MAKKAH – Pimpinan Pondok Modern Darussalam Gontor, Ponorogo, KH Hasan Abdullah Sahal, mengingatkan para alumni dan keluarga besar Gontor agar tidak kehilangan jati diri di tengah perubahan zaman yang dinilainya semakin kompleks. Pesan itu ia sampaikan saat menghadiri tajammu’ (pertemuan) jemaah haji alumni Gontor di Kota Makkah.
Di hadapan para peserta, KH Hasan menyebut pertemuan di Tanah Suci memiliki makna yang lebih dari sekadar silaturahmi. Menurutnya, perjumpaan di bulan suci, di tanah suci, dan dalam momentum ibadah haji merupakan nikmat yang tidak mudah diungkapkan dengan kata-kata.
Ia juga menyinggung momentum perjalanan Gontor yang menuju usia satu abad. KH Hasan berharap silaturahmi antargenerasi Gontor tetap terjaga dan pondok terus berdiri kokoh.
“Pondok kita insya Allah diabadikan seabadi Islam,” ujarnya, Selasa (19/5/2026).
Dalam ceramahnya, KH Hasan banyak berbicara soal identitas, karakter, dan pentingnya menjaga nilai dasar Gontor di tengah tantangan zaman. Ia menyebut Gontor lahir bukan dari ruang kosong, melainkan dari inspirasi besar para pendirinya di tengah situasi sosial dan politik Indonesia sebelum kemerdekaan.
“Antum (kalian) harus mempunyai dan harus menjadi inspirator-inspirator,” pesannya.
Menurut KH Hasan, alumnus Gontor tidak cukup hanya hadir di berbagai bidang, tetapi juga harus menjadi penggerak dan sumber inspirasi bagi lingkungan di sekitarnya.
Di bagian lain, ia mengingatkan pentingnya evaluasi diri. Bahkan menggunakan istilah yang tidak lazim: ‘mencurigai’ diri sendiri, terutama soal kualitas iman.
“Kamu harus curiga. Saya ini haji beneran apa enggak?” katanya. “Curigailah imanmu. Tuduhlah imanmu.”
Baginya, seseorang tidak boleh cepat merasa selesai hanya karena memiliki jabatan, gelar, atau status sosial tertentu. Profesor, kiai, pejabat, maupun tokoh publik, menurut dia, tetap harus terus mengoreksi dirinya.
Pentingnya optimisme
KH Hasan juga menyinggung situasi global yang menurutnya dipenuhi berbagai bentuk distorsi nilai dan krisis kejujuran. Ia menggambarkan zaman ini sebagai masa yang penuh ujian, ketika kebenaran sering kali sulit menemukan ruang.
Meski demikian, dia tetap menekankan pentingnya optimisme. “Yang benar pasti menang. Kalau suatu masa kebenaran itu kalah, karena persyaratannya tidak sempurna,” ujarnya.
Dalam kesempatan itu, ia juga kembali menekankan pentingnya menjaga nilai “Panca Jiwa” Gontor yang selama ini menjadi fondasi pendidikan pondok: keikhlasan, kesederhanaan, berdikari, ukhuwah Islamiyah, dan kebebasan.
KH Hasan mengungkapkan, selain empat nilai yang selama ini populer, pendiri Gontor juga menambahkan satu unsur lain yang menurutnya kerap terlupakan: jiwa besar.
Ia kemudian membacakan catatan dan doa peninggalan almarhum ayahnya yang memuat harapan agar generasi penerus memiliki karakter “berbudi tinggi, berbadan sehat, berpengetahuan luas, berpikiran bebas, dan berjiwa besar”.
“Banyak anak alumni yang meninggalkan itu akhirnya,” katanya.
Di akhir tausiyah, KH Hasan mengajak seluruh peserta menjaga kekuatan dan keunggulan masing-masing, tanpa kehilangan identitas. “Keunggulan jangan disombongkan, kembangkan. Aibnya kamu tutupi,” pesannya.
Ceramah itu beberapa kali diselingi humor khas KH Hasan Abdullah Sahal yang memancing tawa hadirin. Namun di balik suasana cair itu, pesan yang berulang ia tekankan tetap sama: menjaga karakter, merawat nilai pesantren, dan terus mengoreksi diri.*
