Rumah yang lain
Pengorbanan terbesar Hanum selama bertugas di Tanah Suci sebenarnya sederhana: jauh dari rumah. Ia harus meninggalkan suami, ibu, kakak-kakak, keponakan, teman kantor, bahkan kucing peliharaannya.
Ada rasa rindu yang terus datang diam-diam setiap malam. “Kadang hati teriris kalau ingat rumah,” tuturnya.
Tetapi di tengah rasa rindu itu, ia mencoba meyakinkan dirinya sendiri bahwa perjalanan ini adalah ibadah. “Saat ini gue lagi pulang ke rumah yang lain,” ujarnya.
Rumah yang lain itu bernama Makkah.
Meski belum memasuki puncak ibadah haji, Hanum sudah banyak merenungkan makna perjalanan spiritual ini. Di kepalanya, haji adalah simbol kepasrahan total manusia kepada Tuhan.
Ia banyak merefleksikan kisah Nabi Ibrahim, Siti Hajar, dan Nabi Ismail. Tentang bagaimana manusia sebenarnya sering tidak memahami rencana Allah, tetapi tetap diminta taat menjalankannya.
“Haji itu membingungkan, dalam arti manusia memang harus sadar kalau kita enggak tahu apa-apa,” katanya.
Baginya, perjalanan ini adalah salah satu milestone (tonggak sejarah) terbesar dalam hidup. Bukan karena gelar hajinya. Bukan pula karena status sosial. Melainkan karena perjalanan ini menjadi usaha untuk mendekatkan diri kepada Allah.
“Ini bukan jaminan masuk surga. Tapi setidaknya ada usaha untuk mencari rida Allah,” kata Hanum.
Sebenarnya, jauh sebelum berangkat, Hanum sudah sering melihat teman-temannya menjadi petugas haji. Dan setiap kali melihat itu, hatinya selalu hangat.
Ia kagum pada orang-orang yang datang ke Tanah Suci bukan hanya untuk beribadah pribadi, tetapi juga membantu jutaan jemaah Indonesia.
“Gue pengen berangkat buat nolongin masyarakat Indonesia,” katanya. “Terutama para lansia.”
Baginya, melihat orang-orang tua tetap bersemangat menjalankan ibadah di usia senja adalah pemandangan yang selalu menyentuh hati. “Hati gue selalu hangat lihat lansia,” ujarnya.
Bahagia nan sederhana
Di sela tugas yang melelahkan, ada kebiasaan kecil yang terus ia lakukan setiap hari: video call dengan suaminya. Hal sederhana itu membuat rasa rindunya sedikit terobati. Namun di luar semua itu, ada satu hal kecil yang paling membahagiakannya selama di Tanah Suci: membuat orang lain tersenyum.
Menurutnya, kebahagiaan ternyata bisa hadir dari hal-hal yang sangat sederhana. Bahkan hanya dari menyapa jemaah asing dengan bahasa mereka sendiri.
Ia pernah mencoba berbicara dengan jemaah Turki menggunakan bantuan penerjemah digital. Dan ternyata respons kecil itu membuat orang lain begitu senang.
“Ternyata simpel banget bikin orang lain bahagia,” kata Hanum sembari tersenyum.
Ada juga perjuangan kecil yang mungkin tidak diketahui banyak orang. Di Jakarta, Hanum terbiasa mendengarkan musik hampir setiap saat. Tetapi selama di Tanah Suci, ia mencoba mengubah kebiasaan itu.
Ia menggantinya dengan murattal Al-Qur’an atau siaran langsung dari Masjidil Haram. Karena ia sadar belum tentu momentum spiritual seperti ini bisa terulang lagi dalam hidupnya.
Manusia itu kecil
Perjalanan di Tanah Suci juga mengubah banyak cara pandangnya tentang kehidupan. Salah satu yang paling ia syukuri adalah dipertemukan dengan tim kerja yang hangat dan suportif di Daker Makkah. Baginya, lingkungan kerja yang baik adalah berkah besar; kerja dikelilingi orang-orang baik.
Dan dari semua pengalaman itu, ada satu kesimpulan besar yang terus tertanam di kepalanya: “Manusia itu kecil.”
Kalimat itu terus ia ulang-ulang. Karena di Tanah Suci, ia merasa manusia sering terlalu sombong. Terlalu sibuk mengejar dunia. Terlalu sering menunda ibadah. Termasuk dirinya sendiri.
Ia berharap sepulang dari Makkah nanti, ia bisa membawa pulang satu hal penting: kekhusyukan dalam beribadah dan kemampuan untuk lebih berserah kepada Allah. “Semoga ibadah gue jadi lebih khusyuk,” katanya lirih.
Ketika ditanya, sebenarnya untuk apa ia datang ke Tanah Suci, Hanum terdiam cukup lama. Ia kemudian menarik napas pelan sebelum menjawab, “Menjadi manusia yang berdaya dan berserah.”*
