BANDA ACEH — Suasana di Asrama Haji Aceh mulai bersiap menyambut fase akhir perjalanan ibadah haji 1447 Hijriah. Setelah berbulan-bulan menjadi titik keberangkatan ribuan jemaah menuju Tanah Suci, kompleks asrama kini berbenah untuk menerima kepulangan para tamu Allah yang dijadwalkan berlangsung pada 15–30 Juni 2026.
Berbagai persiapan dilakukan agar proses debarkasi berjalan lancar, aman, dan nyaman. Mulai dari pengecekan fasilitas, kebersihan lingkungan, kualitas air, sanitasi, hingga pelaksanaan fogging telah dilakukan untuk memastikan seluruh area siap digunakan kembali oleh jemaah yang baru tiba dari Arab Saudi.
Kepala Asrama Haji Aceh, Irsyadi, mengatakan persiapan saat ini hampir sepenuhnya rampung.
“Alhamdulillah, persiapan telah mencapai 99 persen. Sejak proses pemberangkatan selesai, seluruh fasilitas langsung kami evaluasi dan lakukan pengecekan kembali sehingga saat debarkasi nanti Asrama Haji Aceh siap melayani jemaah,” ujar Irsyadi.
Ia menjelaskan, setelah mendarat di Bandara Sultan Iskandar Muda, jemaah akan diarahkan menuju Asrama Haji untuk mengikuti prosesi pelepasan sebelum melanjutkan perjalanan ke daerah asal masing-masing.
Berbeda dengan fase keberangkatan yang mengharuskan jemaah menginap sebelum terbang ke Arab Saudi, pada fase kepulangan sebagian besar jemaah biasanya langsung bergerak menuju kampung halaman.
Meski demikian, sejumlah fasilitas tetap disiagakan. Asrama Haji Aceh menyediakan ruang salat bagi jemaah perempuan di Gedung Jeddah dan bagi jemaah laki-laki di Gedung Grand Misfalah. Fasilitas ini disiapkan untuk mengakomodasi kebutuhan ibadah jemaah yang tiba bertepatan dengan waktu salat.
Selain itu, kamar-kamar istirahat juga tetap tersedia bagi jemaah yang harus menunggu jadwal transportasi lanjutan menuju daerah masing-masing.
“Jemaah dari daerah yang jauh seperti Aceh Tenggara atau yang harus menyeberang ke wilayah kepulauan seperti Simeulue dan Sabang biasanya membutuhkan waktu tunggu lebih lama. Karena itu, kamar dan fasilitas pendukung tetap kami siapkan sesuai kebutuhan,” jelasnya.
Aspek kesehatan
Aspek kesehatan juga menjadi perhatian penting dalam proses debarkasi tahun ini. Balai Kekarantinaan Kesehatan (BKK) Kelas I Aceh menyiapkan layanan kesehatan di Gedung Muzdalifah yang akan difungsikan sebagai klinik observasi dan pelayanan medis bagi jemaah yang membutuhkan penanganan setelah perjalanan panjang dari Tanah Suci.
“Gedung Muzdalifah kami fungsikan sebagai klinik kesehatan yang akan digunakan oleh tim medis dan petugas kesehatan untuk memberikan pelayanan kepada jemaah yang membutuhkan,” kata Irsyadi.
Untuk menjaga lingkungan tetap sehat dan bebas dari potensi penyakit menular, pengasapan atau fogging juga dilakukan di seluruh kawasan asrama oleh tim BKK Kelas I Banda Aceh.
“Langkah ini dilakukan untuk memastikan lingkungan asrama tetap bersih, sehat, dan terbebas dari potensi penyebaran penyakit menular,” ujarnya.
Sementara itu, Kasubbag Umum Asrama Haji Aceh, Afrizal, mengatakan koordinasi terus dilakukan dengan Kantor Wilayah Kementerian Haji Aceh serta berbagai pihak terkait agar seluruh tahapan debarkasi berlangsung tanpa hambatan.
Menurutnya, meskipun mayoritas jemaah tidak menginap saat tiba di Aceh, standar pelayanan tetap dijaga sebagaimana ketika proses embarkasi berlangsung.
“Petugas pendukung tetap kami siagakan untuk memberikan pelayanan terbaik kepada jemaah, mulai dari kedatangan, pelepasan, layanan ibadah, kesehatan, hingga kebutuhan istirahat sebelum mereka kembali ke daerah masing-masing,” ujar Afrizal.
Bagi para petugas, fase kepulangan bukan sekadar akhir rangkaian operasional haji. Ini adalah momen memastikan perjalanan spiritual para jemaah ditutup dengan pelayanan yang baik hingga mereka kembali ke tengah keluarga.
“Kami ingin memastikan setiap jemaah mendapatkan pelayanan terbaik hingga tiba kembali di daerah masing-masing. Semoga proses kepulangan berjalan lancar dan seluruh jemaah kembali dalam keadaan sehat serta membawa kemabruran haji,” pungkasnya.*
