TEHERAN – Pemerintah Iran melontarkan peringatan keras terkait dugaan rencana pendudukan wilayahnya oleh pihak asing. Teheran menegaskan akan membalas setiap upaya tersebut dengan serangan langsung ke target strategis di kawasan.
Ketua Parlemen Iran, Mohammad Bagher Ghalibaf, mengungkapkan laporan intelijen yang menunjukkan adanya skenario pendudukan pulau milik Iran dengan dukungan negara regional yang tidak disebutkan.
“Pasukan Iran memantau pergerakan musuh. Jika mereka mengambil langkah apa pun, kami akan menyerang infrastruktur vital di negara tersebut secara berkelanjutan dan tanpa henti,” tegas Ghalibaf dalam pernyataannya di media sosial.
Peringatan ini muncul di tengah eskalasi retorika antara Iran dan Amerika Serikat. Presiden AS, Donald Trump, kembali mengklaim bahwa Washington tengah membuka jalur negosiasi untuk mengakhiri konflik—klaim yang langsung dibantah Teheran.
Di sisi lain, Gedung Putih justru mengeluarkan ancaman terbuka. Juru bicara Gedung Putih, Karoline Leavitt, menyebut Iran harus menerima kekalahan militer.
“Jika Iran gagal memahami bahwa mereka telah dikalahkan, Presiden Trump akan memastikan mereka dihantam lebih keras dari sebelumnya. Presiden tidak menggertak—ia siap melepaskan ‘neraka’,” ujarnya.
Di lapangan, situasi bergerak cepat. Pentagon dilaporkan mengerahkan ribuan pasukan tambahan ke kawasan Teluk, termasuk sekitar 2.000 personel dari Divisi Lintas Udara ke-82 serta dua unit Marinir yang tengah menuju wilayah operasi.
Pulau Kharg Jadi Titik Panas
Laporan media menyebut Pulau Kharg kini menjadi salah satu target strategis yang dipantau Washington. Pulau kecil yang berada dekat daratan utama Iran itu dinilai memiliki posisi vital.
Reporter Mohamed Vall dari Aljazeera melaporkan bahwa masyarakat Iran menyadari sepenuhnya peningkatan kehadiran militer AS.
“Mereka lebih yakin perang akan berlanjut daripada berakhir, dan saat ini sedang bersiap menghadapi skenario tersebut,” ujarnya dari Teheran.
Menurut Vall, sebagian pihak di Iran menilai peringatan Ghalibaf secara implisit ditujukan kepada Uni Emirat Arab, yang diduga bisa terlibat dalam skenario pendudukan bersama AS.
Ia juga menegaskan bahwa Iran memandang kemungkinan serangan ke Kharg sebagai garis merah. “Jika pasukan AS mendarat di sana, itu justru menjadi momentum yang ditunggu Iran—dan akan sangat berbahaya bagi keselamatan pasukan AS,” katanya.
Ancaman Meluas ke Laut Merah
Sinyal eskalasi tidak berhenti di Teluk. Kantor berita Tasnim mengutip sumber militer yang menyebut Iran siap membuka front baru di kawasan Laut Merah jika wilayahnya diserang.
Fokus potensi konflik mengarah ke Selat Bab al-Mandeb, jalur strategis antara Yaman dan Djibouti yang menjadi salah satu choke point (titik penyempitan) perdagangan global.
Sumber tersebut menyatakan Iran memiliki kemampuan menciptakan “ancaman kredibel” di kawasan itu. Bahkan, kelompok Houthi di Yaman—yang dikenal dekat dengan Teheran—disebut siap terlibat jika diperlukan untuk mengendalikan jalur tersebut.
Diplomasi di Balik Layar
Meski retorika militer memanas, jalur diplomasi disebut masih bergerak di belakang layar. Washington dikabarkan telah mengajukan proposal 15 poin untuk menghentikan konflik, sementara Teheran menyiapkan lima syarat tandingan.
Namun hingga kini, Iran tetap bersikeras tidak ada negosiasi resmi dengan AS. Sementara itu, ketegangan di lapangan justru terus meningkat—menjadikan kawasan Timur Tengah kembali berada di ambang eskalasi besar.*
