2 years ago
7 mins read

Laksamana Sukardi (5-habis): ‘Indosat Nan Jauh di Mato’

Politikus Senior Laksamana Sukardi. (Foto: Totalpolitik.com)

Jadi kalau rugi sudah bukan urusan pemerintah lagi?

Kalau rugi bukan tanggung jawab pemerintah lagi. Bedanya cuma itu. Kalau dulu rugi, pemerintah yang nanggung. Ini memang sulit dimengerti. Karena orang awam lebih gampang dipolitisir. Sangat mudah dipolitisir oleh mereka.

Akhirnya, selesai Indosat terus ada Fuad Bawazier juga, orang yang vokal. Demo. Sudah masuk pas mau Rapat Umum Pemegang Saham (RUPS), akhirnya diketok. Dia (Fuad) sudah masuk, karena ada wartawan banyak bawa kamera, dia keluar lagi. Naik mobil.

Tapi dengan itu saya senang sih. Kalau nggak ada protes kan saya juga akan kurang hati-hati. Karena banyak protes, saya jadi hati-hati. Itu ada kontrol juga. Tapi dulu bersih, nggak kayak sekarang. Mau jadi Direksi BUMN, cari satu orang yang bisa palakin duit. Nggak ada.

Pemerintahan pengen orang partai. Saya bikin fit and proper test. Cemplungin aja situ. Saya bilang, ‘Nggak bisa, bukan perusahaan saya. Fit and proper test aja, nanti hasilnya gimana.’ Termasuk untuk orang dari PDI-P sendiri. Pada waktu itu, Mbak Mega juga mendukung.

Sampai akhir masa jabatan Mbak Mega, Pak Laks masih jadi Menteri BUMN?

Masih. Setelah kalah, kan waktu 2004 didapuk jadi Ketua Badan Pemenangan Pemilu (Bappilu). Tapi, Taufiq Kiemas nggak suka. TK selalu mau ikut campurlah. Ya, urusan uang. Sampai nggak percaya gitu loh. Silakan saja saya bilang. Saya kan masuk partai juga berkorban duit cukup banyak. Rumah sudah di Kebayoran Baru dari dulu. Rumah Mbak Mega aja di Kebagusan.

Berarti Pak Laks sudah lama tinggal di sini?

Saya dari dulu sudah di sini. Jadi, ngapain Gua ngambil? Nyari duit gitu? Saya juga nggak munafik. Jadi menteri mau makan, dibayarin orang. Mau bayar juga susah. Walaupun saya jarang gitu. Di situ akhirnya kalah. (PDI-P kalah lawan Demokrat pada Pemilu 2004). Saya diganti sama TK.

Setelah kalah, saya bilang, ‘Mbak Mega, ini kita udah kalah nih. Kalau barang, sabun di super market nggak laku. Mesti diganti bungkusnya.’

Ya, Mega (harusnya) dia jadi kayak Pak Hartolah, jadi dewan pembina (bukan ketum lagi). Cari siapalah (buat) peremajaan. Bukan saya juga. Saya malas.

Pak Taufiq datang lalu berkata, ‘Tapi kan ini partai milik keluarga, nggak boleh!’

Susahlah orang itu. Kadang-kadang dia (TK) juga takut sama Mbak Mega. Kalau Mbak Mega ngamuk, ‘Wis, aku ora. Emoh jadi presiden meneh!’ Takut si TK. Nggak jadi apa-apa kan. Akhirnya, TK jadi Ketua MPR zaman SBY. Dia pragmatis, ke mana-mana. SBY nggak suka Mega juga.

Setelah itu, Pak Laks langsung menjauh dari PDI-P atau ada proses lagi?

Saya bilang, ‘Mbak Mega, udahlah saya nggak ikut-ikutan.’ Saya bikin Partai Demokrasi Pembaruan (PDP). Itu sukses. Cuma waktu pemilu banyak kecurangan. Komputer di KPU dimatikan. Terus Antasari mau periksa, dia disikat. Suara kita banyak diambilin.

Demokrat kan dari tujuh persen langsung 20 persen. Setelah itu, balik lagi. Saya juga nggak tahu, kecurangan itu malah terjadi. Makanya, ketika kita ada di tahun politik, degup jantung pergerakan politik itu kita tahu lho. Kemarin di Partai Kebangkitan Nusantara (PKN), saya juga tahu gimana.

Akhirnya, saya nerusin urusan hukum saja aja. Kartu Tanda Anggota (KTA) PDI-P udah lepas. Saya bilang, ‘Ya, saya hati tetap merah, nasionalis, tapi saya punya kemerdekaan berbicara.’

Karena saya nggak mau jadi “Korea” gitu loh. Saya dilahirkan ibu saya susah-susah, kok jadi Korea. Ya, kan? Mengkhianati demokrasi dan rakyat sebenarnya.

Sebagai orang yang pernah dekat dengan Bu Mega, apa kira-kira yang bisa Anda gambarkan tentang sosoknya?

Nggak panjang-panjang. Dia orang nasionalis, mengutamakan kepentingan negara, dan pemberani. Dari segi intelektual, dia lebih seperti Ronald Reagan. Jadi, mesti fully scripted. Pidatonya dulu bagus-bagus. Anda dengar, kan?

