JAKARTA – Organisasi masyarakat pendukung Prabowo-Gibran, PROJO, menyerukan pentingnya menjaga kekompakan dan persatuan nasional di tengah gejolak global yang turut berdampak ke dalam negeri.
Ketua Umum DPP PROJO, Budi Arie Setiadi, menegaskan bahwa bangsa Indonesia memiliki fondasi kuat berupa optimisme yang lahir dari sejarah perjuangan kemerdekaan.
“Kemerdekaan Indonesia direbut dengan perjuangan, serta pegorbanan. Artinya, kita dikaruniakan sebagai bangsa optimis. Saya meyakini Rakyat kita cerdas, tidak mudah diadu-domba oleh elit-elit jahat!!” kata Budi Arie dalam siaran pers pada Rabu (08/04/2026).
Ia menjelaskan, dinamika global seperti konflik di Timur Tengah membawa dampak luas hingga ke Indonesia. Namun, menurutnya, situasi sulit tidak hanya dialami Indonesia, melainkan juga negara-negara lain.
Dalam kondisi tersebut, Budi Arie menekankan pentingnya membangun optimisme publik dengan tetap waspada terhadap ketidakpastian global, tanpa terjebak dalam ketakutan yang berlebihan.
Sebagai langkah konkret, PROJO menginstruksikan seluruh jajaran kepengurusan, mulai dari tingkat nasional hingga desa, untuk terus menjaga semangat dan akal sehat masyarakat di tengah berbagai isu yang berkembang.
Menanggapi isu ramalan potensi kekacauan pada Juni hingga Juli mendatang, Budi Arie menilai narasi tersebut berpotensi menciptakan kepanikan dan teror psikologis di tengah masyarakat.
“Saya kembali kutip pertanyaan Pak Joko Widodo ya, agar masyarakat jangan takut meskiada pihak-pihak yang sengaja menakut-nakuti. Itu pesan yang perlu terus kita gelorakan di masyarakat.” tegasnya.
Lebih lanjut, ia kembali mengingatkan bahwa tantangan global saat ini harus dihadapi dengan persatuan, bukan dengan perdebatan yang tidak produktif. Menurutnya, energi bangsa seharusnya difokuskan pada pembangunan optimisme dan penguatan jiwa patriotik.
“Belajar saat Pandemi Covid-19 Bangsa Indonesia kompak mengatasinya sehingga kita selamat. Kita perlu terus pupuk optimismme karen punya pengalaman keberhasilan menghadapi situasi-situasi krisis dan krusial,“ tutup Budi Arie.*
