MAKKAH — Menteri Haji dan Umrah RI Mochamad Irfan Yusuf menegaskan fase Arafah, Muzdalifah, dan Mina (Armuzna) menjadi titik paling krusial dalam seluruh rangkaian ibadah haji karena mempertemukan jutaan jemaah dari berbagai negara di satu lokasi dalam waktu bersamaan. Karena itu, pemerintah menyiapkan skenario rinci untuk mengatur mobilitas jemaah agar pelaksanaan puncak haji berjalan lancar.
Irfan mengatakan proses pergerakan jemaah menuju Armuzna telah dirancang secara ketat, dimulai sejak 8 Zulhijah dengan pemberangkatan menuju Arafah secara bertahap.
“Armuzna ini adalah titik paling krusial dari proses haji karena di situlah seluruh jemaah haji dari seluruh dunia berkumpul di satu tempat, sehingga diperlukan persiapan yang sangat matang,” kata Irfan.
Menurut dia, jadwal pergerakan disusun dengan perhitungan rinci agar tidak terjadi kepadatan, baik di hotel maupun sepanjang jalur perjalanan menuju lokasi puncak haji.
“Jadwalnya sudah kita atur secara ketat, jangan sampai terjadi penumpukan baik di hotel maupun penumpukan di perjalanan,” ujarnya.
Setelah menjalani wukuf di Arafah pada 9 Zulhijah, jemaah akan bergerak menuju Muzdalifah dan Mina. Pemerintah juga menyiapkan sejumlah skema teknis, termasuk tanazul dan mabit murur, untuk mendukung kelancaran mobilitas jemaah.
Selain skema pergerakan, Kemenhaj meminta jemaah mempersiapkan kondisi fisik dan mental menjelang fase puncak ibadah haji.
“Kami juga menyiapkan, meminta pada jemaah untuk benar-benar menyiapkan fisik dan mental terkait dengan Arafah,” kata Irfan.
Persiapan konsumsi juga menjadi perhatian karena distribusi makanan saat fase Armuzna diperkirakan menghadapi tantangan akibat penutupan sejumlah jalur dan keterbatasan akses kendaraan. Untuk itu, Kemenhaj akan mengoptimalkan distribusi makanan siap santap atau Ready to Eat (RTE).
“Karena konsumsi selama hari Arafah ini memang sangat ribet, karena pergerakan kendaraan agak sulit, karena banyak jalan ditutup,” ujar Irfan.
Sementara itu, Amirulhaj Muhaimin Iskandar menyatakan optimistis seluruh skenario pelaksanaan Armuzna dapat berjalan baik. Ia menilai koordinasi lintas sektor, mulai Kementerian Haji, KBRI, KJRI hingga berbagai lembaga terkait, terus berjalan solid.
“Hari ini kita terus menunggu pematangan sekaligus pelaksanaan dari perencanaan Armuzna yang akan datang,” kata Muhaimin.
Menurut dia, penyelenggaraan haji tahun ini memiliki tantangan tersendiri karena menjadi pengalaman perdana Kementerian Haji menangani pelaksanaan ibadah haji secara penuh. Meski demikian, ia meyakini berbagai skenario teknis telah disiapkan secara matang.
“Sejarah pertama Kementerian Haji melaksanakan ini. Kita optimis dan yakin sepenuhnya berbagai skenario secara teknis telah dipersiapkan,” ujarnya.
Muhaimin juga mengingatkan keberhasilan penyelenggaraan haji tidak hanya ditentukan petugas, tetapi juga disiplin seluruh pihak, termasuk jemaah.
“Sekarang saatnya kita terus bekerja sama terutama penyelenggara, petugas, jemaah haji untuk disiplin, menjadi bagian integral dari suksesnya pelaksanaan ibadah haji 2026 ini,” katanya.
Dalam kesempatan yang sama, Wakil Menteri Agama yang turut melakukan pengawasan penyelenggaraan haji mengaku melihat perubahan signifikan dalam pola pelayanan yang disiapkan Kementerian Haji, terutama untuk fase Armuzna.
Ia menilai ada skenario yang sangat rinci dalam mengatur arus jemaah sejak keluar hotel hingga penempatan di tenda.
“Terkait dengan Armusna, yang istimewa saya lihat ada skenario yang rigid tentang bagaimana jemaah turun dari hotel sehingga tidak menumpuk di depan hotel,” katanya.
Ia juga menyoroti sistem penempatan tenda yang kini disiapkan lebih detail. Selain berdasarkan kloter, pemerintah disebut menyiapkan sistem identifikasi hingga tingkat individu.
“Bahkan direncanakan bukan cuman kloternya tapi per tenda ada by name. Saya kira ini mimpi besar yang dirindukan oleh segenap jemaah haji dari Indonesia,” ujarnya.
Selain itu, ia mengapresiasi kesiapan layanan kesehatan dan skenario penanganan jemaah berkebutuhan khusus, termasuk pengaturan murur dan tanazul.
Menurutnya, perhatian serius terhadap pelayanan jemaah juga mendapat apresiasi dari Pemerintah Arab Saudi.
“Pertama tentang teknik pelaksanaan yang semakin baik, petugas yang semakin profesional, dan pelayanan kesehatan yang juga semakin baik,” katanya.
