Tentang sepasang sandal
Pengalaman spiritual lain datang dari peristiwa sederhana: kehilangan sepasang sandal. Saat meliput kajian Ustadz Ariful Bahri—salah satu ustadz dari Indonesia yang diizinkan mengisi kajian di Masjid Nabawi—di sekitar Pintu 19 Masjid Nabawi, sandal khusus umrah pemberian kawannya terjatuh di tengah arus besar jemaah yang keluar masjid.
Ia tak mampu melawan arus manusia. Sandalnya hilang. Awalnya ia mencoba ikhlas. Tetapi di dalam hatinya, muncul keyakinan aneh bahwa sandal itu akan kembali.
Dua hari kemudian, ia kembali ke Masjid Nabawi selepas Isya. Suasana lebih lengang dibanding sebelumnya. Tanpa alasan yang jelas, langkahnya justru kembali menuju lokasi kajian tempat sandalnya hilang.
Dan di situlah ia dibuat tertegun. Sepasang sandal itu tersimpan rapi di rak sepatu. “Subhanallah,” ucapnya lirih saat mengenang kejadian tersebut.
Air matanya kembali jatuh. Bukan semata karena menemukan sandal yang hilang, melainkan karena merasa Allah mengabulkan doa sederhana yang bahkan nyaris tak masuk akal.
Di Tanah Haram, ia merasa Allah berkali-kali menunjukkan bahwa tak ada doa yang terlalu kecil untuk didengar.
Kakek yang tak melihat dunia
Namun kisah yang paling membekas dalam batinnya justru datang dari seorang jemaah tuna netra asal Yogyakarta bernama Mbah Sardjo.
Awalnya, ia bersama dua rekannya diminta mendampingi Mbah Sardjo menuju Masjid Nabawi untuk mengikuti kajian Ustadz Ariful Bahri.
Saat bertemu kembali, Mbah Sardjo tiba-tiba mengenali dirinya hanya dari suara. “Ini yang kemarin menyambut saya di hotel ya?” tanya sang lansia.
Aghny terdiam. Matanya kembali basah. Di usia senja dan dengan keterbatasan penglihatan, Mbah Sardjo justru memiliki ketajaman hati yang membuatnya terpukul sekaligus kagum.
Dan kejutan belum berhenti di situ. Ketika kajian berlangsung, Mbah Sardjo mendapat tempat duduk yang sangat dekat dengan sang ustadz. Hanya terpisah satu shaf. Seolah Allah sendiri sedang memuliakan tamu-Nya.
Usai kajian, Aghny mengantar Mbah Sardjo kembali ke hotel. Di perjalanan itulah sang lansia mulai bercerita tentang hidupnya. Tentang matanya yang tak lagi mampu melihat dunia. Tentang pilihannya menggunakan sisa hidup untuk berhaji ketimbang berobat.
“Berhaji ini adalah bentuk ibadah puncak saya sebagai penghambaan terhadap Allah,” tutur Mbah Sardjo. “Sebagai bentuk kepatuhan atas perintah-Nya dan penyerahan diri saya di ujung usia.”
Kalimat itu menghantam batin Aghny begitu dalam. Di hadapan seorang lansia tuna netra yang begitu pasrah kepada Allah, ia merasa selama ini dirinya terlalu sibuk mengukur ibadah dengan standar dunia.
Pelajaran di Tanah Haram
Tanah Haram akhirnya mengajarkan satu hal penting baginya: ibadah bukan tentang siapa yang paling sempurna. Bukan tentang siapa yang paling merasa suci. Tetapi tentang kejujuran hati saat datang kepada Allah.
Aghny menyadari, sering kali manusia—termasuk dirinya—membuat agama terasa rumit. Padahal yang dibutuhkan hanyalah kepasrahan dan ketulusan untuk membuka hati menerima hidayah-Nya.
Dari pengalaman sebagai petugas haji yang menurutnya “belum seberapa” itu, ia belajar tentang kecilnya manusia di hadapan Sang Pencipta. “Kalau Allah sudah berkehendak, tidak ada yang mustahil,” ujarnya.
Tanah Haram mengubah cara pandangnya terhadap hidup. Membuatnya ingin menjadi pribadi yang lebih zuhud, lebih sederhana, dan lebih dekat kepada Allah. Dan semua pengalaman itu kini ia simpan sebagai wasilah—pengingat spiritual untuk dirinya dan keluarganya agar terus mendekat kepada-Nya.
“Lalu apa yang perlu saya sombongkan?” ucapnya pelan.
Sebuah pertanyaan sederhana yang justru menjadi inti dari seluruh perjalanan spiritualnya di Tanah Suci.*
