MADINAH – Di tengah ribuan petugas haji yang datang ke Tanah Suci dengan latar belakang berbeda-beda, Tri Aljumanto memilih memperkenalkan dirinya dengan cara yang sederhana.
“Saya hanya buruh media.”
Tidak ada kalimat besar. Tidak ada cerita berlebihan. Tetapi justru dari kesederhanaan itu, perjalanan spiritual anggota Media Center Haji (MCH) 2026 Daerah Kerja Bandara ini terasa begitu manusiawi.
Sebab sebelum menjadi petugas haji, Aljumanto hanyalah pekerja media yang hidup dengan rutinitas biasa: mengejar berita, memenuhi target kerja, dan menjalani hidup seperti kebanyakan orang lainnya.
Sampai akhirnya sebuah kesempatan datang. Ia dipercaya pimpinannya di kantor untuk menjadi petugas haji sekaligus menyampaikan informasi kepada masyarakat Indonesia dari Tanah Suci.
“Dikasih kesempatan oleh pimpinan untuk menjadi petugas sekaligus pemberi informasi ke warga +62,” tutur wartawan Detik.com ini.
Dan sejak saat itulah hidupnya berubah.
Ibarat pulang ke rumah
Momen yang paling membekas dalam dirinya terjadi ketika pertama kali melihat Ka’bah tanpa penghalang.
Saat itu, Aljumanto mengaku seperti kehilangan kata-kata. “Sujud pertama kali itu seperti waktu berhenti,” ungkapnya.
Haru yang datang bersamaan dengan isak, dada yang terasa sesak. Ada perasaan yang sulit dijelaskan ketika akhirnya benar-benar berdiri di hadapan Baitullah. Ia merasa seperti pulang ke rumah.
Tetapi di saat yang sama, ia juga merasa dirinya begitu kecil. “Ya Allah, hamba-Mu ini sangat kecil,” ucapnya lirih.
Di depan Ka’bah, semua hal yang selama ini terlihat besar dalam hidup mendadak runtuh begitu saja. Pekerjaan, jabatan, masalah hidup, ambisi dunia: semua terasa tak berarti.
“Saat melihat Ka’bah, ternyata kita ini sangat kecil di mata Allah.”
Meninggalkan ibu
Perjalanan menuju Tanah Suci bagi Aljumanto sebenarnya tidak ia bayangkan akan serumit atau seberat itu. Ia merasa semua seperti dipermudah. Secara fisik pun ia merasa masih cukup kuat menjalani seluruh aktivitas selama bertugas.
Meski begitu, ada satu hal yang paling berat untuk ditinggalkan selama berada jauh di Arab Saudi: ibunya.
“Meninggalkan orang tua, terutama ibu.”
Kalimat itu keluar singkat, tetapi terasa paling dalam. Karena bagi Aljumanto, pengorbanan terbesar dalam perjalanan ini bukan soal tenaga atau pekerjaan yang ditinggalkan di Indonesia. Melainkan waktu bersama sang ibu yang harus dikorbankan selama bertugas di Tanah Suci.
Sebelum berangkat, Aljumanto membayangkan haji sebagai ibadah yang sangat menguras fisik. Ia tahu ritual haji membutuhkan stamina kuat karena melibatkan aktivitas panjang selama berhari-hari.
Dan ketika benar-benar menjalani semua itu, ia membenarkan bayangannya. Tubuh memang lelah. Tenaga terkuras. Jam istirahat berkurang.
Namun ada satu hal yang membuat semua rasa capek itu seperti hilang begitu saja. “Lelah fisik tertutup oleh ketenangan,” ujarnya.
Apalagi ketika melihat senyum jemaah yang mereka layani di bandara Madinah maupun Jeddah. Baginya, senyum para tamu Allah itu seperti energi baru.
“Semua lelah terasa terisi kembali saat melihat jemaah tersenyum.”
