JAKARTA – Wakil Menteri Haji dan Umrah RI, Dahnil Anzar Simanjuntak, menyampaikan apresiasi sekaligus pesan tegas kepada peserta Pendidikan dan Pelatihan (Diklat) Panitia Penyelenggara Ibadah Haji (PPIH) Arab Saudi 2026 yang telah memasuki pekan kedua pelatihan intensif.
Dalam arahannya, Dahnil secara terbuka mengakui bahwa pada hari-hari awal pelatihan ia sempat meragukan kesiapan para peserta untuk menjadi petugas haji yang disiplin, solid, dan profesional. Namun, keraguan itu kini justru berbalik menjadi keyakinan.
“Di hari pertama saya sampaikan, saya ragu saudara-saudara mampu menjadi petugas haji yang baik, kompak, dan penuh kedisiplinan. Tapi hari ini, di minggu kedua, saya melihat keraguan itu salah,” ujar Dahnil di Asrama Haji, Pondok Gede, Jakarta, Sabtu (24/1/2026).
Menurutnya, perubahan sikap, kedisiplinan, dan kekompakan peserta menjadi penanda lahirnya fase baru dalam tata kelola penyelenggaraan haji Indonesia.
“Hari ini saya melihat era baru penyelenggaraan haji Indonesia. Saya melihat era baru petugas haji Indonesia. Saudara-saudara adalah orang-orang terpilih yang sedang mengukir sejarah baru haji Indonesia,” tegasnya.
Dahnil berharap transformasi positif yang terbentuk selama 20 hari pelatihan di barak tidak berhenti di ruang diklat, tetapi terus dibawa dan diwujudkan saat bertugas di Tanah Suci. Ia menekankan bahwa PPIH 2026 bukan sekadar peserta pelatihan, melainkan pemikul harapan jutaan warga Indonesia.
“Kalian hanya berada di barak selama 20 hari. Tapi yang kami harapkan ketika keluar pada 30 Januari nanti, kebiasaan baik ini terus dilanjutkan,” ujarnya.
Ia menegaskan, amanah sebagai petugas haji adalah bentuk tanggung jawab spiritual dan kenegaraan.
“Apa yang saudara jawab hari ini adalah utang kepada Allah SWT, utang kepada jemaah haji, dan utang kepada Negara Republik Indonesia. Maka tunaikan utang itu,” tegasnya.
Wamenhaj juga meminta seluruh petugas mempersiapkan diri secara serius selama tiga bulan ke depan sebelum bertugas di Arab Saudi, baik secara fisik, mental, maupun integritas pelayanan.
Berpihak pada perempuan
Dalam kesempatan itu, Dahnil juga menekankan visi utama penyelenggaraan haji 2026, yakni haji yang berorientasi pada kepedulian dan perlindungan, khususnya kepada perempuan dan jemaah lansia. Ia merujuk pada pesan Rasulullah Muhammad SAW dalam Khutbah Haji Wada tentang pentingnya menjaga dan memuliakan perempuan.
“Lebih dari 55 persen jemaah haji Indonesia adalah perempuan. Sekitar 25 persen jemaah adalah lansia, dan sebagian besar dari mereka adalah perempuan,” ungkapnya.
Atas arahan Presiden Prabowo Subianto, lanjut Dahnil, penyelenggaraan haji tahun ini ditegaskan sebagai haji yang afirmatif dan berpihak kepada perempuan. Hal itu tercermin dari komposisi petugas haji 2026, di mana 33 persen di antaranya adalah perempuan—angka tertinggi sepanjang sejarah penyelenggaraan haji Indonesia.
“Ini jumlah terbesar dalam sejarah perhajian Indonesia. Kami ingin memastikan layanan bagi jemaah perempuan dan lansia lebih nyaman dan aman,” ucapnya.
Ia secara khusus menitipkan amanah besar kepada petugas haji perempuan untuk memaksimalkan peran pelayanan, sekaligus mengingatkan petugas laki-laki agar memahami spirit perlindungan sebagaimana pesan Rasulullah SAW.
Di akhir arahannya, Dahnil mengingatkan bahwa jemaah haji adalah orang tua, kakek, nenek yang dititipkan keluarga mereka kepada negara dan para petugas.
“Perlakukan jemaah seperti bapak-ibu kita sendiri, seperti kakek dan nenek kita. Jadilah anak dan cucu mereka di Tanah Suci,” pesannya.
Ia menutup dengan keyakinan bahwa PPIH 2026 mampu menjawab keraguan publik sebagaimana mereka telah menjawab keraguannya.
“Saya yakin saudara-saudara mampu menjawab keraguan masyarakat dan jemaah, seperti hari ini saudara-saudara menjawab keraguan saya,” pungkas Dahnil.*
