MADINAH — Di balik ribuan porsi makanan yang tersaji untuk jemaah haji Indonesia, ada kerja panjang dan disiplin tinggi yang dijaga ketat. Salah satu dapur yang ikut menopang layanan konsumsi itu adalah Astoneast International for Catering, yang dipimpin oleh CEO Rosida Handahani.
Rosida bukan pemain baru. Ia sudah puluhan tahun berkecimpung di industri katering di Arab Saudi. “Alhamdulillah, sebelum ikut bekerja dengan restoran, saya bekerja secara mandiri dulu. Kontrak sendiri, dapur, pekerja, saya siapkan sendiri,” tuturnya, Senin (27/4/2026).
Perjalanan panjang itu berbuah kepercayaan. Sejak awal 2000-an, ia mulai membangun sistem dapur yang kini mampu melayani ribuan jemaah. “Mungkin kinerja saya bagus, saya dari 2002-2003 bekerja sama dengan Astoneast International,” lanjutnya.
Produksi ribuan porsi
Tahun ini, Astoneast mendapat kuota melayani sekitar 8.000 jemaah haji Indonesia. Dalam praktiknya, produksi dilakukan bertahap setiap hari.
“Untuk sementara sampai hari ini kita produksi 1.300-an per sekali kirim. Nanti dari tanggal 29 bisa sampai 2.500-an per hari,” jelas Rosida.
Meski begitu, ia mengakui kapasitas yang ada masih bisa ditingkatkan. “Semoga tahun depannya dapat kuota lebih,” ujarnya.
Menu yang disajikan bukan sembarangan. Semua disesuaikan dengan selera jemaah Indonesia, mulai dari rendang, semur hingga masakan berbumbu rujak. Untuk menjaga autentisitas rasa, bahan baku juga dipilih dengan cermat.
“Kami dapat bumbu dari sana (Indonesia), tapi kami pastikan yang fresh, seperti daun-daunan juga dimaksimalkan,” ujarnya.
SDM didominasi Indonesia
Dapur Astoneast juga menjadi ruang kerja bagi puluhan tenaga kerja Indonesia. Dari total sekitar 120 pekerja, sekitar 50 di antaranya berasal dari Tanah Air. Selain pekerja Indonesia, dapur ini juga diisi tenaga kerja dari berbagai negara seperti Mesir, Bangladesh dan Myanmar.
Dalam industri katering haji, kualitas adalah segalanya. Rosida menegaskan, pihaknya menerapkan standar ketat mulai dari proses memasak hingga distribusi.
“Kualitas kami jaga nomor satu. Misalkan kematangan nasi, kalau biasanya 30 menit, kami tambahkan 15 menit, supaya tidak ada masalah,” tegasnya.
Daya tahan makanan juga diperhitungkan secara detail. “Kalau nasi, ketahanannya sekitar 6 jam masih aman,” jelasnya.
Tak hanya itu, aturan kebersihan diberlakukan tanpa kompromi. Seluruh pekerja wajib menggunakan alat pelindung diri (APD). “Yang tidak pakai, langsung ada sanksi. Bahkan bisa dipotong gajinya,” ujar Rosida.
Menariknya, di tengah upaya peningkatan layanan, Rosida mengungkapkan adanya penyesuaian harga tahun ini. “Kalau menu sama saja, cuma yang sedikit ini harga dikurangi,” katanya.
Namun ia memastikan, penurunan harga tidak berdampak pada kualitas. Bahkan sebaliknya, ada peningkatan dari sisi porsi dan mutu.
“Dari 360 gram kami naikkan sampai 450 gram. Kualitas makan tahun ini insya Allah lebih baik,” pungkasnya.*
