MADINAH – Menjadi petugas haji bukan sekadar tugas bagi Aghny Mauludi Raharjo, tapi panggilan jiwa. Sebuah kehormatan yang tak pernah ia bayangkan sebelumnya: menjejakkan kaki di Tanah Haram, lalu mengabdikan diri untuk melayani tamu-tamu Allah.
Sebagai bagian dari Media Center Haji (MCH) 2026 Daerah Kerja Madinah, Aghny datang ke Tanah Suci membawa debar yang tak biasa sejak keberangkatan. Di balik semangat besar untuk melayani jemaah, tersimpan kegelisahan yang sempat menghinggapi dirinya sebelum berangkat.
Ia merasa bukan orang yang paling alim. Bukan pula sosok dengan pemahaman agama yang mendalam. Namun justru dari perasaan kecil itulah, ia belajar tentang kepasrahan.
“Menjadi petugas haji adalah kehormatan dan kebanggaan tak ternilai bagi saya,” tutur jurnalis BTV tersebut.
Ada rasa gamang saat pertama kali mendapat amanah itu. Tetapi keinginan untuk memuliakan duyufur rahman—para tamu Allah—perlahan mengalahkan keraguan yang selama ini bersarang di hatinya.
Ia pun membulatkan tekad. Datang bukan hanya sebagai jurnalis yang meliput aktivitas haji, melainkan sebagai pelayan sepenuh hati bagi jemaah Indonesia. Dan perjalanan spiritual itu benar-benar dimulai ketika dirinya berdiri tepat di hadapan Ka’bah.
Bersimpuh di depan Ka’bah
Momen umrah wajib menjadi titik yang tak akan pernah ia lupakan seumur hidup. Begitu mata memandang Baitullah secara langsung, tubuhnya seakan kehilangan daya. Air mata mengalir tanpa bisa dibendung. Semua dosa, kesalahan, luka batin, dan penyesalan hidup mendadak menyeruak bersamaan.
Di tengah lautan manusia yang thawaf mengelilingi Ka’bah, Aghny bersimpuh penuh haru. “Saya tak peduli tatapan orang sekitar,” ucapnya.
Yang ia rasakan saat itu hanyalah dirinya yang begitu kecil di hadapan Allah. Semua beban hidup yang selama ini terasa berat seakan luruh di depan kiblat umat Islam tersebut.
Sejak saat itu, Tanah Haram bukan lagi sekadar tempat ibadah baginya. Tetapi ruang untuk mengenali diri sendiri.
Hari-hari berikutnya dipenuhi kesibukan sebagai petugas haji. Meliput kedatangan jemaah gelombang pertama di Madinah, mengawal pelayanan, sekaligus membantu jemaah lansia.
Di satu sore yang melelahkan, tubuhnya benar-benar kehabisan tenaga. Dahaga tak tertahankan. Ia akhirnya membeli segelas ashir (jus) mangga untuk sekadar memulihkan tenaga.
Ketika minuman itu belum sempat ia nikmati. Matanya tertuju pada seorang nenek lansia yang kesulitan turun dari bus. Tanpa banyak berpikir, ia langsung mendekat. Meminta izin kepada sesama petugas dan sang nenek untuk membantunya turun.
“Entah kekuatan apa yang mendorong saya,” kenangnya.
Ia lalu menggendong sang nenek menuju kursi roda. Ajaibnya, rasa lelah dan haus yang sejak tadi menggerogoti tubuhnya seakan hilang seketika. Ia merasa Allah memberi tenaga yang tak pernah ia bayangkan sebelumnya.
Di momen itu, ia mulai memahami bahwa melayani jemaah bukan hanya pekerjaan teknis. Tetapi juga ibadah yang diam-diam menguatkan jiwa.

