MADINAH – Belasan tahun lalu, Nurmatias Kari Sutan dan istrinya hanya punya satu niat sederhana: menabung agar suatu hari bisa berangkat haji bersama. Tidak ada cerita mewah.
Mereka bukan pengusaha besar. Bukan pula keluarga berada. Sang istri pensiunan guru, sementara Nurmatias sehari-hari berdagang setelah pensiun sebagai pegawai kantor pos.
Tetapi dari kehidupan yang sederhana itu, keduanya perlahan menyisihkan uang sedikit demi sedikit.
“Tahun 2012 mulai daftar di BNI Syariah,” kata Nurmatias, jemaah asal Bukittinggi yang tergabung dalam Kloter PDG 7.
Sejak saat itu, hidup mereka berjalan seperti biasa. Berdagang, mengurus keluarga, dan menunggu panggilan menuju Tanah Suci yang tak kunjung datang cepat.
Mereka sebenarnya dijadwalkan berangkat pada 2023. Namun pandemi Covid-19 membuat semuanya tertunda.
Belum selesai menunggu akibat pandemi, mereka kembali mendapat ujian lain. Status keberangkatan mereka masuk kategori porsi cadangan. Dan itu berarti tidak bisa membawa pendamping.
Padahal, di saat yang sama, keluarga mereka sedang menghadapi cobaan besar. Anak kedua mereka jatuh sakit. Awalnya, keluarga itu masih berharap semua akan baik-baik saja.
Tetapi kondisi sang anak terus menurun. Sang anak yang bekerja di Jakarta akhirnya dijemput keluarga dan dibawa berobat ke Penang, Malaysia. Di sana, dokter menyatakan penyakitnya sudah stadium empat. “Kanker ovarium,” ujar Nurmatias lirih.
Suasana wawancara mendadak hening. Ia lalu melanjutkan cerita dengan suara yang mulai berat. “Dua puluh satu hari di Penang, anak saya meninggal.”
Kalimat itu keluar pelan, nyaris tanpa ekspresi. Tetapi justru di situlah kesedihannya terasa begitu dalam.
Anak kedua yang dulu ikut didaftarkan umrah bersama keluarga itu akhirnya pergi lebih dulu sebelum sempat melihat Tanah Suci lagi.
Tanpa kehadiran sang putri
Perjalanan menuju haji akhirnya bukan lagi sekadar soal tabungan dan antrean panjang. Ada duka yang ikut dibawa sampai ke Makkah dan Madinah.
Karena itu, ketika pertama kali tiba di Tanah Suci, ada satu nama yang terus muncul di kepala Nurmatias: anak perempuannya. “Kalau sampai sini, saya ingat anak saya,” katanya pelan sembari terisak.
Ia mengaku sebenarnya sudah pernah umrah sebelumnya. Bahkan pada 2016, almarhumah anaknya sempat ikut bersama keluarga. Tetapi haji terasa berbeda. Ada rasa haru yang sulit dijelaskan. Ada kehilangan yang diam-diam ikut berjalan di setiap langkah ibadahnya.
Rombongan Kloter PDG 7 tiba malam hari di Madinah. Mereka langsung menuju hotel untuk beristirahat. Belum sempat banyak melihat suasana kota Nabi. Baru keesokan harinya Nurmatias mulai masuk Raudhah.
Dan seperti banyak jemaah lain, laki-laki itu membawa doa-doa panjang untuk keluarga yang ditinggalkan di kampung halaman. “Doanya ya dunia akhirat, keluarga, anak-anak,” ucapnya.
Kalimatnya sederhana. Tetapi di wajahnya terlihat jelas: ada doa khusus yang mungkin tak sanggup ia ucapkan panjang-panjang di depan orang lain.
