15 hours ago
2 mins read

Cerita dari Tanah Suci: Ketika Seorang Wali Kota Memilih Menjadi Jemaah Biasa

Walikota Batu, Malang, Nurochman. (Foto: MCH 2026)

MADINAH — Di antara ribuan jemaah yang datang dari berbagai penjuru dunia, tak ada yang benar-benar tampak istimewa. Semua mengenakan pakaian sederhana, berjalan dalam arus yang sama, dan membawa harapan yang serupa. 

Di tengah kerumunan jemaah itu, ada satu sosok yang di tanah air dikenal sebagai kepala daerah: Wali Kota Batu, Malang, Nurochman. Di Tanah Suci, identitas itu seperti sengaja ia lepaskan. Ia tidak datang sebagai pejabat, sebagai jemaah biasa.

Perjalanan ini sudah ia tunggu lama. Empat belas tahun, sejak mendaftar pada 2012—jauh sebelum ia duduk di kursi kekuasaan.

“Daftar 2012, lama banget, 14 tahun. Itu sebelum saya terpilih di DPRD,” kata Nurochman, mengenang awal perjalanan yang akhirnya membawanya ke Madinah.

Tak ada persiapan yang berlebihan. Tidak ada pelatih khusus atau program intensif. Ia hanya menjaga tubuhnya tetap bugar, seperti rutinitas yang sudah biasa ia jalani.

“Kalau persiapan secara khusus, hanya olahraga. Kebetulan saya aktif tenis, itu saja,” ujarnya.

Barangkali yang paling mencolok justru bukan apa yang ia lakukan, melainkan apa yang ia tolak: keistimewaan.

Sejak awal, ia sudah menegaskan posisinya. Bahkan saat manasik di Asrama Haji Sukolilo Surabaya, ia memilih berbicara sebagai sesama jemaah, bukan sebagai wali kota.

“Saya di sini posisinya adalah jemaah seperti panjenengan (Anda) semua, jadi tidak ada fasilitas khusus. Hotel saya sama dengan sampeyan, pesawat saya sama, semuanya sama. Karena saya haji reguler,” ia menegaskan.

Pilihan itu ia jalani sepenuhnya. Satu kamar diisi lima orang. Orang-orang yang sebelumnya tidak ia kenal. Dalam ruang sempit itu, sekat-sekat sosial perlahan runtuh, meski awalnya sempat ada kecanggungan.

Ia menyadari itu. Dan ia yang lebih dulu mencairkan suasana. “Sudah, kita bebas saja, kita sama-sama jemaah di sini. Tidak ada perbedaan apa pun!”

Di titik itu, jabatan seperti kehilangan makna. Yang tersisa hanya identitas paling dasar: seorang hamba.

Catatan perjalanan
Di luar urusan pribadi, ia juga menyaksikan bagaimana sistem penyelenggaraan haji bekerja. Proses yang ia lalui—dari asrama, bandara, hingga tiba di Madinah—terasa ringkas. Fast track membuat banyak tahapan menjadi lebih cepat, lebih sederhana.

“Dari asrama sudah diverifikasi, lalu langsung ke bandara. Begitu mendarat, imigrasi juga cepat. Jadi memang terasa sekali kemudahannya,” tuturnya.

Ia tahu, sebagian orang mungkin akan mengaitkan kelancaran itu dengan jabatannya. Tapi ia menolak anggapan itu.

“Bukan karena wali kota. Yang lain juga merasakan. Ini memang karena kinerja tim yang sudah terkoordinasi dengan baik,” tegas Nurochman.

Meski begitu, perjalanan panjang tetap menyisakan catatan kecil. Transit penerbangan membuat durasi terasa lebih lama dari yang seharusnya.

“Kemarin transit di Medan, jadi durasinya lumayan panjang. Harapannya ke depan bisa direct flight, biar lebih nyaman,” harapnya.

Hal-hal sederhana seperti makanan pun tak luput dari perhatiannya. Rasa Indonesia tetap hadir, meski variasinya belum selalu konsisten.

“Rasa Nusantaranya dapat, tapi item-nya masih standar. Kadang ada tambahan seperti puding atau susu, tapi tidak setiap hari,” ungkapnya.

Namun pada akhirnya, perjalanan ini bukan tentang fasilitas, bukan tentang kenyamanan, dan tentu bukan tentang jabatan. Ini tentang doa. Doa yang sederhana, tapi penuh makna.

“Doanya ya haji mabrur. Mampu memimpin Batu dengan baik, selamat, amanah,” ungkapnya.

Dan dari Tanah Suci, ia mengirim satu pesan pulang—bukan sebagai wali kota, melainkan sebagai seorang yang sedang belajar tentang kesetaraan dan kebersamaan.

“Semoga tetap rukun, guyup, harmonis antara umat beragama. Itu yang harus kita pertahankan dan terus kita perbaiki,” pungkasnya.

Di Madinah, di antara jutaan langkah yang serupa, seorang wali kota memilih untuk tidak berbeda.*

Komentar

Your email address will not be published.

gamespools

aceplay99

dewaslot88

slot anti rungkat

ace99play

slot777

Go toTop

Jangan Lewatkan

Jaga Ketertiban di Nabawi, Seksus Siaga Tangani Jemaah 

MADINAH — Sektor Khusus (Seksus) Nabawi memegang peran krusial dalam

Sektor Terluar, Tapi Cuma 500 Meter dari Nabawi

MADINAH — Sektor 5 kerap disebut sebagai wilayah terluar dalam
toto slot situs togel situs togel
toto slot
slot88