MADINAH – Tidak semua orang yang datang ke Makkah benar-benar siap dengan apa yang akan mereka rasakan. Ada yang membayangkan akan sibuk beribadah. Ada yang datang dengan daftar doa panjang. Ada pula yang merasa sudah cukup kuat menghadapi segala suasana di Tanah Suci.
Namun, Azizah Hanum justru merasa seluruh pertahanannya runtuh begitu pertama kali menginjakkan kaki di Masjidil Haram.
Jurnalis perempuan yang tergabung dalam Media Center Haji (MCH) 2026 Daerah Kerja Makkah itu bahkan tak mampu menjelaskan apa yang dirasakannya. “Momen paling berkesan itu ketika pertama kali menginjakkan kaki di Masjidil Haram,” ucapnya.
Suaranya sempat terhenti beberapa kali. Karena bagi Hanum, semua itu seperti sesuatu yang terlalu besar untuk dipahami.
Ia tidak pernah membayangkan bisa berada di sana. Menjadi wartawan peliput haji, menjadi petugas haji. Menjalankan ibadah di depan Ka’bah secara langsung. Semua terasa begitu jauh dari kehidupan yang selama ini ia jalani.
“Gue enggak pernah kepikiran bakal sampai sini,” lanjutnya dengan suara pelan.
Dan ketika Ka’bah benar-benar berdiri di depan matanya, air mata itu langsung jatuh tanpa bisa dihentikan. “Gue enggak bisa berhenti nangis,”
Kebaikan Allah
Di depan bangunan suci yang selama ini hanya ia lihat di televisi dan buku-buku agama, Hanum mendadak merasa sangat kecil. Ada gumpalan haru, takut, malu, sekaligus syukur yang bercampur jadi satu. “Kayak merasa belum pantas ada di sini,” ucapnya.
Di tengah lautan manusia yang thawaf tanpa henti, ia justru sibuk mempertanyakan dirinya sendiri. Kenapa Allah begitu baik kepadanya? Apa yang sudah ia lakukan sampai akhirnya bisa berada di tempat sesuci itu? Ia bahkan sempat kehilangan kata-kata. “Udah enggak bisa ngomong apa-apa lagi.”
Ada satu momen lain yang juga membuatnya berhenti sejenak. Saat sedang berada di sekitar Ka’bah, pikirannya tiba-tiba seperti diputar ulang. Semua kesalahan, kegagalan, dan hal-hal buruk dalam hidupnya muncul bergantian di kepala.
Ia merasa seperti sedang diingatkan bahwa manusia sesungguhnya tidak punya apa-apa. “Kita cari kehidupan, cari dunia, tapi ternyata dekat sama Ka’bah tuh bikin sadar manusia kecil banget,” kata Hanum.
Di tempat itu, ia merasa seluruh kesombongan manusia runtuh begitu saja. “Seujung kuku saja kita enggak ada apa-apanya dibanding semua yang Allah punya,” ujarnya.
Dan lagi-lagi, ia hanya bisa terdiam. Tak mampu bersuara.
Rutinitas yang membekap
Sebelum berangkat ke Tanah Suci, kehidupan Hanum sebenarnya sederhana. Ia baru menikmati peran sebagai seorang istri. Pagi-pagi sekali sudah berangkat bekerja demi siaran Subuh.
Sebagai jurnalis yang bekerja di salah satu televisi nasional, Hanum kadang harus keluar rumah sejak pukul tiga dini hari dan baru pulang sore. Rutinitas itu berjalan terus setiap hari.
“Kalau pulang ya ketemu suami, beres-beres rumah, masak, terus menikmati waktu bareng pasangan,” ungkap jurnalis Emtek Media—induk dari SCTV, Indosiar, dan platform streaming Vidio—ini.
Di usia sekarang, kata Hanum, rumah justru menjadi tempat ternyaman baginya. Bukan lagi keramaian kota. Bukan tempat nongkrong. Bukan pula hiruk-pikuk pekerjaan.
Ketika ditanya perjalanan hidup apa yang paling berpengaruh hingga akhirnya bisa menjadi petugas haji, Hanum tidak langsung menjawab soal karier atau keberuntungan. Ia justru bicara tentang visi hidup. Tentang bagaimana dirinya selalu percaya bahwa menolong orang lain adalah bentuk ibadah.
“Membahagiakan sekali rasanya bisa menolong orang sekaligus beribadah,” katanya.
Sebagai jurnalis, ia merasa kesempatan menjadi petugas haji memberi makna yang jauh lebih besar terhadap pekerjaannya. Karier yang selama ini dijalani mendadak terasa memiliki nilai yang lebih dalam.
Perempuan beruntung
Soal kehidupan pribadi, Hanum mengaku termasuk orang yang beruntung. Sejak kecil, ia tidak pernah benar-benar merasa kekurangan. Orang tuanya selalu berusaha mencukupi kebutuhan keluarga.
Namun sejak mulai bekerja sebagai wartawan, bahkan sebelum lulus kuliah, ia memilih untuk tidak lagi meminta uang kepada orang tua. “Gue pengen belajar cukup dari penghasilan sendiri.”
Meski gaji wartawan tidak besar, ia berusaha bertahan dengan apa yang dimiliki. Sedikit demi sedikit, ia mulai bisa mandiri. Bahkan membantu orang tua. Dan bagi Hanum, itu menjadi kebahagiaan tersendiri. “Aku bisa kasih orang tua dari hasil kerja sendiri,” ucapnya bangga.
Tetapi seperti manusia lain pada umumnya, Hanum juga merasa ibadahnya belum sempurna. Ia mengaku sering kalah oleh urusan dunia. Di Jakarta, kata dia, kadang kaki terasa berat untuk melakukan shalat.
Bahkan ada masa ketika pekerjaan selalu menjadi prioritas utama dibanding ibadah. Jika ada recording (siaran rekaman) dan shalat, ia lebih mengutamakan recording. Dan itu menjadi salah satu penyesalan terbesar dalam hidupnya.
Namun setahun terakhir sebelum berangkat ke Tanah Suci, ia mulai perlahan memperbaiki diri. Mulai belajar lebih disiplin menjaga ibadah. “Alhamdulillah mulai dibenerin sedikit-sedikit,” ucap Hanum.
