Undangan Allah
Di tengah tugas yang padat, Aljumanto tetap memandang perjalanan ini sebagai sesuatu yang sangat sakral. Baginya, haji adalah pelengkap rukun Islam.
Tetapi lebih dari itu, ia percaya dirinya datang ke Tanah Suci karena dipanggil langsung oleh Allah. “Ini undangan langsung dari Allah melalui saya menjadi petugas,” katanya.
Karena itu, niat utamanya sejak awal sederhana: melayani jemaah terlebih dahulu. Namun bila Allah memberi kesempatan untuk menyempurnakan rukun Islamnya, ia tentu tidak ingin menyia-nyiakannya.
Selama berada di Tanah Suci, Aljumanto mengaku cukup sering menangis. Terutama saat pertama kali melihat Baitullah dan ketika berada di Masjid Nabawi. Ada banyak hal yang tiba-tiba muncul di kepalanya.
Tentang orang tua. Tentang keluarga. Tentang doa-doa titipan dari saudara dan teman-temannya di Indonesia. Semua itu seperti ikut hadir bersamanya di depan Ka’bah.
Ia juga berusaha menjaga ibadah selama di Tanah Suci. Salah satu yang paling ia upayakan adalah tahajud. Meski ia mengaku tidak selalu kuat karena kelelahan setelah bertugas.
“Tahajud. Itu pun kalau bangun dan enggak capek,” jawabnya saat ditanya apa ibadah terberat di Tanah Suci.
Jawaban yang sederhana, jujur, dan sangat manusiawi.
Senyum jemaah
Bekerja di Daker Bandara membuat Aljumanto banyak melihat wajah-wajah haru para jemaah ketika tiba di Madinah dan Jeddah.
Ada yang menangis begitu turun dari pesawat. Ada yang langsung bersujud. Ada pula yang hanya bisa diam sambil memandangi langit Arab Saudi.
Dan dari semua itu, satu hal kecil yang paling membekas baginya justru sangat sederhana: senyuman jemaah. Menurutnya, itu cukup untuk membuat semua rasa lelah terbayar.
Tetapi di balik semua pengalaman spiritual itu, ada satu perjuangan yang diam-diam terus ia hadapi setiap hari: menahan rindu kepada ibunya. Rindu itu datang terutama di malam hari, saat pekerjaan mulai selesai dan suasana mendadak tenang.
Namun justru dari perjalanan ini pula, cara pandang Aljumanto terhadap hidup berubah. Ia merasa dunia yang selama ini terlihat begitu besar ternyata sangat kecil. Masalah-masalah hidup yang dulu terasa berat mendadak tampak sepele ketika berdiri di depan Ka’bah.
Ada satu kesadaran lain yang juga terus menempel di kepalanya selama berada di Tanah Suci. Bahwa manusia sebenarnya tidak punya kuasa apa-apa. Kesehatan, kekuatan, bahkan kemampuan berdiri dan bekerja di Tanah Suci semuanya hanyalah pemberian Allah.
“Kita tidak punya kuasa apa-apa tanpa izin-Nya,” ia menegaskan.
Dan mungkin, di situlah seluruh perjalanan ini menemukan maknanya.
Bagi Tri Aljumanto, seorang ‘buruh media’ yang kini berdiri di Tanah Suci sebagai petugas haji, perjalanan ini bukan tentang status atau kebanggaan pribadi. Melainkan tentang belajar melayani sesama sambil memahami betapa kecilnya manusia di hadapan Tuhan.
“Saya datang untuk melayani sesama,” katanya. Lalu terdiam sejenak sebelum melanjutkan kalimat terakhirnya. “Dan pulang dengan kesadaran bahwa tanpa izin-Nya, saya bukan siapa-siapa.”*
