2 years ago
9 mins read

Laksamana Sukardi (4): Bisikan Berbuah Pemecatan

Politikus Senior Laksamana Sukardi. (Foto: Totalpolitik.com)

Pengadilan Korea Selatan sudah kirim surat ke Hyundai. Kalau sudah jadi (tankernya), tolong diserahkan (ke Karaha Bodas). Jangan dikasih ke Pertamina. Nah, kan ada yang belum lunas juga. Masih cicilan.

Mau diserahkan (tankernya), ‘BPKB-nya’ belum ada. Punya siapa? Nggak tahu. Saya bilang, Pertamina cepat jual dalam kondisi susah seperti itu. Ya, jual dengan lelang internasional. Kan, bisa laku. Untung lagi. Atau kalau kita cuek aja, ya paling diambil. Nggak ribut kan. Saya juga nggak jadi masalah, bener nggak?

Lelang internasional itu berjalan dengan terbuka. Dan akhirnya, Pertamina untung USD 53 juta. Lumayan, daripada diambil nggak dapat apa-apa. Yang udah kita bayar malah hilang. Bisa USD 200 juta hilangnya. Akhirnya, saya nggak tahu. Saya udah selesai (tidak jadi menteri lagi). KPPU keluar.

Dia bikin kerugian di amar putusannya ada USD 13 juta belum dibayar dan dikorupsi oleh saya katanya. Lah, KPPU menentukan kerugian negara adalah akibat persaingan usaha yang timbul. Bukan karena tindak pidana korupsi. Itu beda badan. Undang-undangnya juga beda. Saya yang bikin undang-undang KPPU.

Terus saya dibilang Presiden Komisaris Pertamina, Menteri BUMN harus lapor kepada pemegang saham. Masa dia ikut-ikut urusan perseroan terbatas? Dan dibilang saya tidak lapor ke menteri keuangan. Itu bukan urusan dia. Walaupun Pak Boediono (Menteri Keuangan) juga sudah tanda tangan dulu.

Saya bilang, ‘Pak Boed, ini kalau you nggak tanda tangan, kita serahkan aja, diambil.’

Wah, jangan!’ kata dia

Jadi, mengenai persaingan usaha itu masuk ke ranah Tipikor. Masuk ke ranah izin-izin di perseroan terbatas. Kan undang-undang perseroan terbatas nggak boleh. Misalnya nih, Kompas TV beli SCTV, beli RCTI, kan jadi monopoli.

Nah, sampai di situ oke. Tapi KPPU bilang sah atau nggak sah, ‘karena Direksi Kompas TV waktu beli itu nggak minta izin Jacob Oetama (pemilik Kompas)’. Kan bukan wewenangnya dia. Banyak ngaconya. Tapi memang sudah by design.

Siapa mastermind-nya menurut Pak Laks?

Setelah itu, saya banding dan menang. Di Pengadilan Negeri menang. Nah, di Mahkamah Agung (MA) mendadak kalah. Ada yang pesan gitu. Diumumkan kalah, tapi berkas kita nggak terima. Setelah saya kalah, saya keluar dari PDI. Kasus kalah, PDI-P dan Demokrat bikin pansus. PDI-P yang bego didorong-dorong juga sama Demokrat.

Gayus Lumbuun, Ketua Komisi III, ada di situ. Bambang  Pacul ada di situ. Waktu pansus, saya datang. Tuduhan korupsi dari KPPU, semuanya amar keputusan KPPU, di copy-paste saja sama pansus. Jadi keputusan pansus.

Saya sudah bilang, ini USD 13 juta katanya belum dibayar. Loh kalau saya ambil KPR Anda, masih KPR rumah saya beli. Kan ada sebagian yang belum lunas. Saya bayar yang sudah lunas, tambah berapa sisa yang belum beres, saya bayar ke developer dong.’

Udah dijelasin, bego banget. Malah keputusan pansusnya ada lagi, ‘Dikorupsi Laksamana Sukardi, dan harus dibatalkan karena belum dibayar.’

Bagaimana mana mau dibatalin? Sudah bagus kita bisa jual. Duit sudah masuk negara. Sudah untung kok. Akhirnya, KPK juga panggil saya. KPK periksa-periksa, nggak ketemu. Saya jelasin. KPK lalu dipanggil pansus.

Nggak mungkin (nggak ada korupsi),’ kata si Gayus. ‘Sudah, kita jangan mengagung-agungkan KPK, serahkan ke kejaksaan.’ Akhirnya diambilalih oleh Kejaksaan Agung. Pansus maki-maki saya, pokoknya saya harus masuk penjara.

Saya jadi tersangka di kejaksaan karena tekanan DPR. Sampai 18 bulan saya dicekal. Akhirnya, kita proses Peninjauan Kembali (PK). Di PK, saya menang. Karena nggak ada kerugian negara. Kerugian negara itu harus ditentukan oleh Badan Pemeriksa Keuangan (BPK). Bukan cap-cip-cup gitu aja.

BPK bilang nggak ada kerugian negara, malah diuntungkan USD 53 juta. MA menangin saya. Jelas, nggak ada kerugian negara. Bahkan, negara diuntungkan USD 53 juta. Jelas di putusan MA.

