MADINAH – Di kehidupan sehari-hari, Abdul Azis hanyalah lelaki biasa. Pagi hari ia mengantar anak sekolah. Siang hingga malam bekerja mencari nafkah. Sesekali ia juga merasa penat, marah, bahkan mengeluh seperti kepala keluarga lain pada umumnya. Tidak ada yang benar-benar istimewa.
Tetapi hidup sering membawa seseorang ke tempat yang tak pernah dibayangkan sebelumnya.
Kini, lelaki yang sehari-hari bekerja sebagai jurnalis di Tirto.id itu berdiri di depan Ka’bah. Menjadi bagian dari operasional haji Indonesia 2026 di Tanah Suci. Melayani ribuan jemaah yang datang dari berbagai penjuru negeri.
Ia bertugas sebagai tim peliput haji yang tergabung dalam Media Center Haji (MCH) Daerah Kerja (Daker Makkah). Dan di Kota Suci itu, Azis merasa sedang belajar menjadi manusia yang lebih baik.
Ketenangan tak tepermanai
Saat pertama kali tiba di pelataran Masjidil Haram, Azis mengaku hanya merasakan satu hal: ketenangan yang sulit dijelaskan dengan kata-kata.
“Tak menyangka bisa sampai Baitullah dengan jalan istiqamah lewat pekerjaan sebagai jurnalis,” tuturnya.
Di tengah lautan manusia yang thawaf tanpa henti, semua persoalan hidup yang selama ini memenuhi kepalanya terasa mendadak mengecil. Beban ekonomi, kecemasan masa depan, hingga berbagai persoalan rumah tangga seakan luruh begitu saja.
Ia hanya bisa berdoa agar seluruh urusan hidupnya dimudahkan. Momen paling membekas itu datang beberapa detik kemudian. Saat pertama kali melihat Ka’bah. Azis mengaku sempat berhenti berjalan. Tubuhnya seperti terpaku. Ada rasa tak percaya yang tiba-tiba memenuhi dadanya.
“Ka’bah yang selama ini saya lihat hanya di sajadah, sekarang ada di depan mata dan nyata. Bukan mimpi,” ucapnya.
Bangunan yang selama ini hanya hadir di gambar, televisi, dan doa-doa selepas shalat, kini berdiri begitu dekat di hadapannya. Dan untuk beberapa saat, ia hanya terpaku: diam.
Impian seorang ayah
Bagi Azis, hidupnya sebenarnya jauh dari kata mewah. Ia menjalani rutinitas sederhana seperti kebanyakan orang Indonesia. Bekerja untuk keluarga, mengurus anak-anak, dan berusaha bertahan menghadapi kebutuhan hidup yang terus bertambah.
“Keseharian saya sama seperti orang lain. Cari nafkah, antar anak sekolah,” ujarnya.
Kadang kala, ia juga merasa sumpek di rumah. Ada rasa lelah yang datang diam-diam setelah menghadapi pekerjaan dan tanggung jawab sebagai kepala keluarga.
Namun dari semua rutinitas itu, ada satu harapan yang terus ia simpan: menjadi ayah yang lebih baik bagi anak-anaknya.
“Harapannya setelah pulang nanti makin lebih baik dan bisa jadi ayah yang membanggakan bagi anak-anak,” katanya.
Azis sendiri mengaku tak tahu pasti mengapa dirinya bisa sampai menjadi petugas haji. Tetapi ia merasa ada satu prinsip hidup yang selama ini selalu ia pegang: berusaha bermanfaat bagi orang lain.
Menurutnya, doa orang tua juga menjadi salah satu hal yang paling berpengaruh dalam hidupnya.
Prinsip itu yang membuatnya tidak pernah menolak ketika dipercaya masyarakat menjadi Ketua Rumah Tangga (RT) di lingkungannya. Meski pekerjaan sosial sering melelahkan dan menyita waktu, ia memilih menjalaninya dengan ikhlas. “Saya berusaha membantu tanpa pamrih,” prinsipnya.
Antara atas dan bawah
Azis sadar hidupnya belum benar-benar mapan. Ia bahkan terang-terangan mengaku kadang merasa iri melihat teman-teman seangkatannya yang sudah memiliki mobil dan kehidupan lebih berkecukupan.
“Kalau melihat ke atas tentu kita tidak pernah puas. Tapi kalau melihat ke bawah, rasa syukur harus selalu dikedepankan,” tuturnya.
Meski begitu, ia merasa kehidupannya saat ini sudah cukup untuk hidup sederhana bersama keluarga.
Soal ibadah, Azis juga tidak menempatkan dirinya sebagai sosok yang sempurna. Ia mengaku dirinya bukan orang yang selalu kuat menjaga disiplin ibadah. Bahkan saat di rumah, ia masih sering kesiangan shalat Subuh.
“Kalau soal kuat, selalu kuat. Cuma kadang di rumah shalat Subuh sering kesiangan,” katanya sambil tertawa kecil.
Namun berada di Tanah Suci membuatnya ingin berubah. Ia berharap bisa menjaga kedisiplinan ibadah seperti saat mengikuti diklat petugas haji di Asrama Haji Pondok Gede maupun selama berada di Makkah.

