7 months ago
2 mins read

Teater Pemberantasan Korupsi: Mengapa Skor Korupsi Indonesia Mandek?

Ilustrasi. (Foto: Istimewa)

JAKARTA – Retorika pemberantasan korupsi di Indonesia semakin gaung. Angka-angka kerugian yang diumumkan semakin fantastis dan mencengangkan. Namun peringkat korupsi kita di tingkat global tidak membaik.

Menurut Corruption Perceptions Index (CPI) 2025 dari Transparency International, Indonesia memperoleh skor 34 dari 100, Secara posisi, Indonesia ditempatkan pada urutan ke 109 dari total 182 negara. Jika dibandingkan dengan skor maupun posisi terdahulu, skor Indonesia merosot dari skor 37 dan turun peringkat dari urutan 99 di tahun 2024.

Indonesia tidak memburuk drastis, tetapi juga tidak membaik. Mengapa? CPI tidak mengukur berapa banyak tersangka diumumkan atau seberapa besar angka kerugian yang diumumkan. 

CPI mengukur persepsi pelaku usaha, investor, analis risiko, dan pakar tata kelola. Yang dinilai adalah; kredibilitas institusi, independensi peradilan, kepastian hukum, transparansi, dan konsistensi penegakan hukum.

Belakangan publik disuguhi klaim kerugian negara akibat korupsi Pertamina dengan angka yang mengejutkan, yaitu, mendekati satu kuadriliun rupiah!

Nadiem Makarim dituduh merugikan negara Rp 2,1 triliun. Kasus Tom Lembong Rp 578 miliar dan Ira Puspadewi PT ASDP Rp1,25 triliun,  namun semua yang bersangkutan tidak terbukti menikmati satu sen pun. Narasi yang dibuat  pada saat penangkapan tidak hadir dalam fakta persidangan. Membingungkan!

Duta Palma merupakan satu satunya yang dituduh merugikan negara lebih dari Rp 100 triliun, karena pelanggaran fungsi alih hutan, padahal banyak pelanggaran serupa yang dilakukan banyak pengusaha tetapi tidak diadili.

Pengumuman  yang teatrikal, mengundang pertanyaan: “bagaimana korupsi satu kuadriliun rupiah dan pelanggaran fungsi alih hutan lebih dari 4 juta hektare bisa terjadi dengan mudah?” Sesuatu hal yang mendekati mustahil. Kejadian ini berdampak pada persepsi bagaimana Indonesia  bekerja memberantas korupsi. 

Oleh karena itu, perhitungan kerugian yang diumumkan hanya merupakan narasi tanpa standar perhitungan yang mengikuti standar praktik accounting dan undang-undang Keuangan Negara.

Jika perhitungan tersebut benar, berarti betapa  bodoh dan tidak bermoral bangsa Indonesia! Korupsi dengan skala kolosal harus melibatkan pejabat, pengusaha secara masal.

Kita juga menyaksikan pertunjukan uang tunai sebesar Rp 6,6 triliun yang ditumpuk hampir menyentuh langit-langit ruangan. Tanpa transparansi publik mengenai detail lengkap asal-usul dan siapa melanggar apa?

Peristiwa-peristiwa ini mendominasi pemberitaan pemberantasan korupsi. Namun di mata internasional, pertunjukan semacam itu  justru memunculkan kecurigaan dan pertanyaan:

  • Bagaimana metodologi perhitungan kerugiannya?
  • Apakah itu kerugian riil atau proyeksi asumtif?
  • Apakah sudah diuji secara transparan di pengadilan?
  • Apakah ada bukti jelas tentang pengayaan pribadi?

Angka besar tidak otomatis menciptakan kredibilitas. Yang menciptakan kredibilitas adalah metodologi dan due process yang transparan.

Ekonomi Indonesia ditopang oleh BUMN dan kebijakan publik berskala besar. Dalam ekonomi yang kompleks, kerugian bisnis bisa terjadi. Harga komoditas berfluktuasi, nilai tukar bergerak, demikian juga kredit macet perbankan adalah bagian dari risiko usaha, bukan tipikor. profesionalisme penegak hukum perlu ditingkatkan.

Oleh karena itu, perlu disadari bahwa kebijakan strategis dan aksi korporasi kadang tidak mendapatkan hasil optimal. Namun jika hal ini dikriminalisasi maka akan mengancam pertumbuhan ekonomi.

Secara global, kesalahan kebijakan atau risiko bisnis tidak otomatis menjadi tindak pidana korupsi. Korupsi mensyaratkan niat jahat, penyalahgunaan kewenangan, dan pengayaan diri. Jika setiap kerugian finansial diperlakukan sebagai bukti korupsi, apalagi dihitung dengan metode yang sumir dan tendensius, maka antara risiko tata kelola dan tindak pidana menjadi kabur.

Paradoksnya jelas: Penegakan hukum yang tidak profesional dan selektif menurunkan kepercayaan. Apalagi jika diumumkan secara teatrikal maka ketidakpastian hukum menjadi tontonan publik. Yang meningkatkan persepsi adalah penegakan hukum yang konsisten, transparan, dan berbasis aturan.

Negara-negara yang berhasil memperbaiki skor CPI tidak melakukannya dengan mengumumkan angka kerugian yang lebih besar. Mereka memperkuat independensi peradilan, menstandarkan metodologi audit, dan menjaga proses hukum yang adil.