Akhirnya, kejaksaan diganti. Gelar perkara lagi. Panggil KPK, BPK, semua. Emang nggak ada case. Udah gitu pengadilan juga udah menguatkan. Akhirnya, di-SP3. SP3 ini bikin marah Gayus. Suruh balik lagi ke KPK. ‘Suruh tangkap aja Laksamana.’

Akhirnya, saya bebas. Tapi udah menjadi gugur saya berapa tahun. Saya nggak bisa bergerak ke mana-mana. Sementara, kasus Bantuan Likuiditas Bank Indonesia (BLBI) juga terus panggil-panggilin.

BLBI itu SBY (Presiden Susilo Bambang Yudhoyono) mau ngehantam Megawati. Tapi, nggak bisa langsung. Saya yang disikat. Belum urusan BUMN. Saya punya amplop coklat pemanggilan sampai segini banyaknya. Jadi, nggak fair gitu loh. (bersambung)

Komentar

Your email address will not be published.

Pengalaman Pengguna Game Penghasil Saldo DANA Lebih Cepat Adaptif Dan Efisien Dibawa Oleh Inovasi Teknologi
Pergeseran Mutu Produksi Kosmetik Terdeteksi Lebih Akurat Berkat Aliran Data Langsung
Pengalaman Pengguna Semakin Responsif Adaptif Dan Efisien Berkat Perkembangan Teknologi Modern
Momentum Tetap Terarah Dan Terkendali Dipertahankan Melalui Taktik Mode Pemburu Sic Bo Live
Keputusan Tetap Terukur Dalam Game Online Dipertahankan Melalui Pengelolaan Modal Cerdas
Kapitalisasi Pasar Dan Inovasi Kasino Online Berubah Di Tengah Disrupsi Teknologi Modern
Strategi Baru Untuk Meningkatkan Keunggulan Kompetitif Dibuka Melalui Business Model Canvas Mahjong Ways
Kualitas Sistem Mahjongways Kasino Online Dipahami Melalui Identifikasi Nilai Pembayaran Game Penghasil Saldo DANA
Perspektif Baru Dalam Menganalisis Perkembangan Mahjong Ways Dibuka Melalui Modernisasi Strategi
Kasino Menjadi Studi Sistem Informasi Bagi Mahasiswa Melalui Pelatihan Enterprise Architecture
Mahjongways Kasino Online Dijadikan Acuan Strategi Marketing dalam Lingkungan Pemerintahan
Keamanan Informasi Jadi Fondasi Utama Layanan Konsultasi Kosmetik Berbasis Teknologi
Teknologi Pemantauan Membantu Mengukur Frekuensi Pembayaran secara Lebih Objektif dan Terukur
Kajian Statistik Pola RTP Menyoroti Perkembangan Teknologi Neural Sintetis Regulatoris
Simulasi Statistik Membuka Pendekatan Baru Memahami Mahjong Game Sungai Penuh secara Terukur
Statistik Objektif Membantu Membaca Pola Mahjong Game Sungai Penuh dengan Lebih Rasional
Strategi Mahjong Game Sungai Penuh Makin Terarah melalui Pendekatan Statistik Modern
Pendekatan Data Objektif Membantu Mengkaji Mahjong Game Saldo DANA Sungai Penuh secara Lebih Terstruktur
Mahjong Game Sungai Penuh Dikaji lewat Simulasi Statistik untuk Membaca Pola Aktivitas
Aturan Mahjong Digital dari Dua Kartu Awal hingga Penentuan Rentang Nilai Game Penghasil Saldo DANA
Pendekatan Adaptif MahjongWays Kasino Online Membantu Menjaga Keseimbangan Anggaran Hiburan
Kemunculan Simbol Unik MahjongWays Kasino Online Perlu Dibaca Secara Lebih Rasional
Mahjong Ways Menarik Minat Pemain di Tengah Ketatnya Persaingan Game Digital
Pengaturan Tempo MahjongWays Kasino Online Tidak Menentukan Munculnya Kombinasi Khusus
Starlight Princess Kembali Merebut Perhatian Pemain MBG Berkat Daya Tariknya
Membaca Pola Mahjong Ways dan Tren Permainan Lewat Data Saldo DANA Terbaru
Disiplin Mental MahjongWays Kasino Online Membantu Mencegah Keputusan Finansial yang Terlalu Impulsif
Mengenal Sweet Bonanza sebagai Game Digital Online dengan Tema Manis yang Menarik
Rotasi Awal MahjongWays Kasino Online Bukan Tolok Ukur Kemurahan Sistem Permainan
Menelusuri Strategi Terbaik dalam Bermain Game Penghasil Saldo DANA Secara Lebih Mendalam
Go toTop

Jangan Lewatkan

Ketika Demokrasi Diperjuangkan: Membaca Indonesia Melalui Autobiografi Erros Djarot

“Sebuah bangsa tidak kehilangan demokrasinya dalam satu malam. Demokrasi mulai

Kudatuli: Sudahkah Bangsa Ini Belajar?

JAKARTA – Setiap tanggal 27 Juli, ingatan bangsa ini kembali
toto slot situs togel situs togel
toto slot
slot88