MADINAH – Suasana Minggu (3/5/2026) siang itu di depan Hotel Taiba, Madinah, tampak seperti hari-hari biasa kedatangan jemaah haji Indonesia. Bus demi bus berhenti menurunkan para tamu Allah yang baru tiba dari Bandara Internasional Pangeran Muhammad Bin Abdul Aziz (AMAA).
Para wartawan yang tergabung dalam Media Center Haji (MCH) PPIH Arab Saudi 2026 sibuk menjalankan tugas peliputan. Kamera menyala. Mikrofon diarahkan. Dokumentasi dilakukan untuk kebutuhan televisi, media online, cetak, hingga konten digital.
Tak ada yang menyangka, di salah satu kursi bus Kloter YIA 9 (Yogyakarta), duduk seorang jemaah haji berusia 103 tahun: Mardijiyono Karto Sentono. Jemaah haji tertua yang tergabung dalam Gelombang I.
Di tengah aktivitas liputan, Ahmad Nuril Fahmi, wartawan Times Indonesia, spontan membantu seorang lansia yang tampak kesulitan turun dari bus. Tanpa banyak tanya, ia langsung menawarkan bantuan.
“Saya tidak tahu yang saya gendong itu Mbah Mardijiyono,” tuturnya. “Saya hanya melihat ada jemaah haji yang sudah sepuh dan kesulitan turun dari bus. Terus saya tawarkan untuk saya gendong, dan beliau setuju.”
Momen itu berlangsung sederhana. Tidak dirancang. Tidak pula dibuat demi kamera. Seorang wartawan memanggul seorang tamu Allah yang renta, berjalan perlahan menuju hotel tempatnya beristirahat.
Rekan-rekan Fahmi yang berada di lokasi, Bhery Hamzah dari Radio Elshinta Jakarta dan Mahmud Fauzi dari Metro TV, juga baru mengetahui belakangan bahwa sosok yang mereka bantu adalah jemaah tertua di gelombang pertama haji Indonesia tahun ini.
Tak sekadar pewarta
Di Tanah Suci, batas antara tugas jurnalistik dan pelayanan kemanusiaan seolah lenyap. Para wartawan MCH bukan hanya bertugas merekam cerita jemaah, tetapi juga ikut menjadi bagian dari perjalanan mereka.
Di sela peliputan, mereka membantu jemaah yang tersesat mencari hotel, mendampingi penggunaan aplikasi Nusuk agar bisa masuk Raudhah, mencarikan barang tertinggal, hingga memberi sandal pengganti bagi jemaah yang kehilangan alas kaki di pelataran Masjid Nabawi.
Ada pula yang membantu mengantar jemaah lansia ke toilet, memastikan mereka kembali dengan aman, lalu kembali lagi mengejar agenda liputan berikutnya. Bagi para petugas MCH di Daker Madinah, pelayanan bukan pekerjaan tambahan. Ia sudah menjadi bagian dari keseharian selama bertugas di Kota Nabi.
“Alhamdulillah, saya bahagia dan senang bisa membantu Mbah Mardijiyono. Doa saya semoga beliau diberi kesehatan dan kekuatan oleh Allah SWT untuk melaksanakan seluruh rangkaian ibadah haji ini,” harap Fahmi.
Selama hampir tiga pekan bertugas di Madinah, para wartawan MCH menjalani dua peran sekaligus: menyampaikan informasi kepada publik dan melayani para dhuyufur rahman, tamu-tamu Allah SWT.
Di kota suci itu, kisah-kisah besar kadang lahir dari tindakan paling sederhana. Seorang wartawan yang memanggul jemaah sepuh. Langkah pelan menuju hotel. Dan jejak kaki seorang haji berusia seabad lebih yang sampai ke Nabawi dari punggung seorang pewarta.*
