Di negeri ini, kejujuran pernah punya nama.
Namanya Jenderal Polisi Hoegeng.
Ia bukan legenda karena seragamnya,
tapi karena tak bisa disuap, tak bisa ditekan,
dan tak bisa dibeli—bahkan oleh kekuasaan.
Ironisnya, justru karena itulah ia “disingkirkan”.
Hari ini, kita hidup di zaman kebalikannya.
Bukan penjahat yang takut pada polisi,
melainkan rakyat kecil yang gentar pada seragam.
Hukum tak lagi tampak sebagai pedoman,
melainkan tarif.
Kasus bisa menguap, pasal bisa lentur,
asal amplop cukup tebal dan relasi cukup dekat.
Ada polisi yang mestinya memburu narkoba,
namun justru ikut menghirup dan mengedarkannya.
Ada penegak hukum yang bersumpah menegakkan keadilan,
namun tangannya sibuk memeras di balik meja.
Semua rapi.
Semua “oknum”, kata mereka.
Padahal oknum terlalu sering, terlalu banyak,
dan terlalu terorganisir untuk disebut kebetulan.
Hoegeng dulu hidup sederhana,
anaknya naik sepeda, istrinya menolak hadiah.
Hari ini, sebagian aparat hidup mewah
tanpa pernah jelas dari mana asal hartanya.
Yang jujur tersingkir.
Yang berani diamankan.
Yang korup justru naik pangkat.
Maka jangan heran,
jika rakyat tak lagi percaya pada hukum.
Sebab hukum tak pernah benar-benar berpihak pada mereka.
Hoegeng bukan sekadar figur masa lalu.
Ia adalah cermin yang memalukan masa kini.
Dan selama polisi jujur hanya dikenang,
bukan dilahirkan kembali oleh sistem,
maka keadilan akan terus menjadi cerita—
bukan kenyataan.
Negeri ini tak kekurangan seragam.
Yang langka justru integritas.
Dan Hoegeng…
ia abadi bukan karena jabatan,
melainkan karena keberanian untuk tetap bersih
di tengah sistem yang kotor.
Didi Irawadi Syamsuddin, Lawyer | Writer | Politician.
