JAKARTA – Israel membom kompleks Konsulat Iran di Ibu Kota Suriah, Damaskus, pada Senin (1/4/2024). Serangan tersebut membunuh 7 sampai 13 orang, termasuk dua komandan pasukan elite Iran, Islamic Revolutionary Guards Corps (IRGC).
Dua petinggi militer yang gugur dalam pengeboman itu adalah Mohammad Reza Zahedi dan wakilnya, Mohammad Hadi Hajriahimi.
Petinggi Israel Defense Forces (IDF) mengklaim bangunan yang mereka serang bukanlah gedung sipil yang digunakan sebagai konsulat.
“Berdasarkan intelijen kami, (gedung) ini bukan konsulat dan ini bukan sebuah kedutaan,” kata Juru Bicara (Jubir) IDF Laksamana Muda, Daniel Hagari, kepada CNN.
Alih-alih konsulat, pihak militer Israel percaya tempat yang mereka serang merupakan markas pasukan Quds, bagian dari IRGC yang bertanggungjawab melaksanakan operasi-operasinya di luar perbatasan Iran.
“Ini adalah bangunan militer pasukan Quds yang disamarkan sebagai bangunan sipil di Damaskus,” sambung Hagari.
Adapun Duta Besar Iran untuk Suriah, Hossein Akbari, tidak terluka dalam serangan itu. Ia mengatakan negaranya akan memberikan balasan tegas.
Menteri Luar Negeri (Menlu) Iran, Hossein Amir-Abdollahian, menyalahkan Israel dan mengutuk serangan itu telah melanggar kewajiban-kewajiban dan konvensi-konvensi internasional.
Sementara itu, Menlu Suriah, Faisal Mekdad, menyebut tindakan itu sebagai serangan teroris dari pihak Israel.
“Kami mengutuk serangan teroris mengerikan ini yang menyasar bangunan Konsulat Iran di Damaskus dan membunuh beberapa orang tak bersalah,” tandas Mekdad di kantor berita Suriah, SANA.
Ketua Program Studi Kajian Timur Tengah dan Islam, Yon Machmudi, yakin serangan itu akan mengubah konflik Israel-Palestina jadi konflik yang skalanya lebih besar lagi di tingkat kawasan Timur Tengah.
“Karena yang menjadi target adalah representasi Iran. Kalau sebelumnya, serangan-serangan yang dilakukan itu terhadap milisi-milisi Iran baik yang ada di Suriah, Irak, dan juga di Lebanon. Tetapi yang sekarang ini justru adalah simbol diplomatik Iran,” jelas Yon kepada Totalpolitik.com, Rabu (3/4/2024).
Eskalasi konflik di kawasan Timur Tengah, terutama antara Israel dengan Iran merupakan ancaman yang nyata.
Bukan hanya karena adanya keinginan Iran untuk membalas. Tapi juga karena kemampuan mereka untuk melakukan serangan ke Israel.
Iran memiliki jaringan proxi yang luas di Timur Tengah. Salah satunya yang paling berpengaruh dan kuat adalah kelompok milisi Syiah Hezbollah di Lebanon.
Bahkan sebelum serangan ke Kedutaan Iran di Damaskus awal pekan lalu, Hezbollah sudah menembakkan roket-roket dari selatan Lebanon ke Israel. Serangan itu dilakukan dalam rangka mendukung perjuangan Palestina dalam melawan agresi Israel.
“Kalau perang di Gaza berakhir, kita akan menghentikan serangan kita,” ucap Sekretaris Jenderal (Sekjen) Hezbollah, Hassan Nasrallah, pertengahan bulan Februari lalu.
Sebagai balasannya, Israel telah melaksanakan operasi militer terhadap sasaran-sasaran Hezbollah di dalam perbatasan Lebanon.
Kini, Hezbollah di Suriah telah menyatakan bahwa serangan Israel di Damaskus tidak akan dibiarkan begitu saja.
“Kejahatan ini jelas tidak akan dibiarkan begitu saja tanpa adanya hukuman dan balas dendam kepada pihak musuh,” ujar kelompok itu.
Yon menilai bukannya Israel tidak memahami konsekuensi dari tindakan mereka, tetapi serangan itu malah disengaja untuk memprovokasi Iran.
“Dengan harapan jika seandainya Iran melakukan serangan balasan, maka Amerika yang menjadikan Iran itu sebagai musuh di kawasan Timur Tengah diharapkan masuk dalam kancah perang,” kata Yon.
Selain itu, Yon juga menilai Israel ingin mendorong agar negara-negara Arab lainnya terlibat dalam konflik. Sehingga, masalahnya menjadi semakin kompleks.
“Bisa dengan harapan negara-negara Arab yang lainnya mau berhadapan dengan Iran,” sambung Yon.
Yon juga mengkhawatirkan peristiwa serangan ini tidak hanya akan mengubah konflik Israel-Palestina jadi konflik kawasan Timur Tengah, tetapi juga konflik internasional.
“Kita tahu di balik Iran itu ada Rusia dan Cina. Pasti Rusia dan Cina tidak akan tinggal diam apabila kemudian ada serangan yang lebih besar terhadap kedaulatan Iran,” tandas Yon.* (Bayu Muhammad)