Ketika proses hukum terlihat dramatis sebelum putusan pengadilan, ketika perhitungan kerugian tidak dijelaskan secara transparan, dan ketika komunikasi publik lebih menyerupai pertunjukan daripada prosedur, sinyal yang ditangkap dunia bukanlah kekuatan , melainkan ketidakpastian. Dan ketidakpastian menaikkan premi risiko.

Skor CPI Indonesia yang stagnan di angka 34 bukan semata soal tingkat korupsi. Hal tersebut mencerminkan keraguan terhadap kematangan institusi, profesionalisme dan kepastian hukum kita.

Jika pemberantasan korupsi berubah menjadi ajang pamer keberhasilan, dampaknya justru melemahkan dan memberi kesan negatif.

Indonesia tidak membutuhkan pengumuman yang bergaung keras dan tidak membutuhkan keputusan hakim yang tegas tetapi tidak adil. Indonesia membutuhkan institusi yang lebih kuat.

Hanya kredibilitas, bukan teatrikal, yang dapat memperbaiki persepsi.*

Laksamana SukardiPolitisi Senior.

Komentar

Your email address will not be published.

Pengalaman Pengguna Game Penghasil Saldo DANA Lebih Cepat Adaptif Dan Efisien Dibawa Oleh Inovasi Teknologi
Pergeseran Mutu Produksi Kosmetik Terdeteksi Lebih Akurat Berkat Aliran Data Langsung
Pengalaman Pengguna Semakin Responsif Adaptif Dan Efisien Berkat Perkembangan Teknologi Modern
Momentum Tetap Terarah Dan Terkendali Dipertahankan Melalui Taktik Mode Pemburu Sic Bo Live
Keputusan Tetap Terukur Dalam Game Online Dipertahankan Melalui Pengelolaan Modal Cerdas
Kapitalisasi Pasar Dan Inovasi Kasino Online Berubah Di Tengah Disrupsi Teknologi Modern
Strategi Baru Untuk Meningkatkan Keunggulan Kompetitif Dibuka Melalui Business Model Canvas Mahjong Ways
Kualitas Sistem Mahjongways Kasino Online Dipahami Melalui Identifikasi Nilai Pembayaran Game Penghasil Saldo DANA
Perspektif Baru Dalam Menganalisis Perkembangan Mahjong Ways Dibuka Melalui Modernisasi Strategi
Kasino Menjadi Studi Sistem Informasi Bagi Mahasiswa Melalui Pelatihan Enterprise Architecture
Mahjongways Kasino Online Dijadikan Acuan Strategi Marketing dalam Lingkungan Pemerintahan
Keamanan Informasi Jadi Fondasi Utama Layanan Konsultasi Kosmetik Berbasis Teknologi
Teknologi Pemantauan Membantu Mengukur Frekuensi Pembayaran secara Lebih Objektif dan Terukur
Kajian Statistik Pola RTP Menyoroti Perkembangan Teknologi Neural Sintetis Regulatoris
Simulasi Statistik Membuka Pendekatan Baru Memahami Mahjong Game Sungai Penuh secara Terukur
Statistik Objektif Membantu Membaca Pola Mahjong Game Sungai Penuh dengan Lebih Rasional
Strategi Mahjong Game Sungai Penuh Makin Terarah melalui Pendekatan Statistik Modern
Pendekatan Data Objektif Membantu Mengkaji Mahjong Game Saldo DANA Sungai Penuh secara Lebih Terstruktur
Mahjong Game Sungai Penuh Dikaji lewat Simulasi Statistik untuk Membaca Pola Aktivitas
Aturan Mahjong Digital dari Dua Kartu Awal hingga Penentuan Rentang Nilai Game Penghasil Saldo DANA
Pendekatan Adaptif MahjongWays Kasino Online Membantu Menjaga Keseimbangan Anggaran Hiburan
Kemunculan Simbol Unik MahjongWays Kasino Online Perlu Dibaca Secara Lebih Rasional
Mahjong Ways Menarik Minat Pemain di Tengah Ketatnya Persaingan Game Digital
Pengaturan Tempo MahjongWays Kasino Online Tidak Menentukan Munculnya Kombinasi Khusus
Starlight Princess Kembali Merebut Perhatian Pemain MBG Berkat Daya Tariknya
Membaca Pola Mahjong Ways dan Tren Permainan Lewat Data Saldo DANA Terbaru
Disiplin Mental MahjongWays Kasino Online Membantu Mencegah Keputusan Finansial yang Terlalu Impulsif
Mengenal Sweet Bonanza sebagai Game Digital Online dengan Tema Manis yang Menarik
Rotasi Awal MahjongWays Kasino Online Bukan Tolok Ukur Kemurahan Sistem Permainan
Menelusuri Strategi Terbaik dalam Bermain Game Penghasil Saldo DANA Secara Lebih Mendalam
Go toTop

Jangan Lewatkan

Ketika Demokrasi Diperjuangkan: Membaca Indonesia Melalui Autobiografi Erros Djarot

“Sebuah bangsa tidak kehilangan demokrasinya dalam satu malam. Demokrasi mulai

Kudatuli: Sudahkah Bangsa Ini Belajar?

JAKARTA – Setiap tanggal 27 Juli, ingatan bangsa ini kembali
toto slot situs togel situs togel
toto slot
slot88