MOSKOW — Gencatan senjata tiga hari yang diumumkan Presiden Amerika Serikat Donald Trump tampaknya belum mampu meredam panasnya perang Rusia-Ukraina. Alih-alih senyap, dentuman drone dan artileri masih terdengar di sejumlah wilayah Ukraina hanya sehari setelah kesepakatan itu berlaku pada 9 Mei lalu.
Sedikitnya tiga orang dilaporkan tewas dalam 24 jam terakhir akibat serangan Rusia di wilayah Zaporizhia, Dnipropetrovsk, dan Kherson. Korban sipil kembali berjatuhan di tengah klaim kedua pihak yang sama-sama menuding lawannya melanggar kesepakatan jeda perang.
Di Kherson, seorang perempuan berusia 58 tahun tewas setelah terkena serangan drone Rusia di Desa Nezlamne pada 9 Mei. Kantor Kejaksaan Oblast Kherson menyebut korban diserang saat berada di area jalanan desa tersebut.
Gubernur Kherson Oleksandr Prokudin mengatakan korban terkena serangan ketika sedang berjalan di jalan. Dalam pernyataannya di Telegram, ia juga menyebut tujuh warga lain, termasuk seorang anak-anak, mengalami luka-luka akibat serangan drone dan artileri sejak Sabtu dini hari.
Situasi serupa terjadi di wilayah tenggara Zaporizhia. Gubernur Ivan Fedorov melaporkan satu orang tewas dan tiga lainnya terluka akibat rentetan serangan drone dan artileri Rusia dalam sehari terakhir.
Sementara di Kharkiv, wilayah timur laut Ukraina yang sejak awal perang menjadi salah satu titik panas konflik, delapan orang dilaporkan terluka. Dua di antaranya merupakan anak-anak.
Gubernur Kharkiv Oleh Syniehubov mengatakan serangan drone menghantam Kota Kharkiv dan sejumlah permukiman di sekitarnya.
Korban jiwa juga jatuh di wilayah Dnipropetrovsk. Gubernur Oleksandr Hanza menyebut seorang perempuan berusia 46 tahun tewas dan satu orang lainnya terluka di komunitas Mezhivska dekat Kota Synelnykove pada Sabtu. Sehari berselang, seorang anak kembali menjadi korban luka di wilayah yang sama.
Meski serangan masih berlangsung, intensitas serangan udara Rusia disebut sedikit menurun dibanding beberapa hari terakhir. Angkatan udara Kyiv menyatakan Rusia meluncurkan 27 drone jarak jauh pada Sabtu malam dan seluruhnya berhasil dicegat sistem pertahanan udara Ukraina.
Namun, perang di garis depan belum benar-benar melambat. Dalam laporan pagi hariannya, Staf Umum Ukraina mencatat sedikitnya 147 bentrokan terjadi di berbagai titik front pertempuran dalam 24 jam terakhir.
Moskow tuding Kyiv langgar kesepakatan
Di tengah situasi yang masih memanas, Rusia balik menuduh Ukraina sebagai pihak yang terlebih dahulu melanggar gencatan senjata.
Kementerian Pertahanan Rusia pada Minggu mengklaim Ukraina telah melakukan lebih dari 1.000 pelanggaran dengan meluncurkan serangan drone dan artileri terhadap posisi pasukan Rusia maupun sasaran sipil.
Menurut Moskow, serangan terjadi di Semenanjung Krimea yang dianeksasi Rusia, serta wilayah Belgorod, Kursk, Kaluga, Rostov, hingga Krasnodar. Pasukan Rusia juga mengklaim berhasil menembak jatuh 57 drone Ukraina.
“Meski gencatan senjata telah diumumkan, formasi bersenjata Ukraina tetap melakukan serangan menggunakan kendaraan udara nirawak dan artileri terhadap posisi pasukan kami, serta sasaran sipil,” kata Kementerian Pertahanan Rusia.
Militer Rusia, lanjut kementerian itu, telah “membalas dengan setimpal”. Di wilayah Kherson yang diduduki Rusia, dua orang dilaporkan terluka akibat serangan penembakan Ukraina. Informasi itu disampaikan Vladimir Saldo, pejabat yang ditunjuk Moskow untuk memimpin wilayah tersebut.
Hingga kini, belum ada tanda-tanda gencatan senjata benar-benar dipatuhi kedua belah pihak. Di lapangan, perang masih terus berjalan—dan warga sipil kembali menjadi korban di tengah tarik-menarik klaim Moskow dan Kyiv.*
