MADINAH – Di tengah padatnya arus jemaah haji Indonesia di Bandara Jeddah dan Madinah, ada sosok yang akrab dipanggil “Iwan Bonex”. Seorang petugas haji yang telah berkali-kali melayani tamu Allah di kawasan bandara; baik Madinah maupun Jeddah. Ia hampir tiap tahun menjadi anggota Petugas Penyelenggara Ibadah Haji (PPIH) Arab Saudi.
Pria bernama asli Irwan Syarief itu hingga kini telah bertugas sebanyak 17 kali di Tanah Suci. Sebagian besar tugasnya adalah di Daerah Kerja (Daker) Bandara. Namun tahun 2026 ini, Irwan mendapat tugas di Sektor Bir Ali Daker Madinah.
Bagi Irwan, tugas melayani jemaah bukan sekadar pekerjaan teknis. Ada haru, air mata, kelelahan, bahkan pelajaran hidup yang terus ia bawa pulang ke Tanah Air.
“Ketika pertama kali mendapatkan amanah menjadi PPIH Arab Saudi, sungguh tidak terbayang bisa menginjakkan kaki di Arab Saudi dan melihat langsung Ka’bah yang selama ini saya lihat di televisi,” tuturnya.
Saat bertugas di bagian transportasi Daker Bandara, tugas utama Irwan adalah menyiapkan bus untuk mobilisasi jemaah, baik menuju hotel di Madinah maupun ke Makkah setelah berkoordinasi dengan pihak naqabah(otoritas perhubungan Arab Saudi).
Pekerjaan itu terdengar sederhana. Namun di lapangan, semuanya menuntut kecepatan, kesabaran, dan ketahanan fisik luar biasa.
“Kami harus selalu siap siaga dan sigap ketika melayani jemaah. Kalau ada jeda waktu agak longgar, baru bisa istirahat sebentar,” katanya.
Para petugas bekerja dengan sistem shift. Setelah pergantian tugas, mereka biasanya hanya memiliki waktu sekitar lima sampai enam jam untuk memulihkan tenaga di hotel atau pondokan sebelum kembali bertugas keesokan harinya.
Uang 35 riyal
Namun, di balik rutinitas yang melelahkan itu, Irwan menyimpan banyak kisah yang membekas di hati. Salah satu momen paling mengharukan terjadi ketika ia membantu seorang jemaah korban kecelakaan crane (tahun 2015) yang mengalami patah kaki dan tangan.
Saat itu, Irwan mendampingi jemaah tersebut turun dari bus, menuju ruang X-ray di klinik bandara hingga ke pesawat. Di ruang tunggu, jemaah itu tiba-tiba menyodorkan uang 35 riyal kepadanya.
“Saya terima, lalu saya balik badan sambil meneteskan air mata. Dalam kondisi fisik seperti itu, beliau masih ingin memberi,” kenangnya.
Irwan kemudian mengembalikan uang tersebut sambil berkata bahwa sedekah itu lebih baik diberikan kepada yang membutuhkan atau dimasukkan ke kotak amal masjid di kampung halaman sang jemaah. “Di situ saya benar-benar tersentuh.”
Momen lain yang tak kalah membekas adalah ketika ia harus menggendong jemaah lansia. “Kalau menggendong jemaah lansia, saya jadi teringat orang tua sendiri. Saya berpikir mungkin ketika orang tua saya berhaji juga dibantu petugas seperti kami,” ucapnya.
Dari sekian banyak jemaah yang pernah ia layani, ada satu sosok yang sulit ia lupakan: seorang jemaah asal Bangkalan, Madura, berusia 125 tahun.
Irwan membantu lansia itu selama proses pelayanan haji. Kedekatan mereka tumbuh begitu cepat hingga sang jemaah menganggap Irwan sebagai cucunya sendiri.
“Beliau bilang, ‘Kamu orang baik, mau membantu jemaah haji. Kamu sudah saya anggap cucu sendiri. Nanti saya tunggu di Bangkalan, bawa juga anak istri kamu’,” cerita Irwan.
Ucapan itu ternyata bukan basa-basi. Sepulang dari Arab Saudi, Irwan benar-benar menyempatkan diri berkunjung ke rumah jemaah tersebut di Bangkalan.
“Alhamdulillah saya datang ke tempat beliau,” ujarnya.

