Menjaga ibadah
Di kampung halaman, kehidupan Nurmatias sebenarnya biasa saja. Ia berdagang bersama istrinya selepas pensiun. Tidak pernah merasa hidup terlalu berat, meski perjalanan menuju haji membutuhkan waktu belasan tahun. “Kalau niatnya ada, insya Allah dimudahkan,” katanya.
Dulu, ia bahkan tidak pernah membayangkan bisa berangkat haji. Tetapi doa dan usaha perlahan membawanya sampai ke titik ini. Satu hal yang paling ia syukuri adalah istiqamah menjaga ibadah sejak masih di Indonesia.
Ia rutin salat berjamaah, tahajud, membaca Al-Qur’an, dan mengikuti kajian di masjid dekat pasar tempatnya berdagang di Bukittinggi. “Habis Asar sampai Subuh ada kajian,” katanya.
Rutinitas itu yang perlahan menguatkan batinnya selama menunggu antrean panjang menuju Tanah Suci.
Tangis di Raudhah
Sebelum berangkat, Nurmatias membayangkan haji sebagai perjalanan luar biasa yang berbeda dari umrah. Dan ternyata bayangan itu benar. “Haji ini luar biasa rasanya,” ujarnya.
Apalagi ketika masuk Raudhah. Di tempat itu, air matanya akhirnya pecah. Ia menangis. Bukan hanya karena haru bisa sampai di Kota Nabi.
Tetapi juga karena ada rasa tak percaya bahwa dirinya benar-benar diberi kesempatan datang sejauh ini. “Enggak kepikiran bisa sampai sini.”
Hal yang paling menyentuh baginya adalah berada dekat makam Rasulullah. Di titik itu, ia merasa seluruh perjalanan hidupnya seperti diputar kembali. Tentang perjuangan hidup. Tentang keluarga. Tentang anak yang telah pergi lebih dulu.
Meski demikian, Nurmatias mengaku masih punya harapan-harapan besar yang terus dipanjatkan di Tanah Suci. Salah satunya terdengar sederhana, tetapi begitu tulus.
Ia ingin suatu hari bisa ikut membangun masjid. “Kalau Allah berkehendak, mungkin saja terjadi,” ucap lelaki 71 tahun ini.
Di usia yang tak lagi muda, ia justru lebih banyak memikirkan bekal akhirat dibanding urusan dunia. Sepulang dari haji nanti, ia ingin membawa pulang sesuatu yang lebih penting daripada oleh-oleh.
Ia ingin membawa pulang pelajaran hidup untuk anak-cucu. “Supaya betul-betul beragama dengan benar,” harapnya.
Ia bersyukur karena dua cucunya kini sudah masuk pesantren di Pekanbaru. Menurutnya, itu menjadi salah satu kebahagiaan terbesar setelah berbagai ujian yang pernah datang dalam hidup mereka.
Kini, di tengah jutaan manusia yang memadati Tanah Suci, Nurmatias Kari Sutan tetap menyimpan satu rasa yang tak pernah benar-benar hilang. Rindu kepada anak perempuannya.
Anak yang dulu sempat diajak umrah bersama keluarga. Anak yang sakitnya membuat keberangkatan haji mereka tertunda. Anak yang akhirnya pergi lebih dulu sebelum sempat melihat kedua orang tuanya menyempurnakan rukun Islam kelima.
Tetapi mungkin, di depan Ka’bah dan di dekat makam Rasulullah, Nurmatias mulai belajar satu hal: bahwa tidak semua kehilangan benar-benar kepergian. Sebagian tetap tinggal di hati, lalu terbawa dalam tiap doa yang dipanjatkan di Tanah Suci.*
