan, kemampuan, dan standar pelayanan yang setara,” katanya.
Kemenhaj juga akan melakukan evaluasi menyeluruh terhadap kinerja seluruh PPIH. Petugas dengan performa terbaik akan mendapatkan penghargaan sebagai bentuk apresiasi sekaligus motivasi untuk meningkatkan kualitas pelayanan.
“Jumlah petugas tidak akan ditambah, tetapi kualitasnya akan terus ditingkatkan. Hasil evaluasi ini akan menjadi dasar dalam mempersiapkan penyelenggaraan ibadah haji berikutnya agar semakin profesional, aman, dan berorientasi pada kebutuhan jemaah,” pungkas Menhaj.*
