DOHA – Presiden Amerika Serikat Donald Trump kembali memicu kontroversi setelah menyatakan keinginannya untuk menguasai minyak Iran, termasuk dengan opsi mengambil alih Pulau Kharg—pusat ekspor minyak utama Teheran.
Dalam wawancara dengan Financial Times pada Minggu (29/3/2026), Trump secara terbuka mengakui rencana tersebut, meski mendapat penolakan dari sebagian pihak di dalam negeri.
“Sejujurnya, hal favorit saya adalah mengambil minyak Iran. Tapi ada beberapa orang bodoh di AS yang bertanya, ‘Kenapa Anda melakukan itu?’ Mereka orang-orang bodoh,” ujar Trump.
Namun, menurut Trump, opsi untuk menguasai Pulau Kharg masih terbuka. “Mungkin kita ambil Pulau Kharg, mungkin tidak. Kita punya banyak opsi. Tapi itu berarti kita harus berada di sana untuk sementara waktu,” katanya.
AS Kerahkan Pasukan ke Timur Tengah
Pernyataan Trump muncul di tengah peningkatan kehadiran militer AS di kawasan. Pemerintahannya telah mengerahkan Marinir ke Timur Tengah, serta merencanakan pengiriman ribuan pasukan dari Divisi Lintas Udara ke-82.
Komando Pusat AS (CENTCOM) juga mengonfirmasi sekitar 3.500 personel tambahan telah tiba di kawasan menggunakan kapal amfibi USS Tripoli.
Menurut pejabat AS yang dikutip The Washington Post, pembahasan internal selama sebulan terakhir mencakup kemungkinan pengambilalihan Pulau Kharg—yang menjadi tulang punggung ekonomi energi Iran.
Fasilitas di pulau tersebut menerima minyak mentah dari ladang Aboozar, Forouzan, dan Dorood, yang kemudian disalurkan melalui jaringan pipa bawah laut sebelum didistribusikan ke pasar global.
Iran Ancam Balasan Keras
Ketua Parlemen Iran, Mohammad Bagher Ghalibaf, merespons keras rencana tersebut. Ia memperingatkan bahwa setiap upaya pengambilalihan akan dibalas dengan serangan ke infrastruktur vital negara kawasan yang terlibat. Bahkan, Ghalibaf juga mengancam langsung pasukan AS jika mendarat di Iran.
“Pasukan kami menunggu kedatangan tentara Amerika di darat untuk menghancurkan mereka dan menghukum sekutu regional mereka sekali untuk selamanya,” ujarnya, seperti dikutip kantor berita resmi IRNA.
Di tengah ketegangan, sejumlah negara seperti Pakistan, Arab Saudi, Mesir, dan Turki menggelar pertemuan di Islamabad untuk mendorong de-eskalasi konflik.
Dampak perang mulai terasa pada ekonomi global. Harga minyak melonjak tajam, dengan Brent crude naik lebih dari 3 persen hingga menembus 116 dolar AS per barel.
Sementara itu, korban jiwa terus bertambah. Kementerian Kesehatan Iran melaporkan lebih dari 2.000 orang tewas sejak konflik dimulai, termasuk ratusan anak-anak.
Rencana Damai Ditolak Teheran
Trump juga mengklaim telah mengajukan rencana damai 15 poin. Namun Teheran menolak proposal tersebut dan mengajukan syarat tandingan, termasuk penghentian serangan AS-Israel, kompensasi perang, serta jaminan keamanan.
Di sisi lain, Trump menyebut Iran telah mengizinkan 20 kapal minyak melintas di Selat Hormuz sebagai “tanda hormat”.
Namun pernyataan itu dibarengi retorika keras. “Kami masih punya sekitar 3.000 target lagi. Kesepakatan bisa dicapai dengan cepat,” kata Trump.
Ia juga kembali melontarkan klaim kontroversial terkait kondisi Mojtaba Khamenei, yang disebutnya terluka parah atau tewas—klaim yang belum terkonfirmasi. Teheran sendiri menegaskan bahwa pemimpin negaranya dalam kondisi aman, meski minim tampil di publik.
Situasi ini menunjukkan eskalasi konflik belum mereda, dengan opsi militer dan diplomasi berjalan beriringan—namun sama-sama penuh ketidakpastian.*
