MADINAH — Di pinggir Kota Madinah, sekitar 10 kilometer dari Masjid Nabawi, berdiri sebuah kompleks raksasa yang nyaris tak pernah tidur. Mesin-mesin di dalamnya bekerja siang dan malam. Ribuan lembar kertas meluncur cepat, dijahit, diperiksa, lalu dijilid menjadi mushaf suci yang kelak tersebar ke berbagai penjuru dunia Islam.
Itulah Kompleks Percetakan Al-Qur’an Raja Fahd di Madinah—tempat yang disebut sebagai percetakan Al-Qur’an terbesar di dunia.
Kompleks ini bukan sekadar pabrik percetakan biasa. Ia adalah simbol ambisi besar Arab Saudi dalam mendistribusikan mushaf Al-Qur’an ke seluruh dunia, dari Asia hingga Afrika, dari masjid-masjid kecil di pelosok desa sampai pusat-pusat studi Islam internasional.
Didirikan pada awal 1980-an atas prakarsa Raja Fahd bin Abdul Aziz, kompleks tersebut resmi beroperasi pada 1984-1985 dan hingga kini terus berkembang menjadi pusat produksi mushaf terbesar di dunia Islam.
Di dalam kawasan seluas sekitar 250 ribu meter persegi itu, aktivitas berlangsung nyaris tanpa jeda. Ada gedung percetakan utama, ruang pengawasan kualitas, pusat penerjemahan, gudang distribusi, hingga fasilitas rekaman tilawah dan pengembangan digital Al-Qur’an.
Setiap tahun, jutaan mushaf diproduksi dari tempat ini. Sejumlah sumber menyebut kapasitas produksinya mencapai 10 hingga 18 juta mushaf per tahun, dengan dukungan lebih dari seribu pekerja dan sistem produksi yang berjalan 24 jam.
Namun yang membuat kompleks ini begitu istimewa bukan hanya skalanya. Di balik suara mesin cetak dan aroma tinta, terdapat proses pengawasan yang sangat ketat. Setiap huruf, tanda baca, hingga susunan ayat diperiksa berulang kali oleh tim ulama, penghafal Al-Qur’an, dan ahli qiraat. Bahkan, beberapa proses pengecekan dilakukan menggunakan kaca pembesar untuk memastikan tak ada satu pun kesalahan cetak.
Nama kaligrafer kenamaan Utsman Taha juga menjadi bagian penting dari sejarah kompleks ini. Tulisan tangannya menjadi rujukan mushaf Madinah yang kini dikenal luas dan digunakan di banyak negara Muslim.
Transliterasi ke beragam bahasa
Tak berhenti pada bahasa Arab, kompleks ini juga menerjemahkan Al-Qur’an ke puluhan bahasa dunia, termasuk bahasa Indonesia. Beberapa sumber menyebut terjemahan tersedia dalam 39 hingga 78 bahasa, termasuk versi braille bagi tunanetra dan bahasa isyarat.
Di musim haji dan umrah, kompleks ini menjadi salah satu destinasi favorit jemaah Indonesia. Banyak rombongan datang bukan sekadar untuk wisata, melainkan menyaksikan langsung bagaimana mushaf Al-Qur’an diproduksi dengan teknologi modern sekaligus pengawasan religius yang ketat.
Di dalam area kunjungan, jemaah bisa melihat lembaran-lembaran Al-Qur’an bergerak cepat di mesin cetak berukuran besar, lalu berpindah ke tahap penjilidan dan pengecekan akhir sebelum dikemas untuk didistribusikan ke berbagai negara.
Menariknya, hampir setiap pengunjung biasanya mendapat mushaf Al-Qur’an gratis sebagai cendera mata. Kompleks ini juga menjadi wajah lain diplomasi keagamaan Arab Saudi. Mushaf-mushaf yang dicetak di Madinah rutin dikirim ke masjid, lembaga pendidikan Islam, pusat dakwah, hingga komunitas Muslim minoritas di berbagai belahan dunia.
Bagi banyak jemaah Indonesia, berkunjung ke tempat ini menghadirkan pengalaman berbeda: melihat bagaimana kitab suci yang mereka baca setiap hari ternyata lahir dari proses panjang, presisi tinggi, dan pengawasan luar biasa ketat.
Siti Roufah, jemaah haji asal Gresik yang tergabung dalam Kloter SUB 4, termasuk salah satu jemaah haji Indonesia yang kagum dengan keberadaan percetakan Al-Qur’an ini. Ia tak henti menatap ruangan besar percetakan yang selama ini hanya ia dengar dari cerita dan televisi.
Di tempat inilah jutaan mushaf Al-Qur’an dicetak lalu dikirim ke berbagai penjuru dunia. “Hebat, negara-negara di dunia bisa baca Quran semuanya karena adanya percetakan ini,” ujar Siti dengan mata berbinar, Kamis (7/5/2026).
Bagi perempuan asal Gresik itu, kunjungan ke percetakan Al-Qur’an terbesar di dunia tersebut bukan sekadar wisata religi. Ada rasa haru sekaligus syukur yang sulit ia sembunyikan. “Semoga anak dan cucu saya bisa memelihara Alquran sampai akhir hayat,” harapnya.
Kunjungan ke Percetakan Al-Qur’an King Fahd memang menjadi salah satu agenda yang paling berkesan bagi banyak jemaah Indonesia di Madinah.
Saat diajak berkeliling, Siti mengaku kagum melihat besarnya area percetakan dan proses kerja di dalamnya. “Pabriknya besar sekali,” ucapnya sambil beberapa kali mengucap hamdalah.
Sepanjang kunjungan, ia tampak lebih banyak memerhatikan detail-detail di dalam kompleks percetakan. Mulai dari barisan ruang produksi hingga area distribusi mushaf.
Bagi jemaah yang baru pertama kali menginjakkan kaki di Tanah Suci, pengalaman itu menjadi momen yang membekas.*
