Percobaan terakhir
Namun hidup kadang bergerak dengan cara yang sulit dipahami. Ketika seseorang mulai kehilangan tenaga untuk melangkah, justru orang-orang di sekelilingnya yang datang membawa keyakinan baru.
Melihat Lukman mulai patah arang, rekan-rekan sesama jurnalis tidak membiarkannya berhenti terlalu lama. Mereka datang memberi semangat, meyakinkannya agar mencoba sekali lagi melalui sistem baru Kementerian Haji dan Umrah yang saat itu dinilai jauh lebih transparan dan akuntabel.
Didorong oleh dukungan para sahabat dan doa-doa yang terus mengiringi, Lukman akhirnya membuang jauh-jauh keraguannya. Pada akhir 2025, ia kembali mendaftarkan diri. Untuk keempat kalinya.
Dan setelah perjalanan panjang yang terasa menguras fisik, pikiran, juga perasaannya selama bertahun-tahun, jawaban yang selama ini ditunggu akhirnya datang. Ia dinyatakan lolos.
Barangkali bagi orang lain, itu hanya pengumuman hasil seleksi. Tetapi bagi Lukman, kabar tersebut terasa seperti jawaban panjang atas tahun-tahun yang selama ini dipenuhi penantian.
“Aku cuma berpikir, ternyata Allah tidak menolak doa-doaku. Mungkin Dia hanya memintaku menunggu lebih lama,” ungkapnya, sementara matanya menyimpan sisa haru yang tampaknya belum benar-benar selesai.
Air mata yang berbeda
Keberangkatan menuju Tanah Suci pada 2026 kemudian menjadi perjalanan yang dipenuhi rasa syukur sekaligus keharuan. Sebagai bentuk pembayar nazar yang pernah diucapkannya pada masa-masa sulit, Lukman menggelar walimah safar di rumahnya.
Di sana berkumpul orang tua, istri, keluarga besar, dan orang-orang yang selama ini diam-diam ikut menyaksikan jatuh bangun perjalanannya. Suasana yang awalnya dipenuhi canda dan doa perlahan berubah ketika momen berpamitan tiba.
Di hadapan kedua orang tuanya, Lukman bersimpuh meminta restu. Di hadapan istrinya, ia berpamitan. Dan di hadapan keluarga yang selama ini ikut menyaksikan proses panjangnya, ia akhirnya berdiri di titik yang dulu pernah terasa sangat jauh.
Tangis pecah di rumah itu. Tetapi kali ini bukan tangis kecewa seperti tahun-tahun sebelumnya. Bukan pula tangis seseorang yang kalah. Melainkan tangis seseorang yang merasa penantiannya menemukan jawaban.
Bersimpuh di Raudah
Kini, di tengah musim haji 2026 yang berjalan dalam ritme cepat, di antara cuaca yang menguras tenaga dan tugas yang nyaris tidak mengenal waktu, Lukman akhirnya berada di tempat yang selama bertahun-tahun mungkin hanya dikenalnya lewat kisah dan cerita orang.
Namun dari sekian banyak pengalaman yang dijalaninya, ada satu momen yang diam-diam merekam seluruh perjalanan panjang itu. Raudah.
Saat mendapat kesempatan menginjakkan kaki di ruang yang dekat makam Rasulullah SAW tersebut, seluruh perjalanan sejak 2022 seperti muncul kembali secara bersamaan ke dalam ingatannya.
Tentang kegagalan yang pernah terasa menyakitkan, tentang penantian panjang yang sempat membuatnya ingin berhenti, juga tentang rasa lelah yang pernah membuatnya berpikir bahwa mungkin jalan itu memang bukan miliknya.
Di tempat itulah seluruh pertahanan emosinya runtuh. Ia menangis sejadi-jadinya. Ia bersimpuh. Dan meluapkan seluruh rasa syukur yang selama ini mungkin hanya dipendam sendirian.
“Saya tumpahkan semuanya: rasa syukur, bahagia, haru, dalam satu rentetan doa panjang,” ujarnya.
Pelayan tamu Allah
Di titik itu, Lukman seperti memahami bahwa perjalanan empat tahun tersebut ternyata bukan sekadar tentang lolos atau tidak lolos menjadi petugas haji. Karena sesampainya di Tanah Suci, ia mendapati dirinya tak lagi hanya datang sebagai pencari berita.
Di sela tugas jurnalistiknya, ia ikut menggendong lansia, mengarahkan jemaah yang tersesat, membantu orang-orang yang kebingungan, serta hadir bagi mereka yang membutuhkan bantuan.
“Ada kebahagiaan yang menyentuh, yang diam-diam merambat dalam hati dengan getar yang terasa hangat kala membantu jemaah. Dan mungkin, di luar perjalanan ini, aku tak akan menemukan rasa yang sama,” kenang Lukman.
Dan mungkin setelah empat kali mencoba, berkali-kali kecewa, lalu nyaris menyerah di tengah jalan, Lukman Abdul Rozaq akhirnya memahami satu hal: ada perjalanan yang memang dipersiapkan lebih panjang agar seseorang tidak sekadar sampai, tetapi benar-benar mengerti arti dari kedatangannya.*
