MAKKAH – Ada masa ketika Lukman Abdul Rozaq mulai merasa bahwa mungkin tidak semua pintu memang ditakdirkan terbuka untuk dirinya. Perasaan itu datang bukan karena satu kegagalan, bukan pula karena satu-dua harapan yang berakhir tidak sesuai rencana.
Ia tumbuh perlahan, mengendap sedikit demi sedikit, setelah berkali-kali mencoba jalan yang sama, mengetuk pintu yang sama, lalu berkali-kali pula pulang dengan tangan kosong.
Bagi jurnalis CNN Indonesia itu, menjadi petugas haji sejak awal memang tidak pernah dipandang sebagai penugasan jurnalistik biasa. Ada sesuatu yang lebih personal di balik keinginan tersebut.
Ada perasaan yang sulit dijelaskan setiap kali melihat rekan-rekan sesama jurnalis berangkat menuju Tanah Suci, mengenakan atribut petugas haji, lalu pulang membawa cerita tentang melayani jemaah, membantu orang-orang yang kebingungan, atau sekadar bercerita tentang pengalaman menjadi bagian dari perjalanan spiritual jutaan tamu Allah.
Barangkali karena itulah, saat rekrutmen Media Center Haji (MCH) dibuka pada 2022, Lukman datang dengan optimisme yang cukup besar. Dengan pengalaman kerja lapangan yang telah lama dijalaninya sebagai jurnalis, ia merasa cukup siap menjalani proses tersebut.
Pintu yang belum jua terbuka
Saat itu ia membayangkan mungkin inilah waktunya, setelah sekian lama bekerja mengejar berbagai peristiwa, jalan menuju Tanah Suci akhirnya datang melalui cara yang tak pernah ia sangka.
Namun kenyataan ternyata bergerak dengan jalannya sendiri. Namanya tidak tercantum dalam daftar mereka yang lolos.
Saat rekan-rekan lain mulai bersiap mengurus keberangkatan, membayangkan hari-hari di Madinah dan Makkah, serta menghitung waktu menuju Tanah Suci, Lukman hanya bisa kembali pada rutinitas seperti biasa sambil menyimpan kecewa yang tak banyak diceritakannya kepada siapa pun.
“Kadang muncul iri dan kecewa, namun aku mencoba berbaik sangka. Mungkin waktunya belum layak untukku mengunjungi Baitullah,” ujarnya.
Keinginan menjadi pelayan tamu Allah rupanya belum benar-benar padam. Tahun berikutnya ia kembali mencoba. Lalu kembali gagal.
Dan saat 2024 datang, ujian yang diterimanya justru terasa lebih berat dibanding sebelumnya. Jika pada dua kesempatan awal ia setidaknya masih bisa melangkah hingga beberapa tahap, kali ini langkahnya bahkan terhenti lebih cepat setelah gugur di tahap administrasi.
Kegagalan yang datang berturut-turut itu perlahan tidak lagi terasa seperti hasil seleksi biasa. Ada sesuatu yang ikut terkikis bersamaan dengan waktu. Bukan hanya rasa percaya diri, tetapi juga tenaga dan keyakinan yang selama ini terus dipertahankan.
“Ada titik di mana fisik dan mental rasanya terkuras habis. Rasanya pintu itu seperti tertutup rapat,” kenangnya.
Empat tahun mungkin terdengar singkat ketika ditulis dalam angka. Tetapi bagi seseorang yang menjalani prosesnya satu demi satu, waktu sering kali terasa jauh lebih panjang. Ada hari-hari ketika seseorang mulai mempertanyakan dirinya sendiri, mulai mengukur ulang kemampuannya, bahkan diam-diam mulai bertanya apakah jalan yang sedang ditempuh memang benar ditujukan untuk dirinya.
Lukman sampai pada titik itu. Ia pernah merasa cukup. Pernah merasa lelah. Dan pernah berpikir bahwa mungkin dirinya tak perlu lagi mencoba.

