3 weeks ago
1 min read

Kemenhaj Siagakan 45 Klinik, Layanan Haji Diperketat

Kepala Pusat Kesehatan Haji Liliek Marhaendro Susilo. (Foto: Kemenhaj)

JAKARTA — Pemerintah memperkuat skema layanan kesehatan bagi jemaah haji Indonesia pada musim Haji 1447 H/2026 M. Langkah ini diambil menyusul kebijakan baru dari Arab Saudi yang mengatur rasio pelayanan kesehatan berbasis jumlah jemaah.

Kepala Pusat Kesehatan Haji Liliek Marhaendro Susilo mengungkapkan, satu klinik kini minimal melayani 5.000 jemaah. Dengan skema tersebut, pemerintah akan menyiagakan 40 klinik kesehatan di Makkah yang tersebar di 10 sektor, serta 5 klinik di Madinah.

Selain itu, masing-masing satu Klinik Kesehatan Haji Indonesia (KKHI) juga akan beroperasi di dua kota suci tersebut untuk menopang layanan rujukan lanjutan.

“Dengan penambahan klinik dan penguatan layanan di KKHI, kami berharap pelayanan kesehatan bagi jemaah semakin optimal,” ujar Liliek, Senin (30/3/2026).

Tak hanya menambah fasilitas, pemerintah juga memperketat mekanisme penanganan medis. Petugas kesehatan kloter akan dibekali pedoman rujukan berbasis tingkat keparahan atau severity level. Sistem ini memungkinkan tenaga medis menentukan secara cepat apakah jemaah perlu dirujuk ke KKHI atau langsung ke rumah sakit Arab Saudi.

Menurut Liliek, pendekatan ini menjadi kunci untuk memastikan penanganan yang tepat dan responsif di lapangan.

“Pendekatan severity level ini penting agar jemaah mendapatkan pertolongan yang cepat dan sesuai dengan kondisi kesehatannya,” jelasnya.

Dalam upaya menjaga mutu layanan, pemerintah Arab Saudi juga mewajibkan supervisi dari penyedia layanan kesehatan swasta terakreditasi. Untuk musim haji tahun ini, pengawasan terhadap layanan kesehatan jemaah Indonesia akan dilakukan oleh Saudi German Hospital.

Sementara itu, distribusi obat-obatan akan dipusatkan dari KKHI di Makkah dan Madinah, kemudian disalurkan ke tenaga kesehatan kloter yang mendampingi jemaah di hotel-hotel.

Di sisi lain, pemerintah juga mengingatkan pentingnya kesiapan kesehatan sejak sebelum keberangkatan. Jemaah diimbau menerapkan pola hidup bersih dan sehat, mulai dari menjaga kebersihan tangan, mengonsumsi makanan bergizi, hingga rutin berolahraga ringan.

Selain itu, istirahat yang cukup dan menjaga kondisi mental juga menjadi perhatian. Jemaah disarankan tidur minimal enam jam setiap malam serta menjaga pikiran tetap positif selama persiapan ibadah.

Bagi jemaah dengan penyakit penyerta atau komorbid, kepatuhan dalam mengonsumsi obat sesuai anjuran dokter menjadi hal yang tak bisa ditawar.

Pemerintah berharap, dengan penguatan sistem layanan kesehatan dan kesiapan jemaah sejak dini, pelaksanaan ibadah haji 2026 dapat berjalan lebih aman, sehat, dan optimal di tengah berbagai tantangan yang ada.*

Komentar

Your email address will not be published.

Go toTop

Jangan Lewatkan

Kemenhaj Gandeng Imigrasi Percepat Layanan dan Cegah Haji Ilegal

JAKARTA — Kementerian Haji dan Umrah (Kemenhaj) memperkuat sinergi lintas instansi dengan Kementerian

Kemenhaj Sidak Koper Haji Demi Ketepatan Distribusi

JAKARTA — Kementerian Haji dan Umrah (Kemenhaj) memperketat pengawasan distribusi logistik jemaah
toto slot situs togel situs togel
toto slot
slot88