Senyum yang membahagiakan
Bagi Irwan, senyum jemaah saat hendak pulang ke Indonesia adalah pemandangan paling membahagiakan. Yang paling membekas baginya adalah melihat senyuman para dhuyufur rahman ketika lepas landas menuju Tanah Air.
Di tengah kepadatan tugas, sapaan sederhana kepada jemaah sering menjadi penguat bagi para petugas.
“Kami biasa menyapa, ‘Semoga menjadi haji mabrur’. Lalu mereka mengamini dan mendoakan kami sehat selalu dalam melayani tamu Allah,” tuturnya.
Meski begitu, tugas sebagai petugas haji bukan tanpa tantangan. Salah satu kendala terbesar adalah perbedaan bahasa dan karakter jemaah dari berbagai daerah.
“Yang paling sulit itu kendala bahasa, terutama dari kloter Lombok. Tapi kami tidak kehilangan akal. Biasanya kami panggil ketua kloter atau karom (kepala rombongan) agar jemaah mau mengikuti arahan,” jelasnya.
Kelelahan fisik pun menjadi makanan sehari-hari. Bahkan Irwan pernah jatuh sakit hingga harus dirawat di Klinik Kesehatan Haji Indonesia (KKHI).
“Titik paling lelah itu ketika badan drop sampai dirawat. Tapi semangat melayani tamu Allah menghilangkan semua kelelahan,” katanya.
Ia juga kerap menghadapi jemaah lansia yang tersesat di area Masjidil Haram. Jika menemukan jemaah seperti itu, Irwan dan tim akan langsung mengantar ke hotel atau melakukan estafet dengan sektor terdekat.
“Untuk jemaah sakit, kami harus sabar dan terus memberi semangat agar tetap kuat menjalani ibadah hajinya,” ujarnya.
Suami istri yang hilang
Di balik berbagai tekanan itu, ada pula kisah-kisah lucu yang menjadi penyegar suasana. Suatu hari, sepasang suami istri terpisah di area bandara. Irwan dan tim sibuk mencari sang istri hingga ke berbagai titik, termasuk toilet.
“Setelah ketemu dan diantar ke bus, ternyata suaminya malah hilang juga. Jadilah kami mencari lagi suaminya,” katanya sambil tertawa.
Namun ada satu peristiwa dramatis yang tak pernah ia lupakan: badai debu besar di Bandara Jeddah pada 2015.
Saat itu, jarak pandang hanya sekitar satu sampai dua meter. Para jemaah baru saja keluar dari gate ketika badai datang menerjang.
“Kami menuntun jemaah menuju bus atau kembali ke gate dengan berjalan meraba-raba pakai senter HP,” kenangnya.
Di tengah kerasnya tugas, Irwan mengaku sering menangis diam-diam. Terutama ketika harus melayani jemaah berkebutuhan khusus atau saat berdoa di depan Multazam dan Raudhah. Sebab, kata dia, di Multazam dan Raudhah pasti semua orang menangis.
Ia juga pernah terharu melihat jemaah dari negara lain membawa anak mereka berhaji. “Saya sampai meneteskan air mata dan ingin juga membawa anak istri ke Tanah Suci,” ujarnya.
Bertugas selama berbulan-bulan di Tanah Suci, dan berpisah dengan keluarga sekian lama, tentu saja memantik rindu yang cukup berat. Dan bagi Irwan, kerinduan terbesar selama bertugas ternyata sangat sederhana. “Yang paling dirindukan itu masakan ibu dan masakan istri,” katanya sambil tertawa kecil.
Dari belasan kali menjadi petugas haji, Irwan merasa ada banyak pelajaran hidup yang ia dapatkan. Pelajaran terbesarnya adalah manusia itu makhluk kecil di hadapan Allah. Karenanya, tak perlu bersikap jemawa atau congkak.
Pengalaman melayani jemaah di Tanah Suci juga membuat cara pandangnya terhadap ibadah berubah. Setelah melayani jemaah, Irwan mengaku jadi lebih taat. Bagi Irwan, menjadi petugas haji bukan hanya soal menjalankan tugas negara, tetapi juga bagian dari ibadah itu sendiri.
Ia memegang teguh motto yang pernah disampaikan Direktur Bina Haji, Khoirizi, bahwa petugas itu ibadah untuk bertugas, bukan bertugas untuk ibadah. Kalimat itu, menurut Irwan, menjadi pegangan seluruh petugas haji Indonesia di Arab Saudi.
“Artinya kami beribadah dalam melayani tamu Allah, karena memang itu tugas kami,” tutupnya.*