Masalah Aceh, contohnya. Tapi giliran nggak di-script, udah ngalor-ngidul gitu. Dulu waktu dia baru-baru muncul, dia percaya banget dengan tim. Saya dan Eros Djarot ada di tim inti. Itu kita berdua ebih banyak mewarnai. Pak Taufiq nggak boleh ikut.

Setelah itu, waduh. Kalau kita bisa bilang, ‘Mbak, ojo ngonoloh Mbak!’ Kita masih bisa ngomong gitu. Kalau sekarang, boro-boro orang berani ngomong. Pada bilang sudah diskusi, sudah apa? Nggaklah, nggak ada itu. Semuanya dulu kan lingkaran jauh. Rapat mungkin di luar. Sekarang, orang nggak tahu alam perjuangannya. Dianggap Megawati sudah jadi ratu, dikultuskan.

Dan dia memang rada klenik banget. Dia percaya—dan pengikutnya percaya—dia bisa berdialog dengan arwah Bung Karno. Iya, betul. Menurut Mega, Harto klenik juga. Dan yang sekarang, kayaknya teman-teman Puan nggak tahu alam perjuangan dulu. Mereka merasa harus mengamankan posisi, jabatan, uang, dan lain sebagainya.

Komentar

Your email address will not be published.

Pengalaman Pengguna Game Penghasil Saldo DANA Lebih Cepat Adaptif Dan Efisien Dibawa Oleh Inovasi Teknologi
Pergeseran Mutu Produksi Kosmetik Terdeteksi Lebih Akurat Berkat Aliran Data Langsung
Pengalaman Pengguna Semakin Responsif Adaptif Dan Efisien Berkat Perkembangan Teknologi Modern
Momentum Tetap Terarah Dan Terkendali Dipertahankan Melalui Taktik Mode Pemburu Sic Bo Live
Keputusan Tetap Terukur Dalam Game Online Dipertahankan Melalui Pengelolaan Modal Cerdas
Kapitalisasi Pasar Dan Inovasi Kasino Online Berubah Di Tengah Disrupsi Teknologi Modern
Strategi Baru Untuk Meningkatkan Keunggulan Kompetitif Dibuka Melalui Business Model Canvas Mahjong Ways
Kualitas Sistem Mahjongways Kasino Online Dipahami Melalui Identifikasi Nilai Pembayaran Game Penghasil Saldo DANA
Perspektif Baru Dalam Menganalisis Perkembangan Mahjong Ways Dibuka Melalui Modernisasi Strategi
Kasino Menjadi Studi Sistem Informasi Bagi Mahasiswa Melalui Pelatihan Enterprise Architecture
Mahjongways Kasino Online Dijadikan Acuan Strategi Marketing dalam Lingkungan Pemerintahan
Keamanan Informasi Jadi Fondasi Utama Layanan Konsultasi Kosmetik Berbasis Teknologi
Teknologi Pemantauan Membantu Mengukur Frekuensi Pembayaran secara Lebih Objektif dan Terukur
Kajian Statistik Pola RTP Menyoroti Perkembangan Teknologi Neural Sintetis Regulatoris
Simulasi Statistik Membuka Pendekatan Baru Memahami Mahjong Game Sungai Penuh secara Terukur
Statistik Objektif Membantu Membaca Pola Mahjong Game Sungai Penuh dengan Lebih Rasional
Strategi Mahjong Game Sungai Penuh Makin Terarah melalui Pendekatan Statistik Modern
Pendekatan Data Objektif Membantu Mengkaji Mahjong Game Saldo DANA Sungai Penuh secara Lebih Terstruktur
Mahjong Game Sungai Penuh Dikaji lewat Simulasi Statistik untuk Membaca Pola Aktivitas
Aturan Mahjong Digital dari Dua Kartu Awal hingga Penentuan Rentang Nilai Game Penghasil Saldo DANA
Pendekatan Adaptif MahjongWays Kasino Online Membantu Menjaga Keseimbangan Anggaran Hiburan
Kemunculan Simbol Unik MahjongWays Kasino Online Perlu Dibaca Secara Lebih Rasional
Mahjong Ways Menarik Minat Pemain di Tengah Ketatnya Persaingan Game Digital
Pengaturan Tempo MahjongWays Kasino Online Tidak Menentukan Munculnya Kombinasi Khusus
Starlight Princess Kembali Merebut Perhatian Pemain MBG Berkat Daya Tariknya
Membaca Pola Mahjong Ways dan Tren Permainan Lewat Data Saldo DANA Terbaru
Disiplin Mental MahjongWays Kasino Online Membantu Mencegah Keputusan Finansial yang Terlalu Impulsif
Mengenal Sweet Bonanza sebagai Game Digital Online dengan Tema Manis yang Menarik
Rotasi Awal MahjongWays Kasino Online Bukan Tolok Ukur Kemurahan Sistem Permainan
Menelusuri Strategi Terbaik dalam Bermain Game Penghasil Saldo DANA Secara Lebih Mendalam
Go toTop

Jangan Lewatkan

Ketika Demokrasi Diperjuangkan: Membaca Indonesia Melalui Autobiografi Erros Djarot

“Sebuah bangsa tidak kehilangan demokrasinya dalam satu malam. Demokrasi mulai

Kudatuli: Sudahkah Bangsa Ini Belajar?

JAKARTA – Setiap tanggal 27 Juli, ingatan bangsa ini kembali
toto slot situs togel situs togel
toto slot
slot88