TUNIS — Indonesia tampil sebagai Tamu Kehormatan dalam Pameran Buku Internasional Tunisia ke-40 yang digelar di Elkram, Tunis, pada 23 April–3 Mei 2026. Momentum ini dimanfaatkan Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) Tunis untuk memperkuat diplomasi budaya melalui peluncuran dan diskusi buku Indonesia Rahmat Tuhan karya wartawan senior Tunisia, Muhammad Mathri Shumayda, pada 25 April.
Diskusi tersebut menghadirkan Duta Besar Republik Indonesia untuk Tunisia, Zuhairi Misrawi, sebagai narasumber utama, bersama penulis buku dan wartawan senior Tunisia, Najmufdin Akkari. Forum ini menjadi ruang temu gagasan antara Indonesia dan Tunisia, dengan menyoroti pandangan besar tentang Indonesia dalam perspektif global.
Zuhairi menegaskan bahwa frasa “Indonesia rahmat Tuhan” merupakan warisan pemikiran Bung Karno yang relevan hingga kini. Menurutnya, gagasan tersebut bukan sekadar slogan, melainkan panggilan untuk membangun bangsa dengan semangat pengabdian.
“Indonesia rahmat Tuhan merupakan ungkapan Bung Karno, yang mengingatkan kita semua agar mencintai Indonesia sepenuh hati dengan memberikan pengabdian terbaik untuk membangun negeri melalui gotong-royong,” ujarnya, Sabtu (25/4/2026).
“Sebagai rahmat Tuhan, kita mesti bersyukur atas berkah Tuhan yang sangat luar biasa untuk Indonesia. Kami harus membangun negeri agar dapat mewujudkan peradaban dunia yang damai, adil, dan berkeadaban,” sambung Duta Besar kelahiran Madura ini.
Lebih jauh, Zuhairi menekankan bahwa diplomasi menjadi instrumen penting untuk membawa nilai-nilai tersebut ke panggung internasional. Ia menyebut, Indonesia memiliki peran strategis dalam mendorong perdamaian dunia.
“Melalui buku ini, kami ingin agar diplomasi Indonesia terus mewarnai dunia dengan rahmat Tuhan. Kita ingin dunia damai, tanpa perang dan tanpa penjajahan,” tandasnya.
Sementara itu, penulis buku Muhammad Mathri Shumayda menyampaikan apresiasinya terhadap gagasan besar Bung Karno yang menjadi fondasi buku tersebut. Ia melihat konsep Indonesia sebagai rahmat Tuhan sebagai refleksi nilai kemanusiaan universal.
“Gagasan ini menunjukkan, bahwa Bung Karno mengingatkan kita semua untuk menegakkan nilai-nilai kemanusiaan sepenuh hati. Sebab, apa yang ada di dunia, seperti Indonesia yang indah dan mempesona adalah rahmat Tuhan untuk kita semua,” kata Mathri.
Peluncuran dan diskusi buku ini menegaskan posisi Indonesia tidak hanya sebagai tamu kehormatan secara simbolik, tetapi juga sebagai aktor yang aktif menawarkan narasi perdamaian dan kemanusiaan di panggung global. Melalui diplomasi literasi, Indonesia berupaya memperluas pengaruh gagasan kebangsaan ke ranah internasional.*
