MADINAH — Klinik Kesehatan Haji Indonesia (KKHI) Daerah Kerja Madinah dipastikan hampir sepenuhnya siap menyambut kedatangan kloter pertama jemaah haji Indonesia 2026.
Kepala Daker Madinah, Khalilurrahman, menyebut kesiapan layanan telah mencapai 99 persen, ditopang simulasi intensif dan penguatan fasilitas medis.
“Alhamdulillah, kami terus melakukan simulasi terkait dengan pelayanan jelang kedatangan jemaah haji gelombang pertama. Penataan ruangan, alat-alat kesehatan sudah dilakukan,” kata KhaliL saat meninjau KKHI Madinah, Selasa (21/4/2026).
Ia menegaskan, hasil monitoring di seluruh ruangan menunjukkan kesiapan hampir maksimal. “Insya Allah, sudah mencapai 99 persen,” ujarnya.
Menurut Khalil, akses layanan kesehatan jemaah dirancang berjenjang. Setiap kloter dilengkapi dokter dan perawat, yang akan menjadi garda pertama penanganan.
“Ketika jemaah mengalami gangguan kesehatan, dokter di kloter akan koordinasi dengan dokter di sektor. Kemudian secara bertahap akan kami evakuasi ke KKHI,” jelasnya.
KKHI Madinah menjadi fasilitas rujukan lanjutan sebelum pasien dirujuk ke rumah sakit di Arab Saudi. Jaraknya sekitar 3–4 kilometer dari kawasan pemondokan jemaah, dengan dukungan armada ambulans. Di Madinah, hanya terdapat satu KKHI yang menjadi pusat layanan kesehatan jemaah Indonesia.
Skema berlapis layanan kesehatan
Di lain pihak, Kepala Seksi Kesehatan Daker Madinah, dr. Enny Nuryanti, menegaskan KKHI bukan fasilitas kesehatan tingkat pertama, melainkan rujukan lanjutan dalam sistem berlapis layanan kesehatan jemaah haji Indonesia di Tanah Suci.
“Tenaga kesehatan kita itu ada di kloter, ada di sektor, ada di KKHI. Untuk kloter ini kan melekat di jemaah,” kata Enny.
Menurutnya, alur penanganan dimulai dari dokter kloter yang langsung mendampingi jemaah. Jika ditemukan gangguan kesehatan, penanganan dilakukan bertahap sesuai tingkat keparahan.
“Apabila jemaah memerlukan rujukan, dokter kloter akan konsul ke sektor atau ke KKHI tergantung triase-nya,” ujar Enny.
Sistem triase: hijau, kuning, merah
Enny menjelaskan, sistem triase menjadi kunci dalam menentukan rujukan layanan. Kategori hijau mencakup penyakit ringan seperti batuk dan pilek yang cukup ditangani di kloter atau sektor.
Kategori kuning adalah kondisi yang tidak membaik setelah penanganan awal sehingga perlu dirujuk ke KKHI. Sementara kategori merah merupakan kondisi gawat darurat yang harus langsung dirujuk ke rumah sakit Arab Saudi.
“Kalau di KKHI masih tidak membaik juga, maka dengan batas waktu tertentu harus dirujuk ke rumah sakit,” jelasnya.
Terkait dengan penyakit yang paling sering diderita jemaah, menurut Enny, penyakit pernapasan menjadi kasus terbanyak yang ditangani. “Biasanya berawal dari ISPA, bisa menjadi pneumonia atau radang paru,” kata Enny.
Selain itu, ada fenomena khas di Madinah yang kerap terjadi pada jemaah, yakni kaki melepuh akibat berjalan tanpa alas kaki.
“Biasanya jemaah ke masjid, sendalnya tidak dibawa. Keluar tanpa sandal, itu yang menyebabkan kaki melepuh,” ungkapnya.
Kondisi ini umumnya masuk kategori kuning dan memerlukan penanganan lanjutan. Selain itu, lanjut Enny, dehidrasi menjadi salah satu risiko kesehatan paling serius selama musim haji.
“Jemaah kadang tidak mau minum karena takut sering buang air kecil. Padahal itu keliru,” tegasnya.
Ia menyarankan pola minum sedikit namun sering untuk menjaga keseimbangan cairan tubuh.
Untuk menjaga kondisi tetap prima, jemaah diminta memerhatikan lima hal utama: cukup minum, istirahat 6–8 jam, konsumsi makanan bergizi, penggunaan alat pelindung diri, dan memakai alas kaki.
“Kalau ke masjid harus pakai alas kaki dan disarankan bawa kantong plastik,” tutupnya.*
